"Gimana? Bagus tidak?"
"Perfect!!" Aku memandang Laura dengan mata berbinar. Mata Kenan memang selalu bagus dalam segala hal.
Laura tersenyum senang mendengar komentarku. Dia sedang mencoba gaun yang ia beli dengan Kenan di butik milik sepupu si seksi siang tadi. Seharusnya mereka pergi kemarin, tapi karena Laura ada kencan mendadak dengan Tio, jadi mereka baru sempat pergi hari ini.
Dan karena hari ini aku dipingit, aku tidak bisa ikut dengan mereka. Ah, menyebalkan sekali. Mereka bersenang-senang seharian dan aku hanya bisa meratapi nasib di kamar.
Siang tadi bibi meluluri badanku dengan ramuan khusus yang aku tidak tahu apa namanya. Tapi aku suka wanginya. Katanya, itu lulur herbal tradisional dari nenek. Nenek adalah ibu dari ibuku.
Nenek merupakan sosok yang cerdas, mandiri, dan ulet. Beliau gemar meracik ramuan herbal sendiri sejak usia muda. Hingga kegemaran itu membuahkan hasil yang luar biasa untuk menunjang kehidupan nenek sebagai seorang janda. Nenek menjadi pengusaha ramuan herbal yang sukses. Beliau memiliki pabrik, rumah produksi untuk membantu ibu rumah tangga disekitar, dan pertokoan.
Kata ibu, kakek meninggal ketika ibu masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dengan keadaan ekonomi yang kurang baik dan 6 orang anak yang butuh diperjuangkan, nenek mulai serius menjadikan kegemaran beliau sebagai mata pencaharian utama. Lalu Tuhan memberikan kejutan yang luar biasa. Rejeki nenek tidak pernah berhenti mengalir. Bahkan beliau sanggup membiayai 6 orang anak untuk mendapatkan gelar sarjana. Aku yakin, kakek pasti tersenyum bangga di atas sana.
Prinsip nenek hanya satu.
"Sukses membutuhkan waktu, usaha, doa, dan keajegan berbagi yang luar biasa."
Aku tersenyum. Ah, aku jadi merindukan nenek. Kapan nenek datang?
Laura menyenggol lenganku.
"Ngelamun aja ih. Apa gaun ini benar-benar cocok untukku?"
Aku mengangguk beberapa kali untuk meyakinkannya. Laura selalu begitu. Ia butuh seseorang yang bisa membuatnya yakin dalam segala keputusan belanja. Tapi gaun itu memang sempurna untuk Laura. Potongannya jatuh dengan sangat pas di badannya. Seolah gaun itu dirancang khusus untuknya.
Dia lalu menghampiri koleksi sepatuku. Mengambil salah satu high heel berwarna silver -hadiah dari uti tahun lalu- dan memakainya. Lalu mematut dirinya di depan kaca kamarku yang setinggi orang dewasa. Dia merapihkan rambutnya dengan tangan dan memutar badan.
Dia tersenyum puas.
"Kenan jago ya milihnya." Laura menatapku dari kaca.
Aku tertawa dan mengangguk mengamini kalimatnya. Kenan memang tidak pernah salah dalam memilih sesuatu. Ibu dan ayah pun mengakui itu.
***
Hpku bergetar dan berbunyi.
Incoming call: "Seksi Sialan"
Bibirku melongo melihatnya. Apa dia merindukanku? Aku tersenyum malu. Ada perasaan bahagia yang membuncah dalam dadaku. Aku segera menerima panggilan itu dengan senyum yang semakin lebar.
Telingaku langsung dimanjakan dengan deheman si seksi di seberang sana. Astaga dehemannya saja sudah berhasil membuatku berdebar!
"Aku sudah menghubungi sepupuku. Apa Laura menemukan gaun yang cocok?"
Senyumku hilang seketika.
Aku memasang wajah datar. Sialan!
Aku mendengus kesal. Dia pasti mendengar itu.
"Tidak bisakah kau sedikit berbasa-basi?"
"Jawab saja pertanyaanku." Seperti biasa, suara baritonnya selalu berhasil mendominasi.
Aku memanyunkan bibir. Aku benci padanya!
"Iya. Gaun yang bagus. Dan dia baru saja pulang dari sini."
Hening sejenak.
"Baiklah. Aku tutup dulu."
Mulutku membulat. Demi apa? Dia menelponku hanya untuk itu? Bertanya tentang Laura lalu mengakhirinya? Tidak bisa kupercaya! Ini sungguh menyebalkan.
"Woah! Kau menelponku hanya untuk bertanya tentang Laura?"
Tanpa sadar aku menyuarakan protes yang barusan bergejolak di otakku.
"Kau cemburu pada sahabatmu?"
Mukaku memerah. Tentu saja tidak! Dia gila?
"Kau tidak ingin bertanya tentangku?"
Da*n! Apa aku baru saja merajuk padanya? Aku segera menggigit bibir setelah menyadari kebodohanku.
"Bukankah kau hanya duduk manis di rumah seharian sampai minggu depan?"
Iya! Aku hanya di rumah seharian!
Dasar menyebalkan!!! Dia pikir gara-gara siapa aku dipingit seperti ini? Tidak bisakah dia sedikit berpura-pura menghiburku? Aku sudah bosan setengah mati hari ini.
"Kau tidak ingin tahu apa yang kulakukan seharian?"
"Aku masih punya beberapa dokumen yang harus kupelajari. Kuhubungi lagi nanti."
Panggilan berakhir.
Argh! Kenapa manusia seperti itu ada di muka bumi? Aku melempar spongebob ke atas ranjang lalu menindihnya.
***
Hpku berbunyi. Volumenya yang tinggi terdengar sangat berisik di telingaku. Mengganggu sekali! Mataku mengerjap. Aku menggeliat dan menguap.
Hpku masih berbunyi. Sepertinya dia tidak akan menyerah. Segera kuterima panggilan itu tanpa melihat siapa penelponnya.
"Halo?"
Suaraku terdengar parau. Aku yakin si penelpon pasti tahu kalau dia baru saja membangunkanku dari tidur.
Si penelpon berdehem. Mataku terbuka seketika. Itu si seksi!!!
"Ingin melanjutkan tidurmu?" Sapanya. Suaranya terdengar lebih lembut kali ini.
"No, it's okay."
Aku menguap lagi. Berusaha mengumpulkan nyawa yang tadi melayang-layang. Lalu segera membenarkan posisiku. Menumpuk bantal di kepala ranjang dan duduk dengan punggung bersandar disana.
"Masih ingin melanjutkan omelanmu?"
Aku berdehem.
"No, thanks."
Aku memang sudah tidak bergairah untuk melanjutkan omelanku padanya. Energiku sudah terserap banyak karena menganiaya spongebob sebelum tertidur tadi.
"Kau terdengar lelah."
"Ya. Aku lelah setengah mati setelah menindas spongebob tadi."
Aku menguap lagi.
"Kau menindasnya ketika kesal padaku?"
Mataku membulat. Sial! Aku bicara apa tadi?
"Umm.. itu.. aku.."
Da*n it!
Bodoh sekali kau, Kin! Apa yang harus kukatakan? Baiklah, mari kita alihkan pembicaraan!
"Sudah selesai dengan dokumen-dokumenmu?"
Aku harap dia tidak mengejar topik penganiayaan spongebob tadi.
Aku melirik pintu kamar yang masih terbuka. Dengan enggan aku berjalan ke sana. Sebelum menutup pintu, aku memanjangkan leherku untuk melihat keadaan bawah. Sepi sekali. Kemana semua orang? Aku melirik jam dinding di kamarku. 23:07.
Pasti ayah dan ibu sudah tidur. Lalu Kenan?
"Ya. Aku baru saja sampai di rumah."
Dia terdengar lelah. Aku mengernyit mendengar jawabannya.
"Kau selalu pulang selarut ini?"
Aku berjalan ke arah kamar Kenan yang berada tepat di sebelah kamarku. Membuka pintunya perlahan. Kosong. Kemana kunyuk satu itu? Apa dia belum pulang sejak mengantar Laura tadi?
"Tidak setelah menikah nanti."
Mau tak mau aku tersenyum juga mendengar jawabannya barusan. Mukaku memanas. Tiba-tiba aku membayangkan dia pulang lebih awal setiap hari karena tidak tahan menahan rindu dan ingin segera bermesraan denganku. Astaga, kenapa aku mesum sekali!!!
Tapi entah mengapa, kebahagiaanku terasa begitu murah bila berhadapan dengannya. Tanpa usaha berlebih, dia selalu bisa menjungkirbalikkan moodku. Bahkan hanya dengan deheman atau perkataannya yang sesederhana itu saja, aku bisa langsung merona bahagia.
'Hei! Dia bahkan tidak merayu atau menyentuhmu, Kin!' Sisi genitku mulai beraksi.
Aku segera kembali ke kamar dan menutup pintu.
"Apa yang kau lakukan seharian ini?" Tanyanya membuyarkan percakapanku dengan diri sendiri.
Aku tersenyum senang.
Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya, suara baritonnya sudah menyapaku lagi.
"Kau ingin aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu?"
Senyumku hilang seketika. Sialan!
Apa barusan dia bertanya hanya untuk menggodaku?
Aku segera merebahkan diri di atas ranjang. Dan memanyunkan bibir. Aku merasa seperti diangkat tinggi lalu dihempaskan begitu saja.
"Tidak bisakah kau berhenti membuatku kesal?"
Aku mendengar suara dengusan disana. Apa dia terkekeh barusan? Atau mengejekku?
Well, aku tidak ingin spongebob jadi pelampiasanku lagi. Jadi mari berdamai dan bersabar pada si seksi!.
"Ingin mencoba sebuah permainan? Aku akan mengajukan dua hal secara random dan kau hanya harus memilih salah satunya. Tanpa perlu menjelaskan apapun padaku."
"Apa aku punya pilihan untuk berkata 'tidak'?"
Aku menggeleng. Setelah tersadar bahwa dia tidak bisa melihatku, aku segera berkata tegas.
"Tidak."
Aku terkekeh dalam hati. Let's talk all night long, seksi sialan!
"Ready? Let's start with 'menye-menye' thing first. Beauty or sexy?"
"Both."
"Pick one, mister!"
"Sexy."
Aku menyeringai.
"Sexy or smart?"
"Smart."
"Kenapa?"
"You said I didn't have to explain anything, right? Keep asking."
Aku memanyunkan bibir.
"Books or movies?"
"Both."
"Hei!"
"Books."
"Coffee or tea?"
"Milk."
"Seriously? Haha. Are you sure?"
"M~hm."
"Okay. Smoking or snacking?"
"Snacking."
"Writing or reading?"
"Reading."
"Living room or bathroom?"
"Bathroom."
"Pantai atau gunung?"
"Gunung."
"Pemaaf atau pendendam?"
"Pemaaf."
"Hawaii or Maldives?"
"Maldives."
"Panjang atau pendek?"
"Panjang."
"Atap atau lantai?"
"Atap."
"Panas atau dingin?"
"Dingin."
"Pedas atau manis?"
"Tawar."
"Astaga, menikmati hidup tidak sesusah itu, kau tahu?"
"Whatever, queen."
Aku tersenyum.
"Minuman berwarna atau air putih?"
"Air putih."
"Still or sparkle?"
"Still."
"Wah, kau benar-benar sehat ya. Haha. Tahu atau tempe?"
"Tahu."
"Daging atau kulit?"
"Daging."
"Great!! Aku tidak perlu berebut kulit ayam kfc denganmu. Okay next, green or red?"
"Red."
"Red or white?"
"White."
"White or black?"
"White."
"White or blue?"
"White."
"Angelina Jolie or Megan Fox?"
"Cameroon Diaz."
Aku tersenyum lagi. Apa dia sedang memujiku? Ya ampun, Kin! Percaya diri sekali kau!
Aku berdehem.
"Hei, tidak ada Cameroon Diaz disana, tuan!"
"Megan Fox, then."
"Vin Diesel in Fast and Furious or Jason Statham in The Transporter?"
"Jason Statham."
Dan kami pun larut dalam permainan yang aku ciptakan hingga lewat tengah malam. Sesekali aku tertawa karena jawabannya yang tak terduga. One thing for sure. Aku bahagia. Terima kasih, Tuhan. Telah Engkau ciptakan makhluk se-seksi, lucu, dan sehat itu untukku. I am the happiest bride to be ever! ^^