Thursday, May 12, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 13)

"Gimana? Bagus tidak?"

"Perfect!!" Aku memandang Laura dengan mata berbinar. Mata Kenan memang selalu bagus dalam segala hal.

Laura tersenyum senang mendengar komentarku. Dia sedang mencoba gaun yang ia beli dengan Kenan di butik milik sepupu si seksi siang tadi. Seharusnya mereka pergi kemarin, tapi karena Laura ada kencan mendadak dengan Tio, jadi mereka baru sempat pergi hari ini.

Dan karena hari ini aku dipingit, aku tidak bisa ikut dengan mereka. Ah, menyebalkan sekali. Mereka bersenang-senang seharian dan aku hanya bisa meratapi nasib di kamar.

Siang tadi bibi meluluri badanku dengan ramuan khusus yang aku tidak tahu apa namanya. Tapi aku suka wanginya. Katanya, itu lulur herbal tradisional dari nenek. Nenek adalah ibu dari ibuku.

Nenek merupakan sosok yang cerdas, mandiri, dan ulet. Beliau gemar meracik ramuan herbal sendiri sejak usia muda. Hingga kegemaran itu membuahkan hasil yang luar biasa untuk menunjang kehidupan nenek sebagai seorang janda. Nenek menjadi pengusaha ramuan herbal yang sukses. Beliau memiliki pabrik, rumah produksi untuk membantu ibu rumah tangga disekitar, dan pertokoan.

Kata ibu, kakek meninggal ketika ibu masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dengan keadaan ekonomi yang kurang baik dan 6 orang anak yang butuh diperjuangkan, nenek mulai serius menjadikan kegemaran beliau sebagai mata pencaharian utama. Lalu Tuhan memberikan kejutan yang luar biasa. Rejeki nenek tidak pernah berhenti mengalir. Bahkan beliau sanggup membiayai 6 orang anak untuk mendapatkan gelar sarjana. Aku yakin, kakek pasti tersenyum bangga di atas sana.

Prinsip nenek hanya satu.
"Sukses membutuhkan waktu, usaha, doa, dan keajegan berbagi yang luar biasa."

Aku tersenyum. Ah, aku jadi merindukan nenek. Kapan nenek datang?

Laura menyenggol lenganku.

"Ngelamun aja ih. Apa gaun ini benar-benar cocok untukku?"

Aku mengangguk beberapa kali untuk meyakinkannya. Laura selalu begitu. Ia butuh seseorang yang bisa membuatnya yakin dalam segala keputusan belanja. Tapi gaun itu memang sempurna untuk Laura. Potongannya jatuh dengan sangat pas di badannya. Seolah gaun itu dirancang khusus untuknya.

Dia lalu menghampiri koleksi sepatuku. Mengambil salah satu high heel berwarna silver -hadiah dari uti tahun lalu- dan memakainya. Lalu mematut dirinya di depan kaca kamarku yang setinggi orang dewasa. Dia merapihkan rambutnya dengan tangan dan memutar badan.

Dia tersenyum puas.

"Kenan jago ya milihnya." Laura menatapku dari kaca.

Aku tertawa dan mengangguk mengamini kalimatnya. Kenan memang tidak pernah salah dalam memilih sesuatu. Ibu dan ayah pun mengakui itu.

***

Hpku bergetar dan berbunyi.

Incoming call: "Seksi Sialan"

Bibirku melongo melihatnya. Apa dia merindukanku? Aku tersenyum malu. Ada perasaan bahagia yang membuncah dalam dadaku. Aku segera menerima panggilan itu dengan senyum yang semakin lebar.

Telingaku langsung dimanjakan dengan deheman si seksi di seberang sana. Astaga dehemannya saja sudah berhasil membuatku berdebar!

"Aku sudah menghubungi sepupuku. Apa Laura menemukan gaun yang cocok?"

Senyumku hilang seketika.

Aku memasang wajah datar. Sialan!

Aku mendengus kesal. Dia pasti mendengar itu.

"Tidak bisakah kau sedikit berbasa-basi?"

"Jawab saja pertanyaanku." Seperti biasa, suara baritonnya selalu berhasil mendominasi.

Aku memanyunkan bibir. Aku benci padanya!

"Iya. Gaun yang bagus. Dan dia baru saja pulang dari sini."

Hening sejenak.

"Baiklah. Aku tutup dulu."

Mulutku membulat. Demi apa? Dia menelponku hanya untuk itu? Bertanya tentang Laura lalu mengakhirinya? Tidak bisa kupercaya! Ini sungguh menyebalkan.

"Woah! Kau menelponku hanya untuk bertanya tentang Laura?"

Tanpa sadar aku menyuarakan protes yang barusan bergejolak di otakku.

"Kau cemburu pada sahabatmu?"

Mukaku memerah. Tentu saja tidak! Dia gila?

"Kau tidak ingin bertanya tentangku?"

Da*n! Apa aku baru saja merajuk padanya? Aku segera menggigit bibir setelah menyadari kebodohanku.

"Bukankah kau hanya duduk manis di rumah seharian sampai minggu depan?"

Iya! Aku hanya di rumah seharian!

Dasar menyebalkan!!! Dia pikir gara-gara siapa aku dipingit seperti ini? Tidak bisakah dia sedikit berpura-pura menghiburku? Aku sudah bosan setengah mati hari ini.

"Kau tidak ingin tahu apa yang kulakukan seharian?"

"Aku masih punya beberapa dokumen yang harus kupelajari. Kuhubungi lagi nanti."

Panggilan berakhir.

Argh! Kenapa manusia seperti itu ada di muka bumi? Aku melempar spongebob ke atas ranjang lalu menindihnya.

***

Hpku berbunyi. Volumenya yang tinggi terdengar sangat berisik di telingaku. Mengganggu sekali! Mataku mengerjap. Aku menggeliat dan menguap.

Hpku masih berbunyi. Sepertinya dia tidak akan menyerah. Segera kuterima panggilan itu tanpa melihat siapa penelponnya.

"Halo?"

Suaraku terdengar parau. Aku yakin si penelpon pasti tahu kalau dia baru saja membangunkanku dari tidur.

Si penelpon berdehem. Mataku terbuka seketika. Itu si seksi!!!

"Ingin melanjutkan tidurmu?" Sapanya. Suaranya terdengar lebih lembut kali ini.

"No, it's okay."

Aku menguap lagi. Berusaha mengumpulkan nyawa yang tadi melayang-layang. Lalu segera membenarkan posisiku. Menumpuk bantal di kepala ranjang dan duduk dengan punggung bersandar disana.

"Masih ingin melanjutkan omelanmu?"

Aku berdehem.

"No, thanks."

Aku memang sudah tidak bergairah untuk melanjutkan omelanku padanya. Energiku sudah terserap banyak karena menganiaya spongebob sebelum tertidur tadi.

"Kau terdengar lelah."

"Ya. Aku lelah setengah mati setelah menindas spongebob tadi."

Aku menguap lagi.

"Kau menindasnya ketika kesal padaku?"

Mataku membulat. Sial! Aku bicara apa tadi?

"Umm.. itu.. aku.."

Da*n it!
Bodoh sekali kau, Kin! Apa yang harus kukatakan? Baiklah, mari kita alihkan pembicaraan!

"Sudah selesai dengan dokumen-dokumenmu?"

Aku harap dia tidak mengejar topik penganiayaan spongebob tadi.

Aku melirik pintu kamar yang masih terbuka. Dengan enggan aku berjalan ke sana. Sebelum menutup pintu, aku memanjangkan leherku untuk melihat keadaan bawah. Sepi sekali. Kemana semua orang? Aku melirik jam dinding di kamarku. 23:07.

Pasti ayah dan ibu sudah tidur. Lalu Kenan?

"Ya. Aku baru saja sampai di rumah."

Dia terdengar lelah. Aku mengernyit mendengar jawabannya.

"Kau selalu pulang selarut ini?"

Aku berjalan ke arah kamar Kenan yang berada tepat di sebelah kamarku. Membuka pintunya perlahan. Kosong. Kemana kunyuk satu itu? Apa dia belum pulang sejak mengantar Laura tadi?

"Tidak setelah menikah nanti."

Mau tak mau aku tersenyum juga mendengar jawabannya barusan. Mukaku memanas. Tiba-tiba aku membayangkan dia pulang lebih awal setiap hari karena tidak tahan menahan rindu dan ingin segera bermesraan denganku. Astaga, kenapa aku mesum sekali!!!

Tapi entah mengapa, kebahagiaanku terasa begitu murah bila berhadapan dengannya. Tanpa usaha berlebih, dia selalu bisa menjungkirbalikkan moodku. Bahkan hanya dengan deheman atau perkataannya yang sesederhana itu saja, aku bisa langsung merona bahagia.

'Hei! Dia bahkan tidak merayu atau menyentuhmu, Kin!' Sisi genitku mulai beraksi.

Aku segera kembali ke kamar dan menutup pintu.

"Apa yang kau lakukan seharian ini?" Tanyanya membuyarkan percakapanku dengan diri sendiri.

Aku tersenyum senang.

Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya, suara baritonnya sudah menyapaku lagi.

"Kau ingin aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu?"

Senyumku hilang seketika. Sialan!

Apa barusan dia bertanya hanya untuk menggodaku?

Aku segera merebahkan diri di atas ranjang. Dan memanyunkan bibir. Aku merasa seperti diangkat tinggi lalu dihempaskan begitu saja.

"Tidak bisakah kau berhenti membuatku kesal?"

Aku mendengar suara dengusan disana. Apa dia terkekeh barusan? Atau mengejekku?

Well, aku tidak ingin spongebob jadi pelampiasanku lagi. Jadi mari berdamai dan bersabar pada si seksi!.

"Ingin mencoba sebuah permainan? Aku akan mengajukan dua hal secara random dan kau hanya harus memilih salah satunya. Tanpa perlu menjelaskan apapun padaku."

"Apa aku punya pilihan untuk berkata 'tidak'?"

Aku menggeleng. Setelah tersadar bahwa dia tidak bisa melihatku, aku segera berkata tegas.

"Tidak."

Aku terkekeh dalam hati. Let's talk all night long, seksi sialan!

"Ready? Let's start with 'menye-menye' thing first. Beauty or sexy?"

"Both."

"Pick one, mister!"

"Sexy."

Aku menyeringai.

"Sexy or smart?"

"Smart."

"Kenapa?"

"You said I didn't have to explain anything, right? Keep asking."

Aku memanyunkan bibir.

"Books or movies?"

"Both."

"Hei!"

"Books."

"Coffee or tea?"

"Milk."

"Seriously? Haha. Are you sure?"

"M~hm."

"Okay. Smoking or snacking?"

"Snacking."

"Writing or reading?"

"Reading."

"Living room or bathroom?"

"Bathroom."

"Pantai atau gunung?"

"Gunung."

"Pemaaf atau pendendam?"

"Pemaaf."

"Hawaii or Maldives?"

"Maldives."

"Panjang atau pendek?"

"Panjang."

"Atap atau lantai?"

"Atap."

"Panas atau dingin?"

"Dingin."

"Pedas atau manis?"

"Tawar."

"Astaga, menikmati hidup tidak sesusah itu, kau tahu?"

"Whatever, queen."

Aku tersenyum.

"Minuman berwarna atau air putih?"

"Air putih."

"Still or sparkle?"

"Still."

"Wah, kau benar-benar sehat ya. Haha. Tahu atau tempe?"

"Tahu."

"Daging atau kulit?"

"Daging."

"Great!! Aku tidak perlu berebut kulit ayam kfc denganmu. Okay next, green or red?"

"Red."

"Red or white?"

"White."

"White or black?"

"White."

"White or blue?"

"White."

"Angelina Jolie or Megan Fox?"

"Cameroon Diaz."

Aku tersenyum lagi. Apa dia sedang memujiku? Ya ampun, Kin! Percaya diri sekali kau!

Aku berdehem.

"Hei, tidak ada Cameroon Diaz disana, tuan!"

"Megan Fox, then."

"Vin Diesel in Fast and Furious or Jason Statham in The Transporter?"

"Jason Statham."

Dan kami pun larut dalam permainan yang aku ciptakan hingga lewat tengah malam. Sesekali aku tertawa karena jawabannya yang tak terduga. One thing for sure. Aku bahagia. Terima kasih, Tuhan. Telah Engkau ciptakan makhluk se-seksi, lucu, dan sehat itu untukku. I am the happiest bride to be ever! ^^

Friday, April 22, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 12)

Kinan is baaaaaack!

Hello everyone!! Setelah sekian lama aku di skip, akhirnya sekarang muncul juga. Fiuh.

Setelah kemarin lusa aku mengadakan double date bersama Laura dan Ken yang kuculik secara paksa lalu kemarin aku dan si seksi pergi mengunjungi anak-anak dan tante Okta, ibu bilang aku harus menjalani prosesi pingitan. Iya, sebuah proses menyebalkan dimana aku tidak diperbolehkan untuk pergi kemanapun dan bertemu dengan si seksi sampai hari itu tiba. Hari pernikahan kami.

Apa bagusnya dipingit? Aku tidak bisa bertemu anak-anak, tante Okta, dan sebenarnya yang paling penting adalah aku tidak bisa bertemu dengan si seksi! Iya. Si seksi itu membuatku gila. Walaupun kami baru saja bertemu kemarin, tapi aku sudah merindukannya. Gara-gara pingitan ini, aku tidak bisa melihatnya dalam balutan kemeja yang digulung sampai batas siku. Aku tidak bisa melihat jakunnya yang selalu naik-turun ketika bicara hingga membuatku hilang fokus. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang selalu berhasil membuat wajahku terasa panas walaupun dia tidak berbuat apapun padaku. Dan aku tidak bisa melihat tubuh seksinya yang selalu membuatku berpikiran mesum. See? Jadi tolong katakan padaku, apa bagusnya prosesi pingitan? Tidak ada bukan?! Argh, I'm so dead!

Pingitan ini sungguh tidak lucu! Tidak ada bagusnya! Tidak ada manfaatnya!

Aku bergulung-gulung di atas ranjang. Apa yang harus kulakukan hari ini? Aku memeluk spongebob dengan erat. Lalu mengangkatnya ke udara. Mencubit pipinya, mengelus wajahnya.

"Spongebob, aku rindu pada si seksi." Ucapku dengan wajah memelas. Lalu memeluknya lagi. Tuhan, tidak bisakah kita skip saja prosesi ini? Baiklah, ini adalah hal kedua yang kubenci setelah adegan 'membawa nampan' dalam dunia perjodohan.

Aku ingin sekali dia tahu kalau aku rindu. Aku penasaran, dia sedang apa. Apa dia merindukanku juga? Apa dia ingin bertemu denganku juga? Apa dia benci dengan pingitan ini juga? Apa dia merasakan hal yang sama? Ah, aku lelah dengan pikiranku sendiri.

Tapi bagiku, harga diri adalah segalanya. Harga diri adalah hal yang sangat penting untuk kujunjung. Dan selama mengenalnya, aku tidak pernah mendahului untuk menghubunginya. Aku tidak pernah memulai sebuah percakapan pada papan chat kami. Dan aku merasa bangga akan hal itu.

'Well done! Kamu terhormat, Kin.' Aku tersenyum pada diriku sendiri.

Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa lepas. Terbahak-bahak dengan sangat puas. Aku segera menoleh ke arah pintu kamarku yang sejak tadi terbuka. Kenan berdiri disana. Aku mengerutkan kening. Sejak kapan dia disitu?

Dia terpingkal-pingkal dan sesekali menyusut air matanya. Ada apa dengan kunyuk satu itu?

Setelah dia bisa mengendalikan tawanya, dia berkata sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarku.

"Jadi gitu ya kalo cewek lagi kasmaran? Kangen tapi dipendem? Sebentar mau nangis, tapi sebentar lagi senyum-senyum? Menyeramkan!" Dia menyipitkan matanya, alisnya tampak menyatu. Lalu menggelengkan kepala. Dan tertawa lagi.

Sial! Jadi daritadi dia mengintipku? Menyebalkan! Aku segera beranjak dan berlari ke arahnya. Menyadari bahwa dia sedang dalam masalah, dia segera berlari secepat kilat menuruni anak tangga. Menuju dapur. Aku melihat ibu dan bibi sedang sibuk menyiapkan sarapan. Curang! Pasti dia akan meminta ibu untuk menyelamatkannya.

Dia segera sembunyi dibalik punggung ibu. Padahal ibu hanya setinggi pundaknya. Dasar bodoh!

Iya, Ken memang cukup tinggi. Rambutnya kecoklatan sepertiku. Kami sangat mewarisi ayah dan uti. Dari segi fisik, orang-orang akan langsung tahu bahwa kami setengah bule. Uti mempunyai darah Jerman, dan ayah mewarisinya. Sementara ibu adalah wanita Jawa tulen. Dengan paras ayu khas Jawa. Kulit langsat dan bersih.

Sejak kecil kami selalu dididik ibu agar bersikap selayaknya orang Jawa. Sopan dan ramah. Terkadang berbicara dengan bahasa Jawa yang halus pula. Sementara dengan ayah, kami selalu diajarkan untuk mandiri. Kerja sambilan, berusaha sebisa mungkin untuk tidak bergantung pada uang ayah dan ibu. Juga menerapkan percakapan sehari-hari dengan bahasa Jerman dan Inggris sampai tingkat Sekolah Menengah Atas.

Jadi, kami berbicara dalam 4 bahasa di dalam rumah. Jerman, Inggris, bahasa Indonesia, dan Jawa. Tapi entah mengapa ayah mulai berhenti berbicara bahasa Jerman dan Inggris ketika kami mulai memasuki bangku kuliah.

Okay, kembali pada Kenan.

Aku bersungut-sungut menatapnya. Ken tertawa puas. Lalu menjulurkan lidahnya. Aku segera berbalik dan kembali ke kamarku. Aku tahu Ken akan mengejarku kali ini. Setelah itu, aku bisa menindasnya di kamar. Tunggu saja pembalasanku, nak.

Aku merebahkan diri diatas ranjang. Memeluk spongebob dengan erat. Bagaimana ini? Aku ingin sekali chatting dengan si seksi. Tuhanku semesta alaaam! Aku rindu padanya!

Tanganku gatal sekali. Apa aku benar-benar harus melakukannya? Aku menghela nafas. Lalu mulai meraih hp disebelahku, mengangkatnya ke udara. Kubuka papan chat kami. Dan mulai menulis sesuatu.

Me:
"Haii"

Delete delete delete.

'Tidak, Kin! Kau tidak boleh melakukannya!' Aku menggeleng-geleng.

Tapi aku rinduuu. Bagaimana ini?

Ah, biarlah, toh aku calon istrinya. Statusku lebih tinggi dari sekedar pacar bukan?

Aku berpikir keras, apa yang harus aku bincangkan? Aku segera mengetik sesuatu lagi.

Me:
"Lagi apa?"

Delete delete delete.

Tidakk! Harga diri adalah segalanya. Syukurlah kalimat-kalimat bodoh tadi sudah aku hapus. Aku tidak mengirim apapun. Kenapa aku kacau begini? Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Tiba-tiba hpku bergetar dan berbunyi. Aku yang sedang melamun terkejut seketika. Hpku jatuh menimpa wajah.

Awwww! Sial!

Aku mengelus wajahku pelan. Sambil meringis kesakitan.

Siapa sih yang menelpon? Mengagetkan saja!

Aku segera meraih hpku.

Incoming call: "Seksi Sialan"

Mataku membulat. Lalu mengerjap beberapa kali. Apa dia benar-benar bisa membaca pikiran atau semacamnya?

Aku segera menerima panggilannya.

"Halo?" Sapaku ragu.

".... " Hening.

Aku menjauhkan hpku dari telinga lalu menatapnya. Memeriksa panggilan itu. Masih tersambung. Kenapa tidak ada jawaban?

"Haloo?" Ulangku sekali lagi. Mungkin dia salah pencet.

"Ada apa?" Suara baritonnya menyapa telingaku. Aduhai, seksi sekali. Aku tersenyum dengan muka memanas. God, bahkan suaranya saja sudah bisa membuat mukaku memerah.

"Ada apa? Apa maksudmu?" Aku mengulangi pertanyaannya dengan mengerutkan kening.

"Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakan sesuatu."

Panggilan terputus.

Aku menatap hp dengan mulut terbuka. Ya Tuhan, dia benar-benar mengakhiri panggilannya seenak hati. Aku baru saja tersenyum senang lalu sekarang dia harus membuatku kesal? Yang benar saja!!!

Woah, aku benar-benar ingin mencekik lehernya sekarang. Jadi untuk apa dia menelponku tadi? Dasar makhluk ciptaan Tuhan paling seksi yang menyebalkan! Tunggu saja pembasalanku.

"Hahahaha! Bibirnya dikondisikan please!"

Aku menoleh ke arah pintu. Kenan terbahak-bahak disana. Sialan! Bibirku semakin manyun karena melihat tingkahnya.

Aku segera berjalan ke arah pintu kamar  lalu menutupnya. Mengusir Kenan agar menjauh dariku. Setidaknya untuk hari ini saja.

"Sarapan!!! Ditungguin ayah-ibu, jelek!!!"

Teriaknya dari balik pintu kamar. Aku mendesah. Baiklah, sepertinya aku benar-benar harus melihat mukanya lagi. Aku mulai mencepol rambutku lalu membuka pintu. Kenan tersenyum lebar disana.

Dia serta merta merangkulku, merapihkan anak-anak rambutku yang berantakan, lalu membawaku berjalan beriringan menuruni tangga menuju ruang makan.

Tuesday, April 19, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 11)

(Still) Kenan's PoV

Kinan menoleh ke belakang. Kulihat ia tertawa geli melihatku bersungut-sungut memanyunkan bibir. Sial! Kalau saja aku tahu mereka akan membawaku kesini, aku pasti menolak dari awal. Kulebarkan mataku bulat-bulat agar dia tahu aku sedang kesal. Bahkan aku yakin tatapanku terlihat seolah akan menelannya hidup-hidup. Iya, mereka mengajakku ke mall. Padahal Kinan sangat paham tentang itu. Bahwa aku tidak suka mall. Bahwa aku lebih suka tempat-tempat outdoor seperti hutan, pantai, gunung, dan hal-hal yang berbau alam lainnya.

Tapi kenapa sore ini dia harus menculikku kesini? Bahkan untuk menggantikan Tio? Cih, sialan!

Rencana awal Kinan sore ini adalah double date. Kinan kencan dengan Abimanyu, Laura kencan dengan Tio. Namun karena lelaki yang telah berhasil membuat Laura tergila-gila itu sedang ada turnamen basket, jadi Kinan menculikku untuk menemani Laura.

Dia menoleh padaku lagi. Dan tertawa.

"Dih, udah dong manyunnya. Gurat-gurat gantengnya kececeran tuh. Hahaha." Bisa-bisanya dia menggodaku di saat seperti ini! Laura ikut tertawa.

"Tau nih, senyum please!!" Laura menggelayut manja di lenganku dengan memperlihatkan puppy eyes-nya. Jika Laura sudah mengeluarkan jurus pamungkasnya itu, maka aku dan Kinan tidak akan pernah bisa menolak apapun permintaannya.

Kutatap mata Laura sambil mengepalkan tangan. Lalu perlahan mukaku membaik. Ketampananku kembali. Dan bibirku menyusut ke tempat semula.

'Da*n, she's so cute!!'

***

Kinan dan Abimanyu sedang mengantri untuk memesan tiket. Antriannya panjang mengular. Kalau aku jadi mereka, aku pasti memilih untuk pulang saja. Aku tidak suka mengantri terlalu panjang seperti itu.

Iya, mereka mengajakku dan Laura untuk menonton film di bioskop. Kenapa tidak nonton berdua saja sih?

Aku melihat ke arah Kinan dan Abimanyu. Mereka tampak mengobrol. Sepertinya dia sudah mulai menyukai Abimanyu. Mata kinan selalu menginginkan lelaki itu walaupun bibirnya berkata lain. Aku yakin Abimanyu pasti juga tahu akan hal itu. God, kenapa kakakku sangat mudah dibaca?!

Aku dan Laura menunggu mereka sambil duduk.

"Aku mau beli popcorn dan minuman." Laura berdiri dan menatapku.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku tahu, tidak adil rasanya kalau Laura harus menjadi sasaran kekesalanku dengan memanyunkan bibirku sepanjang sore ini.

"Pengen sesuatu?" Tanyanya sambil membalas senyumku.

Aku menggeleng.

"Oke." Laura segera beranjak menjauh.

Tanpa kusadari, Laura sudah duduk kembali di sampingku dan menyodorkan popcorn. Tangannya terlihat penuh. Aku segera membantunya.

"Masih bete ya?" Tanya Laura. Dia memiringkan kepalanya untuk menatapku lebih dekat. Aku bisa mencium wangi shamponya. Rambutnya jatuh mengikuti gerakan kepalanya dengan begitu indah.

"Udah engga kok. Puppy eyes sialan tadi merusak urat-urat bete milikku."

Laura tertawa sambil memukul gemas dadaku dengan sebelah tangannya. Lalu ia lanjutkan dengan mengacak rambutku penuh sayang. Mukanya terasa dekat dengan mukaku. Matanya ikut tersenyum seperti bibirnya. Cantik sekali. Rasa bete karena diculik ke mall yang tadi memenuhiku sudah luluh lantah sejak melihat puppy eyes-nya. Hilang sudah. Entah kemana. Entah mengapa. Aku pun tak tahu.

"Kamu nih, bisa aja ngelesnya!" Laura tertawa lagi. Aku tersenyum menanggapi kalimatnya.

"Kepalaku pusing. Gini bentar ya." Tiba-tiba Laura menyandarkan kepalanya di bahuku. Matanya terpejam. Tangannya memeluk kotak popcorn.

Aku menatapnya khawatir.

"Kamu sakit?"

Dia hanya menggeleng. Sambil tersenyum.

"Beritahu aku kalau mereka sudah selesai ya." Ia mendongak menatapku.

Aku mengangguk.

Bahuku kembali disapa oleh pelipisnya.

"Ah, ini nyaman sekali." Lirihnya sambil tersenyum.

***

"Bagus tidak?" Kinan bergerak memutar di depan Abimanyu. Ia menatap flat shoe berwarna gold yang ia coba.

"Bagus." Kata Abimanyu singkat. Aku yang duduk disebelahnya mengangguk mengamini. Sepatu itu memang terlihat sangat cantik di kaki Kinan.

Kinan lalu tersenyum senang.

"Okay! You guys are awesome!" Ia segera berbalik untuk mencari mangsa lain. Ia terlihat sangat bahagia.

Aku terkekeh melihat tingkah Kinan.

"Dia sering mengajakmu seperti ini?" Tanyaku pada Abimanyu.

"Tidak. Ini pertama kalinya kami pergi ke mall, nonton bioskop, dan belanja bersama." 

Benarkah? Lalu apa yang mereka lakukan sebulan ini untuk pendekatan?

Sebelah bibirku terangkat ke atas. Dia tidak seburuk yang kubayangkan. Aku pikir dia om-om direktur mesum yang hanya tergiur oleh fisik Kinan saja. Ternyata dia muda, mapan, dan sopan. Aku belum pernah melihatnya menyentuh Kinan sedikitpun sejak tadi. Baguslah, setidaknya kakakku tidak menikah dengan lelaki brengs*k. Walaupun wajahnya selalu terlihat datar, tidak pernah menampakkan ekspresi apapun. Tapi entah kenapa aku yakin satu hal. He's a good man. Dan Kinan akan baik-baik saja bersamanya.

Setelah acara nonton tadi, kami pergi makan, lalu berakhir seperti ini. Para gadis berhenti untuk berbelanja. Aku dan Abimanyu hanya mengikuti kemanapun mereka berjalan.

Kinan kembali dengan dua kantong berisi sepatu. Senyumnya mengembang.

"Done! Kita susulin Laura, yuk!"

Ia membawa kami keluar dari toko sepatu dan berjalan menuju butik baju milik salah satu designer lokal kenamaan. Aku mengedarkan pandangan. Koleksinya hanya terbatas pada baju-baju formal saja. Tapi pilihannya cukup lengkap. Penataannya pun rapih. Di sebelah kanan digunakan untuk baju wanita dan di sebelah kiri terhampar banyak baju pria.

"Kalian mau mencoba sesuatu?" Tanya Kinan sambil mengangkat alisnya.

Aku dan Abimanyu menggeleng kecil.

Kinan tertawa melihat kami.

"Oke, kita tunggu Laura sebentar ya. Dia lagi cobain baju." Kinan segera duduk di sofa kecil yang disediakan didekat kamar pas. Aku dan Abimanyu mengikutinya.

Tidak lama setelah itu, Laura keluar dari sana. Aku terpana. Dia sangat cantik. Dia mengenakan gaun panjang tanpa lengan, pas badan, berwarna hitam. Di bagian bawah leher, ada semacam batu-batu kecil -yang aku tidak tahu namanya- berkilauan,  tertata rapih, memberikan kesan manis. Ketika dia berputar, lekuk tubuhnya terlihat sangat sempurna.

"Apa aku terlihat baik-baik saja memakai ini?" Tanyanya sedikit ragu.

Dia bukan hanya baik-baik saja! Dia sangat cantik memakai itu! Aku ingin mengucapkan itu didepannya. Tapi aku berakhir dengan kalimat bodoh.

"I love black." Aku mengerutkan kening? Aku bilang apa tadi?

Kinan dan Abimanyu menatapku. Kinan lalu tertawa.

"Maksudku, kau terlihat baik-baik saja dengan warna itu." Aku membenarkan kalimatku. Bahkan kalimat itu masih terasa salah bukan? Laura tertawa.

"Omong kosong! Kamu terlihat cantik sekali memakai gaun itu!" Kinan menatapnya dengan mata berbinar. Itu maksudkuu!!

"Benarkah?" Laura berputar lagi di depan kami. Walaupun gaun itu sederhana dan simpel, tidak tahu mengapa, Laura sangat cocok memakainya.

Kinan dan aku mengangguk.

Namun ketika dia melangkah, kaki kanannya terlihat sampai batas setengah paha. Kulitnya begitu kontras dengan gaun hitam itu. Kaki polosnya sangat mulus menggoda. Aku melotot, menelan ludah. Belahan gaunnya setinggi itu?? Aku bisa gila melihatnya.

"Laura!" Laura sontak berhenti dan menatapku.

"Gaun itu jelek! Cari yang lain saja. Aku temani besok."

Laura dan Kinan mengerutkan kening menatapku.

"Beberapa menit yang lalu kamu bilang aku baik-baik saja dengan ini. Kenapa sekarang jadi jelek?"

Mati!! Aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku bilang bahwa aku tidak rela pahanya dilihat orang lain bukan?

"Kau ingin semua orang melihat paha mulusmu?" Tembak Abimanyu terus terang. Mukanya datar, tanpa ekspresi.

Kinan terkejut dan menatap Abimanyu seketika. Mataku pun membulat mendengar perkataan Abimanyu. Terus terang sekali dia!

Tapi kalau dipikir-pikir ada bagusnya juga dia berkata seperti itu. Aku menghela nafas lega. Bagus!! Aku harap Laura mengurungkan niatnya untuk membeli gaun itu.

Laura segera menunduk untuk menatap bagian bawah gaun itu, lalu memerah seketika. Ia segera merapatkan kakinya dan menutup belahan bagian atas gaun itu dengan tangan. Meski sebenarnya tanpa dia tutupi pun, belahan itu akan otomatis menyatu ketika kakinya merapat.

Kinan memanyunkan bibir ke arah Abimanyu.

"Aku punya sepupu seorang designer, koleksinya lumayan banyak. Kau dan Ken bisa pergi ke butiknya besok. Aku jamin kau akan betah disana." Tambah Abimanyu ketika semua orang, termasuk aku, terdiam karena kalimatnya tadi.

Laura mengangguk dan menatap Kinan.

"Kinan, besok ikut ya." Kata Laura lirih, masih dengan wajah yang sedikit merah.

Kinan menjawabnya dengan anggukan. Lalu tersenyum.

"Kau lupa besok kita harus mengunjungi anak-anak dan tante Okta?" Pertanyaan Abimanyu membuat Kinan menatap Laura dengan pandangan menyesal.

"Oia aku lupa. Aku sudah ada janji. Kau tidak apa-apa kan pergi berdua saja dengan Ken?"

Laura mengangguk kecil.

"Baiklah. Tapi temani aku sebentar ke kamar pas ya. Aku butuh sedikit bantuan."

Kinan segera beranjak mengekori Laura ke kamar pas. Setelah mereka menghilang, Abimanyu membuka mulut.

"Like her that much, eh?" Dia menepuk bahuku. Sial! Apa barusan aku ketahuan? Semudah itu? Woah! Menyebalkan sekali.

Mukaku terasa sangat panas menahan malu.

***

Tuesday, April 12, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 10)

Ken's PoV

Aku berbaring disamping Kinan yang sedang terlelap. Sudah setengah jam lebih  aku menempel padanya disini sambil bermain salah satu game paling populer abad ini lewat gadget. Volumenya sengaja aku atur paling tinggi. Bukannya terbangun, dia justru semakin nyenyak dan menumpukan sebelah tangan dan kakinya padaku. Dengan wajah yang tenggelam di ketiakku. Dasar kebo ceroboh! Apa dia seperti ini juga saat di luar? Bagaimana jika ada yang berniat macam-macam padanya?

"Keeenn, Kiiiinn. Turun, sayang. Sarapan sudah siap."

Suara ibu segera membuatku berhenti main game. Aku lapar! Kinan masih tak bergeming. Aku memandangnya dengan muka datar dan mendorong keningnya dengan ujung jari. Dia masih tak merespon.

Aku melakukannya lagi. Berkali-kali. Dia tetap tak merespon tindakanku. Apa yang harus kulakukan untuk membuat kebo satu ini bangun?

Aku melihat jari-jarinya yang tanpa dia  sadari bergerak memelukku lebih erat untuk mencari posisi nyaman. Sebuah ide melintas dipikiranku. Aku tersenyum senang. Aku segera menggigit ujung ibu jarinya. Rasakan kau! Aku tertawa.

"Aaawww!" Dia membuka mata seketika. Dan memeriksa ibu jarinya. Setelah memastikan bahwa jarinya baik-baik saja, dia segera mendongakkan wajahnya.

Matanya membulat melihatku.

"Keeennn! Kamu pulang?" Dia meneriakkan pertanyaan bodoh dengan mata berbinar dan segera memelukku dengan erat. Tentu saja aku pulang. Minggu depan adalah hari paling penting untuknya. Hari pernikahannya.

Aku membalas pelukannya. Ah, ternyata kebo satu ini ngangenin juga.

Aku memegang puncak kepalanya untuk mendorong dia agar menjauh.

"Dasar kebo bau jigong! Sikat gigi dulu sana! Ayah-ibu udah nunggu buat sarapan." Dia tersenyum jahil dan segera mendekat. Mendaratkan ciuman di pipiku dan mengacak rambutku. Lalu lari terbirit-birit ke kamar mandi.

Dasar menyebalkan! Aku mengusap-usap pipiku bekas ciumannya dan segera turun untuk bergabung dengan ayah dan ibu. 

"Kinan mana, dek?" Tanya ibu sambil membantu bibi menata meja makan.

Aku memanyunkan bibir. Ibu selalu memanggilku begitu dengan nada penuh sayang. Oh astaga, mereka bahkan masih memperlakukanku seperti bocah SD sampai sekarang.

Tapi Kinan sudah diijinkan menikah. Ini tidak adil!

Tiba-tiba seseorang merangkul leherku dari belakang dan mengacak rambutku. Aku menoleh. Kinan menatapku sumringah. Aku menatapnya dengan datar. Ayah tersenyum melihat tingkah kami.

Kinan selalu semena-mena padaku. Seperti merangkulku tanpa mengenal tempat, menciumku sembarangan, dan mengacak rambutku penuh sayang. Dia dan ibu sama saja. Selalu menganggapku bocah kecil walaupun aku sudah sebesar ini. Mungkin karena aku lahir beberapa menit setelah Kinan. Iya. Kami kembar. Tidak identik dan berbeda jenis kelamin. Entah kenapa dia yang mendapatkan julukan sebagai kakak. Kenapa bukan aku saja?

"Kapan nyampe rumah?" Tanyanya sambil menarik kursi. Aku segera melakukan hal serupa.

"Subuh tadi. Makanya jangan molor mulu."

Kinan memanyunkan bibirnya. Aku tertawa senang melihatnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat bibir manyun itu.

***

"Laura mana? Tumben nggak kelihatan?"

Kinan terlihat serius menatap hpnya. Dia tersenyum.

"Panjang umur nih siluman kasmaran. 5menit lagi dia sampai sini. Haha."

"Siluman kasmaran? Baru gebetan apa udah jadian?"

Kinan memandangku sambil mengerutkan kening.

"Kepo ih." Katanya sambil menjulurkan lidah ke arahku. Sial!

Aku segera merebahkan badanku di sebelah Kinan. Aku akan menunggu Laura datang. Kinan menatapku.

"Gimana kerjaannya? Enak?" Tanya Kinan sambil menyenggol lenganku.

Kakinya mulai terangkat ke atas. Kadang seperti mengayuh sepeda, kadang hanya rapat lurus ke atas seperti sikap lilin. Aku tidak tahu kenapa dia selalu melakukan hal konyol itu sebelum tidur.

"M~hm." Jawabku sekenanya. Pekerjaanku memang menyenangkan. Bagaimana tidak? Saat ini aku digaji untuk makan kesana kemari dan sebagai balasannya aku hanya harus membuat review tentang makanan tersebut di akun blogku. Yeah, aku adalah seorang food blogger. And it's freaking awesome!

Tapi kegiatan kaki Kinan mengganggu pemandanganku.

"Bentar. Kenapa selalu melakukan itu?" Tambahku.

Kinan menoleh menatapku.

"Melakukan apa?"

Aku hanya mengarahkan ekor mataku pada kaki jenjang nun mulusnya yang terangkat ke atas. Dia tertawa.

"Satu untuk peredaran darahku. Satu lagi untuk mempercantik pinggulku."

Aku memutar bola mata mendenger penjelasan bodohnya.

"Haii!" Suara itu! Laura!

Aku segera menoleh ke arah pintu. Dan dia tersenyum sangat cantik disana. Sambil melambaikan tangan ke arahku.

Aku tersenyum simpul padahal hatiku tertawa bahagia. Laura mendekatiku dan memelukku singkat. Aku membalas pelukannya.

"Kapan nyampe?" Tanyanya sambil mengacak rambutku. Aku merasa bahagia seperti seekor anjing yang memendam rindu teramat dalam karena sudah lama tak bertemu majikannya. Da*n! Apa aku baru saja memanggil diriku sendiri anjing?

"Tadi subuh." Aku tersenyum lagi. Dia mulai duduk di dekatku. Sambil meletakkan kantong plastik.

"Batagor Mang Ucuuup!" Katanya sambil tertawa bahagia. Kinan tersenyum dan segera turun ke bawah untuk mengambil piring dan sendok.

Tinggal aku dan Laura berdua duduk di atas ranjang Kinan. Aku merebahkan tubuhku dengan meletakkan kedua telapak tanganku dibawah kepala sebagai bantal. Laura tampak sedang membalas pesan dari seseorang di hpnya. Apa itu gebetan atau pacarnya?

"Gimana kerjaannya?" Tanyanya setelah selesai.

"Awesome!" Jawabku singkat.

Laura tersenyum manis sambil mengacak rambutku lagi.

***

"Katakan padaku, kamu hamil?"

Kinan dan Laura segera menatapku dengan muka datar, lalu memukul kepalaku dengan bantal.

"Aku tidak akan melakukan itu sebelum pernikahan. Tidak percaya pada kakakmu, eh?"

Ucap Kinan tenang sambil melahap batagor. Laura mengangguk mengamini kalimat Kinan barusan.

"Lalu kenapa harus minggu depan? Apa Abimanyu tidak pernah melepaskan gairah pada perempuan sebelumnya hingga harus terburu-buru seperti itu?"

Laura dan Kinan tersedak bersamaan. Kali ini telapak tangan Kinan menyapa bagian belakang kepalaku dengan kencang.

Hei, apa salahku? Aku benar-benar tidak bisa mempercayai pernikahan mereka yang terkesan buru-buru ini. Aku bahkan belum pernah bertemu secara langsung dengan Abimanyu sebelumnya. Bisa saja dia melakukan pernikahan ini dengan niat buruk atau sebagainya. Wajar bukan kalau aku curiga?

Kinan melanjutkan aksinya dengan mengunci leherku dengan lengan kanannya dan menyiksa telingaku dengan sebelah tangannya. Ia menyatukan jari tengah dan ibu jarinya. Lalu dengan kekuatan penuh, ia melepaskan itu tepat di daun telingaku. Rasanya luar biasa.

"Aw!!"

Kenapa aku punya kakak seganas ini dan ada yang mau menikahinya?

Laura tertawa melihat tingkah kami.

"Kenan, buruan minta maaf!" Kata Laura disela-sela tawanya.

"Kenapa aku harus minta maaf?" Kataku dengan susah payah.

Kinan mengeratkan kuncian lengannya di leherku. Sebenarnya aku bisa saja melepaskan diri dari Kinan dengan mudah. Tapi tawa Laura mengurungkan niatku.

"Aw aw! Kebo, lepas!!"

Laura belum berhenti tertawa.

"Udahan ih!" Laura melerai kami (masih) dengan tawa yang mengembang di wajahnya. Pelerai macam apa itu?

Karena Kinan tidak menghiraukannya, dia bangkit lalu menyempil-nyempilkan badannya diantara kami. Otomatis lengan Kinan terlepas dari leherku. Dia duduk dengan kepala menoleh ke arah Kinan, memandangnya dengan mata cemas.

"Kin, Tio ada acara mendadak besok malam. Gimana dong? Maaf." Laura memandang Kinan dengan mata penuh sesal.

Dia berhasil membuat Kinan berhenti menyiksaku. Seperti biasa. Dia memang pahlawan cantikku.

"Umm.. Aku rasa, aku tidak keberatan walaupun kita cuma bertiga." Kinan menjawab dengan muka polosnya.

Aku menatap mereka dengan muka datar. Baiklah, mereka mengabaikan aku sekarang.

Aku segera menggunakan waktu ini untuk memeriksa beberapa notifikasi di hpku.

"Aku yang keberatan! Aku harus jadi setan diantara kalian? Tidak, terima kasih!" Laura melipat tangan di depan dada.

"Oke, kita cari pengganti Tio." Kinan tampak berpikir.

Lalu menatapku.

"Bagaimana dengan kunyuk satu ini? Mau?" Kinan menatap Laura lalu menatapku lagi. Laura pun menoleh padaku.

Ada apa ini? Aku menatap mereka penuh tanya.

"Kau ada acara besok malam?" Laura bertanya padaku yang masih kebingungan.

"Besok malam? Aku rasa, aku belum punya rencana apapun. Kenapa?" Keningku pasti berkerut sekarang. Ah, semoga aku tetap terlihat tampan di matanya.

Laura tersenyum senang.

"Great! I'll take him!" Laura segera merangkul leherku dengan lengannya. Menatap Kin dengan senyuman. Tubuh kami menempel begitu erat. Aku membeku menatapnya.

Do more, baby!! Please!

Walaupun aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, selama ada Laura bersamaku, aku tidak akan keberatan.

***

Sunday, April 10, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 9)

Special Chapter: Abimanyu's POV

"Berhentilah menatapku seperti itu." Kataku tanpa menoleh padanya dan tetap fokus mengemudi. Aku tahu sejak tadi dia memandangku dengan bibir manyun dan muka cemberutnya dari samping.

"Jadi mengekorimu pergi ke kantor kau sebut dengan berkencan? Woah, ini tidak dapat dipercaya!" Katanya kesal.

"Aku hanya akan memeriksa beberapa dokumen saja." Jelasku singkat.

"Kenapa tidak bilang dari awal? Kau ingin mengajakku ke kantor dengan pakaian seperti ini? Astaga!" Dia memandang penampilannya dengan muka sedih.

"Tidak ada yang salah dengan penampilanmu. Percayalah." Aku serius. Tidak ada yang salah dengan penampilannya hari ini. Dia terlihat cantik seperti biasa.

Aku harap dia tidak meminta untuk pulang. Aku sudah terlambat. Ada beberapa dokumen yang harus aku tandatangani pagi ini.

"Tapi ini baju main, bukan baju kantor. Kau ingin aku berjalan disampingmu yang begitu rapih dengan penampilan seperti ini? Aku tidak mau!" Dia mulai melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kau butuh raket tennisku?" Kataku mencoba untuk menghiburnya.

"Kau tidak lama kan? Aku menunggu di mobil saja kalau begitu."

"Kau yakin?" Aku meliriknya sekilas.

Dia mengangguk berkali-kali. Terlihat sangat yakin dengan keputusannya. Tapi aku tak tega jika harus membuatnya menungguku di dalam mobil.

"Begini saja. Aku punya apartemen di dekat sini. Kau bisa menungguku disana."

Aku segera mematikan mesin mobil dan keluar, lalu membuka pintu untuknya. Kami sudah sampai di gedung apartemen. Aku melihat arlojiku. 08:17.

"Waktuku masih cukup untuk mengantarmu sampai depan pintu." Aku bergegas menuju lift. Dia hanya mengekoriku dengan patuh.

"Apa kau sering menginap disini?" Tanyanya. Kami sudah sampai di depan pintu apartemenku. Aku membuka pintu dan mempersilakannya untuk masuk.

"Lumayan. Kau yakin tidak mau ikut denganku?" Dia menggeleng dengan cepat.

"Tidak, tuan. Terima kasih." Aku terkekeh dalam hati. Dia terlihat memandang sekeliling. Kurasa dia suka disini.

"Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan kembali dalam 1 atau 2 jam." Dia mengangguk. Lalu segera berjalan ke arah pintu untuk mengantarku.

"Hati-hati."

"Jika ada apa-apa, segera hubungi aku."

***

"Pagi, pak." Talita menyapaku dengan senyum seperti biasa.

"Pagi. Kau sudah membatalkan semua jadwalku hari ini?" Dia mengikutiku sambil setengah berlari dengan membawa dokumen-dokumen.

"Sudah, pak. Tapi ada beberapa dokumen yang harus bapak tandatangani pagi ini juga." Dia meletakkan semua dokumen itu di atas mejaku.

"Baiklah, aku akan mempelajarinya. Kau boleh pergi."

Aku segera membuka tumpukan dokumen itu dengan cepat. Entah kenapa. Aku baru saja sampai di kantor, tapi aku ingin segera pulang ke apartemen. Bayangan wajah Kinan yang menungguku sendirian membuatku tak tenang. Iya, dia gadis yang akan menikah denganku bulan depan.

Beberapa waktu yang lalu, kakek menawarkan padaku untuk menikahi cucu temannya. Kakek sudah bosan melihatku terpuruk selama berhari-hari karena Sandra. Awalnya aku menolak tawaran itu. Tapi setelah dipikir-pikir, Sandra saja bisa dengan mudahnya melakukan itu, kenapa aku tidak?

Lalu saat kakek mengajakku untuk melihat Kinan pertama kali, aku tertegun. Dia begitu cantik dan polos. Dia sedang bermain dengan anak-anak kecil. Beberapa anak bahkan mencium pipinya dan menggelayut manja. Dan dia tertawa bahagia. Matanya, pipinya, bibirnya, lekuk tubuh, bahkan suara tawanya, semua terlihat sempurna di mataku. Matanya mengingatkanku pada mata indah Candice Swanepoel. Dan senyumnya sangat mempesona. Senyuman Cameron Diaz. God, she's absolutely gorgeous!

Aku suka dengan pemandangan itu. Rambut kecoklatannya di cepol tinggi sembarangan hingga menyisakan rambut-rambut disekitar leher, telinga, dan keningnya. Seksi sekali. Aku rasa aku bisa bertahan dengan istri secantik itu.

Kemudian aku mulai sering memantaunya diam-diam. Aku juga meminta beberapa orang kepercayaanku untuk mencari informasi lengkap tentang Kinan. Sampai akhirnya aku memutuskan, aku bersedia menikah dengannya. Cepat atau lambat, Kinan pasti bisa membuatku lupa pada Sandra.

Setelah semua dokumen selesai kutandatangani, aku segera menuju ke apartemen.

Aku melihatnya tertidur di sofa dengan tv yang menyala. Matanya terlihat tidak nyaman karena tertutup sebagian rambutnya. Aku mendekat. Kupindahkan rambutnya ke belakang telinga. Aku tersenyum.

Ia sedikit menggeliat. Mukanya terlihat sangat imut. Dia selalu bisa membuatku tersenyum karena gemas. Seperti saat dia menaut-nautkan jari kakinya satu sama lain sebelum menemuiku dan memandangku dari bawah ke atas. Aku sempat melihat matanya terkisap saat berhenti di jakun dan wajahku. Aku tahu, dia menginginkanku.

Aku mulai menikmati waktu yang kuhabiskan bersamanya. Menggodanya sangat menyenangkan. Dia selalu marah dan memanyunkan bibirnya, padahal aku tahu dia tersipu. Beberapa hari yang lalu, aku menggodanya dengan mendekatkan mukaku pada mukanya. Wajahnya merah sekali. Aku hampir saja lepas kontrol saat itu. Aku sangat ingin menyentuhnya, memilikinya.

Tiba-tiba saja hpku berbunyi. 'Talita'. Ah dia mengganggu sekali. Aku segera menjauh dan menerima panggilan itu.

Ketika aku berbalik, dia sudah membuka mata dan duduk dengan tegang.

"Sejak kapan kau disitu?" Tanyanya panik.

"Bukankah kau yang memintaku untuk tidak berlama-lama?" Aku membuka kancing di pergelangan tanganku. Menggulung lengan kemeja sampai ke siku. Lalu berjalan ke arah lemari es.

"Kau ingin makan sesuatu?" Aku meliriknya sekilas. Dia menggeleng.

"Sementara aku ganti baju, cucilah mukamu. Kita pergi setelah ini." Aku melihatnya sambil menenggak air.

"Kemana?" Dia mulai berdiri menghampiriku dan mencepol rambutnya. Sial! Aku segera berbalik, meninggalkannya menuju kamarku. Aku tidak ingin bergairah sekarang.

"Cuci saja mukamu." Kataku sambil lalu.

Aku yakin, dia pasti sedang memanyunkan bibirnya saat ini.

***

Kinan tampak begitu bahagia. Ia sedang mewarnai bersama anak-anak asuh kesayangan tante Okta, adik mama.

Tante Okta mempunyai sebuah panti asuhan. Beliau mendirikannya sejak 10tahun lalu, beberapa bulan setelah dokter memvonisnya tidak bisa mempunyai keturunan.

Aku selalu menyempatkan diri untuk kemari seminggu sekali. Mengunjungi tante Okta dan bermain bersama anak-anak.

Tante Okta mendekatiku dan membawa nampan berisi 3 gelas minuman dan toples camilan. Beliau meletakkannya di meja, lalu memanggil Kinan agar bergabung bersama kami. Tante Okta tersenyum ketika melihat Kinan.

"Dia sangat cantik." Aku lalu mengikuti arah mata tante Okta dan tersenyum simpul.

"Kapan?" Tanya tante Okta sambil menikmati camilan yang beliau bawa tadi.

"Bulan depan. Tante bisa membawa mereka? Aku ingin mereka menghadiri pesta pernikahanku."

"Tentu, tampanku."

Kinan menghampiri kami sambil tersenyum. Dia lalu duduk disebelahku, berhadapan dengan tante Okta.

"Kau suka disini?" Tanya tante Okta pada Kinan.

"Sangat, tante. Kata ibu, sejak kecil aku sangat menyukai anak-anak." Tante Okta tertawa mendengar jawaban Kinan.

"Benarkah? Kalau begitu mulai sekarang, datanglah kemari bersama Abimanyu. Sepuluh tahun kemari secara rutin sendirian pasti melelahkan baginya." Tante Okta tertawa lagi. Kali ini dengan nada sedikit mengejekku.

"Kau sering kemari?" Mata Kinan membulat. Menatapku tak percaya. Tapi ada senyum bahagia disana.

Aku mengangguk singkat.

"Seminggu sekali."

Dia tersenyum.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 15:07 ketika kami mulai menjauh dari halaman panti asuhan. Kinan tampak melambai-lambaikan tangannya pada anak-anak.

Ia mulai menutup kaca jendelanya dan menghadap ke arahku. Aku segera mengalihkan pandanganku ke depan. Menatap jalanan beraspal. Aku tidak ingin dia memergokiku yang sedang memandangnya.

"Aku tidak percaya kau suka pada anak-anak." Dia mengakhiri kalimatnya dengan tawa.

Aku berdehem. Tidak tahu harus bilang apa.

"Maksudku, kau terlihat begitu dingin dan tidak peduli pada sekitarmu." Tambahnya lagi.

"Begitukah?"

"M~hm" Dia menjawab singkat dengan mata yang masih berbinar. Sebahagia itukah dia bertemu anak-anak?

"Kampus? Kenapa kita ke kampus? Ini kampusmu?" Dia mengerutkan kening ketika aku berbelok dan masuk ke kampusku dulu.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Dan segera menuju parkiran yang sudah mulai penuh.

Aku membuka pintunya dan mengajaknya ke selasar kampus. Kulihat Joshua melambaikan tangan. Mereka sudah menungguku rupanya.

Joshua dan yang lain menyambutku dan Kinan. Aku segera memperkenalkannya pada mereka. Kinan tersenyum dengan sangat manis.

"Kapan project kita di putar?" Tanyaku pada Joshua sambil memandang sekeliling. Mereka terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatu diatas panggung.

"Katanya sih sebelum puncak acara." Joshua mulai mengikat rambut gondrongnya.

"Mereka udah nyiapin tempat buat kita. Yuk." Tambahnya lagi lalu segera berjalan mendekati panggung. Duduk di barisan ketiga dari depan panggung. Kulihat sekeliling sudah ramai. Mungkin acara akan segera dimulai.

Kinan menyentuh lenganku dengan ujung jari telunjuknya sebanyak dua kali lalu berbisik.

"Kenapa kita disini? Kau akan bernyanyi atau semacamnya di panggung itu bersama Joshua?"

Aku terkekeh di dalam hati.

"Maaf membuatmu kecewa. Sayangnya tidak."

Dia mengerutkan kening.

"Aku dan Joshua membuat sebuah project film lintas angkatan. Kami sudah mengantongi ijin untuk bisa mengikuti festival hingga ke berbagai negara. Dan kami sepakat untuk memutarnya secara perdana di acara tahunan kampus malam ini."

Kinan melongo mendengar penjelasanku.

"Whoa!" Dia mamandangku dengan takjub.

"Kau tidak kecewa karena aku tidak menyanyi atau semacamnya di atas sana?" Kataku dengan menatap panggung.

Dia menggeleng lucu.

"Semoga kalian berhasil pulang dengan membawa banyak penghargaan ya!" Matanya berbinar antusias.

"Terima kasih."

Rangkaian acaranya berjalan dengan lancar, hingga tiba waktunya untuk pemutaran project film kami. Setelah after credit, tepukan membahana di selasar malam ini. Aku dan Joshua tersenyum senang mendapat apresiasi yang begitu mengesankan untuk pemutaran perdana project kami.

"You did a very good job!" Kinan berbisik dengan senyuman bangga di antara gemuruh tepuk tangan.

***

"Maaf tidak ada makan di luar, pergi ke bioskop, jalan-jalan dan sebagainya seperti orang pada umumnya."

Dia tertawa senang. Dia bahagia?

"Kita sudah melakukannya hari ini. Jalan-jalan ke panti asuhan tante Okta, makan disana bersama anak-anak, dan menonton filmmu yang luar biasa."

"Kau senang?" Tanyaku memastikan.

"Tentu saja. Aku sangat senang hari ini, tuan." Dia tertawa lagi. Hari ini aku banyak melihatnya berbinar dan tertawa. Tawa yang lepas. Seperti saat pertama aku melihatnya.

Kami sudah sampai di depan rumahnya. Pukul 21:13. Sial! Aku terlambat mengantarnya pulang.

Aku segera membuka pintunya. Setelah dia turun, aku menutup pintu itu lagi.

"Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini. Aku sangat senang." Dia tersenyum manis.

"Sama-sama. Masuklah. Maaf aku terlambat mengantarmu pulang."

Dia mengangguk. Dan segera berjalan menuju gerbang rumahnya. Sebelum dia hilang dibalik gerbang, dia berbalik. Lalu mengangkat telunjuknya ke atas.

"Ah ya, satu lagi. Kau peran utama yang sangat berbakat."

Saat dia sudah menutup gerbang, seketika senyumku mengembang.

Friday, April 8, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 8)

Aku berdehem. Mencoba mengatur suaraku agar tidak meninggi. Aku tahu ini salahku, tapi aku boleh protes bukan? Aku boleh terkejut dengan kata-katanya barusan bukan?

"Apa yang ingin kau bicarakan dua hari yang lalu?" Tanyaku dengan hati-hati. Aku tidak mau dia marah dan mengemudi dengan sembarangan lalu kami berdua terlibat kecelakaan. Itu tidak lucu.

Tuan seksi sialan itu membisu. Dia hanya memandang lurus ke arah jalan. Seolah tak mendengar pertanyaanku. Apa dia masih marah?

Aku berdehem lagi. Mencoba memancingnya agar menatapku. Mungkin dia menginginkan pertanyaan yang lain.

"Apa mama tahu tentang ini?" Kubuat suaraku semanis yang kubisa.

Dia masih membisu. Sial!

"Kau masih marah padaku?" Tanpa sadar aku mulai memilin-milin ujung kemejaku.

Hening.

"Ayolah, kumohon! Katakan sesuatu." Apa suaraku sudah terdengar seperti seseorang yang mulai putus asa?

"Aku minta maaf. Aku menyesal."

Dia masih mengacuhkanku. Aku menarik nafas. Sabar, Kin! Bagaimanapun ini salahmu.

Aku menarik nafas lagi. Lalu menyemangati diri sendiri.

Ayo, Kin! Kreatif! Pikirkan sesuatu yang bisa membuatnya menoleh padamu!

"Kau lapar?"

Aku memandangnya dengan muka datar. Sepertinya dia tuli.

Ayo otak! Berpikir!

"Kau menyukaiku?" Aku terkejut dengan pertanyaanku sendiri.

Kau gila, Kin.

Aku lihat dia melirikku sekilas. Lalu kembali fokus pada jalan. Aku tersenyum senang. 'Gotcha, sexy!'.

Woah, baru kali ini aku merasa bahagia berbincang dengannya. Aku tertawa dalam hati.

Jakunnya mulai bergerak. Tuhanku semesta alam! Here we go again. Seksi sialan itu mulai beraksi.

"Suka atau tidak, aku tetap akan menikahimu bulan depan." Aku memanyunkan bibirku. Orang macam apa dia ini? Hanya itu tanggapannya setelah aku berjuang setengah mati?

Tiba-tiba aku teringat komentar Laura tempo hari. Apa katanya waktu itu? Kode romantis? Manusia seperti ini melakukan kode romantis? Aku rasa mang ucup lebih romantis daripada seksi sialan ini.

"Kenapa harus bulan depan? Itu terlalu cepat untukku." Dia terdiam. Aku menghela nafas. Mulai menyusun kalimat yang pas agar dia tidak tersinggung atau marah padaku.

Aku mengambil nafas dan mulai menjelaskan dengan nada yang halus.

"I mean, kita bahkan belum saling mengenal dengan baik. Bagaimana mungkin kita menikah secepat itu?" Lanjutkan, Kin! Perjuangkan hakmu! Aku yakin dia menyimak perkataanku.

"Kau bahkan tidak mengenalku. Tidakkah kau merasa takut jika ternyata aku punya kebiasaan buruk yang bisa membuatmu jijik atau sebagainya?" Hell! Kenapa aku jadi merendahkan diriku sendiri? Aku menggigit bibirku.

"Aku sudah tahu segala hal tentangmu. Bahkan ukuranmu sekalipun. Dan aku tidak keberatan dengan itu." Katanya datar.

Mukaku mulai terasa panas. Apa dia bilang? Ukuranku? Dia tahu ukuranku? Astaga mesum sekali dia!

Setelah aku jelaskan panjang lebar bahkan dengan persiapan menyusun kalimat, dia menjawabku seperti itu? Dia gila.

"Tapi aku tidak tahu apapun tentangmu!" Suaraku mulai terdengar meninggi. Antara marah, berontak, putus asa, dan ingin menutup rasa malu.

"Kau terlalu sibuk dengan lelaki lain." Dia terdengar sinis dalam kalimatnya barusan.

Aku mendengus kesal.

"Oh ayolah! Sampai kapan kau akan bersikap begini? Tidak bisakah kita berbicara secara layak?"

"I'm listening, queen."

Dia memanggilku apa? 'Queen'? Mau tak mau, aku sedikit tersipu mendengar itu.

"Maksudku kita bisa melakukan hal-hal seperti orang lain pada umumnya. Makan di luar, pergi ke bioskop, jalan-jalan, dan sebagainya." Kurasa suaraku sudah kembali normal. Tidak setinggi tadi.

"Kau mengajakku berkencan?" Tembaknya terus terang.

Sial! Apa aku baru saja melakukannya? Baiklah, anggap saja begitu.

"Bukan begitu, aku..." Sebelum aku selesai bicara, dia segera memotong kalimatku.

"Oke. Besok aku jemput jam 7 pagi."

Aku melongo. Apa dia bilang? Jam 7 pagi? Untuk apa kencan sepagi itu?

"Kita akan pergi ke upacara bendera? Itu terlalu pagi!" Kataku setengah mengejek.

"7 pagi atau kau boleh mengenalku setelah menikah nanti." Woah, dia benar-benar keras kepala.

Aku menghela nafas. As you wish, tuan menyebalkan.

Tanpa sadar sejak tadi aku tidak berhenti  menatapnya. Apa yang kulakukan? Apa aku menikmati obrolan kami malam ini?

Kulihat dia mulai menepikan mobil. Lalu berhenti.

"Untuk apa berhenti?"

"Kau ingin pulang ke rumahku?" Katanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Aku mengerutkan kening.

Dia mulai melepas seatbelt, lalu menatapku dengan muka datarnya.

"Sekarang jam 9. Dan kita sudah sampai." Kalimatnya seketika membuatku melihat sekeliling. Tuhan! Ini sudah sampai di rumah? Cepat sekali? Kenapa aku tidak menyadarinya?

Lalu untuk apa kami keluar tadi? Hanya untuk berbicara di dalam mobil? Dasar pelit!

Dia membuka pintunya lalu memutar dan membuka pintuku.

"Terima kasih." Kataku sambil tersenyum.

Astaga, kenapa aku tersenyum padanya? Tiba-tiba aku menyesali itu.

Thursday, April 7, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 7)

Aku berjalan sambil menatap lembar pengesahan itu dengan mata berbinar. Aku tersenyum bahagia. Tuhan, aku tidak percaya ini! Akhirnya setelah 3minggu mengejar bos besar, aku mendapatkan tanda tangannya juga. Sedikit lagi urusanku selesai dan aku bisa mengikuti wisuda bulan Desember nanti.

Hidupku terasa damai. Sudah seminggu ini aku bebas dari si seksi sialan itu. Aku belum bertemu dengannya lagi sejak peristiwa memalukan dimana harga diriku jatuh ketika dia menggodaku. Sebenarnya dua hari yang lalu dia mengirim pesan padaku. Aku mengerutkan kening ketika ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ternyata itu nomornya. Aku terkekeh dalam hati mengingat pesan itu.

08xxxxxxxxx
"Kau punya waktu luang? Ada hal penting yang harus kita bicarakan. ~Abimanyu."

Aku segera menyimpan nomornya dengan nama 'seksi sialan'. Done!

Apakah aku membalas pesannya? Tentu saja tidak! Aku putuskan untuk mengabaikannya sementara waktu. Beberapa menit setelah tak mendapat responku, dia menelpon. Aku mengabaikan panggilannya juga. Rasakan kau seksi sialan! Aku akan membalasmu. Sepertinya mengabaikan dia adalah ide yang bagus. Walaupun keputusan itu sedikit membuat sisi genitku berontak. Tidak bisa kupungkiri, aku merindukan wajah dan jakun seksinya. Tapi aku harus bisa bertahan. Aku akan menyiksanya karena dia telah berani mempermainkanku. Aku tertawa senang.

Woaaah! Moodku sedang benar-benar baik hari ini. Emosiku sudah stabil karena seminggu yang lalu Laura mengajakku menggila ke pantai. Aku bisa berteriak sepuas hatiku. Mengumpat dan memaki si seksi sialan itu dengan brutal. Bergulung-gulung di pasir dan bermain air bersama Laura. Kami bahagia! Dan sekarang Laura sedang berlibur di Bali bersama Tio. Ah, aku merindukannya.

"Widih, yang lagi bahagia habis kencan sama bos besar!" Dion menyenggol lenganku dengan lengannya.

Aku menoleh dan tertawa. Menunjukkan lembar sakti itu padanya. Dia mengacak rambutku.

"Nonton?" Ia mengangkat sebelah alisnya lalu menggerak-gerakkannya dengan mata jahil.

Aku tertawa.

"Boleh."

Kami lalu berjalan menuju parkiran.

***

Aku memarkir mobilku di belakang mobil ayah. Menutup gerbang, lalu masuk ke dalam rumah. Masih dengan senyum bahagia. Aku bersenang-senang dengan Dion hari ini.

Langkahku terhenti di pintu utama. Aku melihat ayah dan ibu sedang mengobrol dan tertawa bersama si seksi. Mataku membulat. Pemandangan macam apa ini? Kenapa dia ada disini?

Ibu yang menyadari kehadiranku seketika menyuruhku untuk duduk bergabung dengan mereka. Senyum bahagiaku menguap sudah. Hilang ditelan rasa panas yang mulai menyapa wajahku. Aku memalingkan muka. Menghindari wajah seksi yang sekarang sedang menatapku.

Ibu berdehem.

"Ya sudah, kalau mau keluar, berangkat sekarang gih. Supaya tidak kemalaman." Ibu mengelus penggungku dengan sayang. Aku segera menatap ibu dengan penuh tanya.

"Kau tidak membaca pesan dari Abimanyu?" Ibu balik bertanya. Aku mengerjap. Pesan? Pesan apa? Ah ya, aku selalu mengganti pengaturan profil hpku dengan mode diam begitu sampai di kampus. Dan karena terlalu sibuk dengan Dion, aku sama sekali tidak memeriksa hpku hari ini.

Si seksi berdiri dan pamit pada ayah dan ibu untuk mengajakku keluar. Ibu segera mendorong punggungku. Lalu tersenyum dan melambaikan tangan.

"Jangan sampai larut ya." Ayah berpesan pada si seksi yang mengangguk patuh.

Ayah dan ibu menatap kami hingga hilang di balik gerbang. Ya Tuhan, kenapa aku tidak menyadari mobil itu parkir disini sebelum masuk ke rumah tadi? Aku menghela nafas. Apa yang harus kulakukan? Mati kau, Kin.

Si seksi membuka pintu untukku. Aku berdiri mematung. Melihat pintu dan tempat duduk itu, seketika jantungku berdebar cepat, bulu romaku berdiri mengingat kejadian terakhirku di kursi penumpang sebelahnya itu. Bayangan wajah kami yang sedang berdekatan ketika ia menggodaku berputar-putar di otakku. Kurasakan wajahku memanas lagi. Oh tidak, bagaimana ini? Andai aku bisa membuang mukaku untuk saat ini saja.

"Masuk." Suara baritonnya terdengar dingin. Seperti sedang marah? Apa dia marah padaku?

Aku segera masuk dan dia mulai berputar kemudian duduk dengan nyaman, lalu mulai menyalakan mobil.

Aku meliriknya sekilas. Aku merasa ada yang salah disini. Dia terlihat begitu dingin dan seperti sedang menahan amarah. Rahangnya sedikit mengeras. Ini tidak seperti biasanya. Yang aku tahu dia selalu fokus dengan raut muka yang tenang walaupun tak mengucap sepatah katapun ketika sedang mengemudi. Tapi sekarang? Aku menelan ludah. Nyaliku serasa menciut untuk berbicara padanya. Aku menundukkan kepalaku. Apa dia marah karena sikapku yang kekanakan?

Masa bodoh! Aku tidak peduli padamu tuan seksi sialan! Dia yang memulai semua ini. Aku hanya memainkan peranku bukan?

Aku segera menyibukkan diri. Mengambil hp dan berniat berselancar di media sosial untuk membunuh suasana yang tidak menyenangkan ini.

Ada banyak notifikasi yang masuk. Tanpa sengaja aku membuka mulutku.

5 panggilan tak terjawab. ~ibu

3 panggilan tak terjawab. ~ayah

1 panggilan tak terjawab. ~seksi sialan

2 pesan. ~ibu

1 pesan. ~ayah

15 notifikasi messenger. ~Laura, Dion, Abimanyu.

Aku mengatupkan bibirku. Dan segera memeriksa pesan dari ayah dan ibu.

Ayah:
"Dimana Kin? Pulanglah, Abimanyu menunggumu di rumah."

Ibu:
"Abimanyu ke rumah. Cepat pulang, sayang."

"Dimana? Lama sekali. Dia sudah hampir 3jam menunggumu."

Astagaaa! Hatiku mulai dirundung rasa bersalah. Aku segera membuka notifikasi messenger darinya.

Abimanyu:
"Pulang sekarang. Aku menunggumu di rumah."

Kulihat waktu notifikasinya. Tiga jam yang lalu? Ya Tuhaann, dia benar-benar menungguku selama itu? Aku merasa sangat bersalah saat ini. Aku pasti akan marah besar kalau berada di posisinya. Kubayangkan bagaimana perasaanku jika harus menunggunya selama itu dan ternyata dia sedang bersenang-senang dengan teman wanitanya karena sengaja menghindariku. Hatiku serasa diremas. Niat awalku untuk bermain media sosial menguap sudah.

"Maaf. Aku menyesal." Kata itu terlontar begitu saja. Aku menatapnya. Dia mendengus.

"Untuk apa?" Tanyanya dingin. Tanpa melirikku sedikitpun.

"Membuatmu menunggu selama itu." Aku masih menatapnya. Aku sungguh merasa tidak enak padanya.

"Itu saja?" Aku mengerutkan kening. Apa lagi kesalahan yang kuperbuat?

"Dan mengabaikanmu dua hari yang lalu." Aku menelan ludah. Dia benar-benar membuatku tak bisa berkutik.

Kulihat mobil depan kami berhenti. Dia mulai melambatkan mobil. Menginjak rem dan kopling, lalu menetralkan persneling. Kami sedang terjebak palang pintu perlintasan kereta api.

"Masih ada satu lagi." Katanya dingin. Masih menatap ke depan. Dia sama sekali tidak mau melihat ke arahku.

Satu lagi? Apa itu? Apa yang kulakukan? Cukup lama aku berfikir, namun aku tak mendapat petunjuk apapun. Aku menatapnya tak mengerti.

Tiba-tiba dia menoleh. Menatapku dengan sangat dingin. Aku merasa seolah dia akan menelanku bulat-bulat karena sebuah kesalahan yang fatal. Rahangnya mengeras.

"Kau menyukai Dion?" Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Pertanyaan macam apa itu? Menyukai Dion? Tentu saja tidak. Dia temanku.

"Tentu saja tidak. Dia teman baikku." Aku mengulang kata yang terlintas di otakku dengan cepat. Keningku mengerut. Ada apa dengannya? Kenapa dia bertanya seperti itu?

"Bukankah sudah kukatakan aku tidak suka berbagi?"

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

Dia mengeratkan pegangannya pada kemudi. Memasukkan persneling 1, dan menyusul mobil depan kami. Palang pintu kereta api sudah terbuka.

"Punya sesuatu yang ingin kau katakan tentang pergi dengannya seharian?" Suaranya benar-benar dingin.

Aku menahan nafas. Dan segera mengalihkan pandanganku dari wajahnya.  Matilah aku. Apa ini? Dia tahu aku pergi dengan Dion seharian? Bagaimana bisa?

Apa yang harus kukatakan? Kenapa aku merasa seperti seseorang yang ketahuan berselingkuh?

"Bulan depan kita menikah. Jaga perilakumu." Nadanya seperti mengancam.

"Bulan depan? Apa maksudmu?" Aku panik mendengar ucapannya barusan. Dia gila ya? Bagaimana mungkin kami menikah secepat itu? Dia pikir dia siapa?

"Tanya saja pada ibu. Lain kali berpikirlah dengan matang sebelum mengabaikan pesan dan panggilan dariku."

Wednesday, April 6, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 6)

Hpku bergetar. Ada notifikasi messenger. Dari Laura.

Laura_:
"Gadis jahat! Siapa cowok ganteng dan seksi itu?"

Aku menghela nafas. Bagaimana aku harus menjelaskan padanya tentang si seksi itu? Kujatuhkan pantatku dipinggiran kasur tidurku. Aku menarik boneka spongebob kesayanganku. Kupandang dia sekilas. Dia tersenyum tanpa beban. Andai saja aku bisa berubah jadi spongebob.

Aku mendesah. Sepertinya aku mulai gila. Aku mulai berbaring. Kuposisikan dia dibawah kepalaku, sebagai bantal. Berbaring di kasurku seperti ini sangat menyenangkan setelah mati kutu menghadapi si seksi sialan itu. Aku rasa aku tidak sanggup untuk menatap matanya lagi.

Aku mengambil bantal dan membenamkan mukaku. Lalu berteriak sekeras mungkin. Aku gila. Dasar seksi sialan!

Hpku bergetar lagi. Aku mengambilnya, merubah pengaturan profilnya menjadi normal.

Ada satu notifikasi messenger. Aku mendesah. Laura lagi. Aku tahu dia tidak akan menyerah.

Laura_:
"Jawab aku atau kudoakan bos besar menunda jadwal kalian lagi!"

Sialan. Dia benar-benar kejam. Terpaksa aku harus membalas pesannya.

Me:
"Aku di rumah."

Badanku terasa lengket. Aku ingin mandi. Aku segera meletakkan tas dan sepatuku pada tempatnya.

Hpku berbunyi. Satu pesan dari Laura.

Laura_:
"Okay, aku datang bersama batagor mang ucup 😘"

Aku tersenyum. Mang ucup adalah penjual batagor di depan SMA kami. Usianya sekarang kurang lebih 30an. Rasa batagornya juara. Dia sangat ramah dan optimis bahwa suatu saat nanti dia bisa menjadi bos batagor yang kaya raya.

Aku meletakkan hp dan segera beranjak menuju kamar mandi.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Laura sudah ada di atas kasurku. Dia tengkurap, mukanya menghadap ke arah pintu kamar mandiku. Dia ketiduran.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk. Lalu mendekatinya. Kujulurkan kaki kananku dan kutendang-tendang halus kakinya. Ia mengerjap. Lalu menguap. Merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Dan akhirnya membuka mata. Ia memanyunkan bibirnya.

"Cepet banget." Kataku sambil mengenakan kaos longgar dan celana pendek.

"Kamu yang kelamaan. Ngapain aja sih di kamar mandi?" Ia duduk dan bersandar di kepala ranjang.

Ah iya. Mungkin aku yang terlalu lama. Tadi aku hanya berencana mandi biasa. Tapi karena pikiranku masih dipenuhi dengan wajah si seksi sialan itu, aku jadi tertarik untuk berendam. Dan aku terlalu menikmatinya. Si seksi sialan itu benar-benar membuat otakku lelah.

Aku segera meninggalkan kamar. Turun ke bawah menuju dapur, membuat minuman untuk Laura. Tak lupa membawa piring sendok, lalu kembali ke atas.

Aku meletakkannya di atas karpet sebelah ranjang.

"Mana batagornya?" Tanyaku pada Laura. Dia mengambil bungkusan di atas meja riasku kemudian bergabung denganku, duduk di atas karpet. Dia duduk bersila dan menyenderkan punggungnya ke tepian ranjang. Aku menuang batagor ke dalam piring. Kusodorkan satu untuknya dan satu untukku.

"Jadi bagaima..." Sebelum selesai, kalimat Laura kupotong dengan cepat.

"Ssstt!" Aku meletakkan telunjukku di depan bibir.

"Selamat makan!" Kataku cepat. Laura memanyunkan bibirnya lagi.

Setidaknya aku punya cukup waktu untuk menyusun kalimat yang pas dan menceritakan si seksi sialan itu pada Laura.

***

Laura bengong mendengar ceritaku. Dia sudah tahu semuanya, termasuk kejadian menyebalkan tadi pagi. Saat si seksi sialan yang suka bertindak seenak hatinya itu menggodaku di dalam mobil.

Kami telah selesai menikmati batagor.

"Whoaaaa! Jadi si ganteng nun seksi itu beneran calon suami kamu, Kin?" Laura berbinar. Kemudian memelukku dengan senang. Bahkan aku belum menjawab pertanyaan bodohnya. Kenapa dia jadi segirang ini?

"Selamat ya, nyai sayang. Aku bahagia. Kalian pasangan yang sangat serasi!"

Aku menatapnya dengan muka datar.

"Kamu bahagia dengan kejadian yang menimpaku pagi tadi?" Tanyaku tidak percaya.

"Itu yang disebut kode romantis dalam sebuah hubungan, Kinan sayang. Tuhan, dia sungguh menggemaskan!" Kode romantis apanya? Harga diriku jatuh didepan si seksi sialan itu. Dimana letak romantisnya?

Ini diluar dugaanku. Kukira Laura akan menindihku sampai tak bisa bernafas karena menyimpan cerita sepenting ini darinya. Ternyata dia sebahagia ini. Bahkan dia bilang si seksi sialan itu menggemaskan? Astaga, aku masih ingin mencakar-cakar wajahnya yang dipenuhi senyum puas tadi. Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku butuh pelampiasan.

"Jadi kapan nikahnya?"

Aku melotot kepada Laura. Pertanyaan macam apa itu? Aku sedang tidak ingin memikirkan si seksi dan Laura mengajukan pertanyaan dengan mimik muka sebahagia itu? Astaga!

Aku segera menarik spongebob dari atas kasur dan menimpukkannya berkali-kali  pada Laura.

"Hahaha ampun, nyai!" Laura segera menjauh. Dia berlari ke atas kasur. Aku mengejarnya sambil menimpukkan spongebob lagi. Kami sering melakukan itu saat duduk di bangku SD dulu. Kejar-kejaran di atas kasurku atau kasurnya dengan bantal sebagai senjata di tangan. Lalu tertawa bahagia. 

"Kalau kamu gak mau, aku bersedia ninggalin Tio buat si seksi kok. Serius!" Katanya tiba-tiba. Aku berhenti memukulnya.

"Ide bagus! Kamu beneran mau?" Tanyaku dengan mata penuh harap.

Laura melongo mendengar ucapanku. Dia merebut spongebob dari tanganku dan memukulkannya pada kepalaku. Tawanya telah hilang.

"Semalu itu ya buat ketemu si seksi lagi?" Matanya menatapku. Aku tahu ia sedang mencoba membaca ekspresi wajahku.

Aku mengangguk dengan mantap. Lalu menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan membenamkan mukaku ke bantal dengan posisi tengkurap.

Laura merebahkan dirinya di sampingku. Dan memandang langit-langit.

"Pantai yuk besok." Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap Laura. Aku mengangguk-angguk dengan mata terharu lalu memeluknya. Ia tersenyum. Laura memang mengenalku dengan sangat baik.

Aku butuh pelampiasan untuk emosiku yang tertahan. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku. Aku butuh waktu untuk membangun tembok bernama harga diri milikku yang telah runtuh berkeping-keping dihadapan si seksi sialan pagi tadi. Aku lelah.

***

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 5)

Aku rasa wajahku masih merah. Aku memandang jalanan yang penuh dengan mobil. Kami terjebak macet. Perjalanan untuk sampai ke rumahku masih sekitar 45menit lagi dari sini.

Bagus. Aku punya banyak waktu untuk bertanya tentang tindakan sesuka hatinya di depan Dion dan Laura barusan.

Aku berdehem. Menyiapkan suara, berharap tidak terdengar mencicit bagai tikus meregang nyawa seperti kemarin.

"Kenapa kau bersikap seperti itu pada Dion dan Laura?" Lumayan. Suaraku terdengar cukup normal.

"Seperti itu bagaimana maksudmu?" Ia menjawabku sambil menatap jalanan. Kenapa dia tidak menatapku? Dasar tidak sopan.

"Tiba-tiba kau datang, tanpa berkenalan, lalu mengundang mereka ke pernikahan kita!" Kataku sambil menatapnya. Aku ingin menjambak rambutnya agar dia menghadap ke arahku.

"Kau tidak ingin aku mengundang mereka?" Tanyanya datar.

"Bukan itu. Berkenalan maksudku."

"Bukankah itu tugasmu? Tapi kau hanya diam sejak aku datang. Jadi aku skip saja peranmu." Jawabnya santai. Masih menatap jalan.

Benar juga. Kalau dipikir-pikir itu memang tugasku. Tapi aku terlalu kaget saat itu. Dia menghampiriku sesuka hati. Dia tidak memberiku cukup waktu untuk bernafas tanpanya. Dan aku belum siap untuk bercerita pada Dion dan Laura bahwa sebentar lagi aku akan menikah. Jadi itu tetap salahnya bukan?

Aku berdehem lagi. Menata suaraku agar terdengar berani.

"Lalu tentang pernikahan dalam waktu dekat? Apa maksudmu?" Bagus. Suaraku terdengar berani dan menantangnya.

Mobil di depan kami mulai berjalan. Dia menginjak pedal gas untuk menyusul, lalu menjawab dengan santai.

"Aku bersedia menikah denganmu, kau bersedia menikah denganku. Bukankah pernikahan dalam waktu dekat terdengar mengesankan?"

Aku memutar bola mataku. Aku ingin memukul bibirnya dengan raket tennis di sam... tunggu! Dimana raket tennis itu? Kemarin dia masih disini.

"Dimana raket tennis itu?" Tanyaku spontan. Bukan dengan nada mengancam. Tapi dengan nada sedih dan kehilangan.

Dia melirikku sekilas.

"Raket tennis lebih penting dari pernikahan kita untukmu?" Ia bertanya dengan nada mengejek. 'Pernikahan kita'? Astaga, aku berdebar mendengarnya berucap seperti itu. Tapi aku tidak boleh lemah!

Aku mendengus kesal. Aku tidak punya apapun untuk membela diri sekarang.

"Kenapa kau tidak bertanya padaku terlebih dahulu? Ini juga pernikahanku."

Aku memandangnya dengan marah. Hidungnya langsung tertangkap oleh mataku. Hidung yang tadi bersentuhan dengan daun telingaku. Kejadian itu secara otomatis terputar ulang di otakku. Mukaku terasa panas. Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku ingin berdekatan dengannya lagi? Apa rasanya kalau ia mengendusku dengan hidungnya itu? Ya Tuhan! Mesum sekali kamu, Kin! Aku meruntuk pada diri sendiri.

Aku membuang muka. Mengalihkan pandangan ke luar jendela. Aku tidak mau si seksi itu melihat muka merahku.

"Aku rasa aku tidak perlu bertanya. Aku tahu kau menginginkanku sejak pertama kita bertemu." Katanya tenang.

"Bahkan aku bisa merasakan saat ini pun kau sedang menginginkanku." Tambahnya lagi.

Sial! Mukaku terasa makin panas. Aku langsung menatapnya dan protes dengan apa yang ia katakan. Ada senyum penuh arti yang terukir diwajahnya.

"Woah, percaya diri sekali!" Sanggahku dengan suara yang aku buat sesinis mungkin.

'Iya, Kin! Ucapannya sungguh benar." Sisi genitku membelanya.

Ia mengangkat alis dan melirikku lagi.

"Benarkah? Lalu apa arti muka merahmu itu?" Ia tersenyum sinis. Oh, ingin sekali kurontokkan gigi rapihnya itu!

Aku segera mencari alasan untuk menutupi bahwa kata-katanya tadi benar sekali. Aku tidak boleh ketahuan kalau aku memuja keseksiannya!

"Aku sedang marah! Bukan tersipu! Jangan salah paham." Aku melotot ke arahnya. Supaya terlihat meyakinkan.

"Apa tadi aku menyebutmu sedang tersipu? Aku hanya bilang mukamu merah."

Argh! Sial! Aku ingin memukul bibirku sendiri.

Aku kehilangan kata-kata. Ayolah! Apa yang harus kukatakan untuk membalasnya? Berpikir otak! Berpikir!

Sebelum aku sempat membalasnya, dia menepikan mobil. Dan berhenti.

"Jadi kau tidak ingin menikah denganku dalam waktu dekat?" Dia menetralkan persneling, menarik hand rem, lalu menatapku.

Aku terkejut. Apa ini? Aku harus membuatnya yakin bahwa aku tidak semudah itu.

"Tidak!" Aku menjawab dengan lantang. Ia mengangkat alis lagi.

"Kau tidak ingin bebas menyentuhku sepanjang hari?" Matanya intens menatapku. Terasa membakar seluruh permukaan wajahku. Kumohon, hentikan tatapan itu. Aku menyerah. Tadi aku memang ingin dia menatapku. Tapi bukan tatapan yang seperti ini.

'Cium dia, Kin!' Tanpa sadar aku menggigit bibir. Sisi genit ini membuatku gila.

"Kau tidak ingin berdekatan denganku selama yang kau mau?" Astaga, hentikan pertanyaan ini. Kumohon.

Aku hanya bisa menatapnya tanpa kata. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa. Tuhan, tolong usir si seksi ini dari depan mukaku sekarang. Aku sungguh ingin menarik lehernya agar menciumku. Berdekatan dengannya membuatku berubah menjadi gadis mesum.

Dia mendekat. Tuhanku semesta alam! Kenapa dia semakin mendekat? Ini ujian yang berat.

Jantungku berdebar hebat. Dia semakin dekat. Aku bahkan mulai bisa merasakan nafasnya menerpa wajahku.

Aku hanya bisa termangu, menanti apa yang akan dia lakukan. Aku bisa mencium parfumnya. Aroma maskulin menyapa hidungku. Aku menyukai parfumnya! Aku harap ia tidak mendengar detak jantungku yang sangat berisik ini. Apa dia akan menciumku? Astaga! Apa yang harus kulakukan?!

'Pejamkan matamu, bodoh!' Sisi genitku tidak sabar.

Aku takut. Aku tidak pernah berciuman dengan siapapun sebelumnya. Aku memundurkan tubuhku. Sialnya, punggungku telah benar-benar menempel pada pintu sekarang. Kulihat mata si seksi hampir tertutup.

Mau tak mau, aku menuruti sisi genitku. Kupejamkan mataku perlahan.

Lima detik, sepuluh detik. Aku mengerutkan kening. Kenapa lama sekali? Kenapa tidak terjadi apapun pada bibirku? Tapi aku masih bisa merasakan nafasnya di wajahku.

Kuberanikan diriku untuk membuka mata. Dia masih di sana. Beberapa centimeter di depanku. Jarak kami begitu dekat. Kurasakan mukaku semakin panas.

Lalu kulihat ia tersenyum puas. Apa? Dia tersenyum? Dia tidak menciumku?

"Aku sudah mendapatkan jawabannya. Bahkan tubuhmu tidak menolak untuk kunikahi sekarang juga, nona." Dia tersenyum penuh arti. Lalu menjauh. Duduk dengan nyaman di kursinya. Melepas hand rem dan memasukkan persneling 1, lalu menginjak pedal gas. Mobil kembali menyusuri jalanan beraspal.

Butuh sepersekian menit untuk menetralkan tubuhku dan menyadari apa yang sedang terjadi disini. Dia melakukan apa barusan? Dia menggodaku? DIA HANYA MENGGODAKU? Woah! Amarahku sudah mencapai ubun-ubun. Aku sangat ingin melemparnya ke perairan yang penuh hiu sekarang. Aku ingin mencakar-cakar wajahnya yang sedang tersenyum puas itu. Iya, senyum yang masih mengembang sejak ia menjauhkan mukanya dari mukaku.

Aku segera membenarkan letak dudukku. Kualihkan pandanganku keluar jendela. Aku tidak sanggup menanggung rasa malu ini, Tuhan. Aku memejamkan mataku dan menarik nafas berkali-kali. Aku harus bisa mengontrol emosiku saat ini. Sial! Aku ingin memakinya. Kulipat dua tanganku di depan dada.

Kurasakan ia melirikku sekilas. Tepat ketika aku siap memakinya, dia berkata dengan tenang.

"Baiklah, kita akan menikah dalam waktu dekat, ratu gengsi. Persiapkan dirimu dengan baik." Pernyataan yang begitu penuh dengan dominasi. Walaupun dia masih menghadap ke depan dan fokus mengemudi, aku bagai tersihir sehingga tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Semua umpatan yang sudah kusiapkan dan berada diujung bibirku tertahan. Dia bilang apa tadi? Menikah? Dalam waktu dekat? Dia memanggilku ratu gengsi? Astaga. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Harus marah atau senang? Otakku sedang tidak bisa bekerja dengan baik.

Ia mengangkat jari telunjuknya ke atas.

"Ah ya. Satu lagi. Hindari bersentuhan fisik dengan Dion atau lelaki manapun. Kau milikku sekarang. Dan aku tidak suka berbagi."

***

Tuesday, April 5, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 4)

Laura menggelayut di lenganku. Dia terlihat senang karena Tio mengajaknya berlibur ke Bali minggu depan. Pagi ini senyumnya murah sekali. Ia obral pada siapapun yang bertemu dengan kami di jalan.

"Pasti dia mau nembak aku disana, Kin! Sweet banget. Kyaaa. Jadi ga sabar!" Mood Laura sedang benar-benar baik.

Dari jauh kulihat seseorang mendekat. Dengan senyum manisnya. Menghampiriku dan Laura.

"Sudah bertemu dengan bos besar?" Sapanya. Iya, itu adalah sapaan yang menyebalkan. Aku mengerucutkan bibirku. Dia tertawa puas.

"Dion jangan bikin Kinanti bete pagi-pagi deh." Sahut Laura. Tapi dia ikut tertawa juga. Dasar siluman kasmaran berbulu ular. Anggap saja ular berbulu sekarang. Aku menetapkannya sejak pagi ini.

"Kalian gak lucu!" Aku mendengus kesal. Lalu berjalan meninggalkan mereka. Dion dan Laura mengejarku. Lalu mereka memeluk bahuku bersamaan. Sambil berjalan bersisian. Posisiku berada ditengah, antara Dion dan Laura. Baiklah, aku merasa seperti salah satu anggota teletubbies sekarang. Dion mengacak rambutku gemas. Lalu kami tertawa bersama.

Sebenarnya aku sedang kesal pagi ini. Karena untuk kesekian kalinya aku gagal menemui pak Mahmud, yang kami panggil  'bos besar' tadi. Kenapa kami panggil begitu? Karena beliau terlihat begitu makmur sejahtera (baca: berbadan besar).

Aku sedang dalam proses mengurus lembar pengesahan. Tiga dosen penguji skripsiku harus membubuhkan tanda tangan di lembar sakti itu. Namun karena jam terbang mereka, aku baru berhasil mendapatkan tanda tangan 2 dosen setelah  dua minggu. Sekarang, tinggal bos besar saja yang harus kukejar. Dan pagi ini, aku gagal lagi. Menyebalkan.

Hpku yang sejak tadi kugenggam karena menunggu kabar dari bos besar bergetar. Sepertinya ada notifikasi messenger.

Abimanyu:
"Bisa tidak kau lepaskan pelukanmu dengan lelaki itu?"

Mataku mengerjap membaca pesan itu. Apa maksudnya? Mungkin pesan itu bukan tertuju untukku. Aku baru saja berniat mengabaikannya ketika hpku bergetar lagi.

Abimanyu:
"Iya, kau. Kinanti. Pesan ini untukmu."

Aku berhenti seketika. Apa dia peramal atau semacamnya? Kenapa dia bisa tahu apa yang sedang kupikirkan? Dion dan Laura menoleh. Langkah mereka otomatis ikut terhenti karena kami tadi berjalan sambil berpelukan. Mereka menatapku heran. Sementara aku langsung mengedarkan pandangan.

'Apa si seksi itu disini? Cari yang benar, Kin! Lebarkan matamu!' Sisi genitku mulai mengendus kehadiran si seksi.

Aku sudah melebarkan mataku. Tapi tidak sedikitpun kulihat ada tanda-tanda keberadaan si seksi di sekitar sini.

"Kenapa, Kin? Mencari seseorang?" Dion bertanya sambil menatapku heran. Laura memandangku dengan tatapan yang sama.

Hpku bergetar lagi. Satu pesan dari si seksi.

Abimanyu:
"Aku akan menghampirimu nanti. Jagalah jarak dari lelaki yang sedang menatapmu itu."

Aku mendesah. Untuk apa si seksi datang kemari? Lalu untuk apa pula dia mengirim pesan seperti itu? Dasar aneh.

"Kenapa, Kin? Jawab ih. Bengong mulu." Laura mengguncang bahuku. Aku memandang Laura dengan tatapan kosong.

Laura! Astaga, apa yang akan kukatakan padanya jika nanti si seksi menghampiriku? Matilah aku. Laura pasti akan marah karena aku tidak bercerita apapun tentang si seksi. Aku sudah bisa membayangkan suaranya naik beberapa oktaf dari biasanya. Dengan tanpa sadar aku mengusap telingaku.

"Kamu baik-baik saja?" Dion bertanya lagi. Aku mengangguk.

Tiba-tiba aku merasa lelah. Ada apa lagi ini? Aku sudah dikejutkan dengan banyak hal dua hari kemarin. Dan hari ini pun si seksi menyusulku?

"Kantin yuk." Ajakku dengan berjalan mendahului. Mereka lalu mengekoriku tanpa suara.

***

Aku memainkan sendok dan garpu diatas makananku dengan gelisah. Satu porsi gado-gado yang biasanya membuat liurku menetes terlihat tak menarik sama sekali hari ini. Woah, si seksi itu benar-benar menjungkirbalikkan nafsu makanku tiga hari ini.

Laura menyenggol bahuku.

"Butuh pembalut?" Katanya berbisik. Aku terkejut dengan pertanyaannya, namun sedetik kemudian aku terkekeh.

Aku menggeleng sebagai jawaban. Aku mengerti, mungkin Laura sedang kebingungan melihatku saat ini. Pemandangan seorang Kinan mengaduk-aduk satu porsi gado-gado adalah hal yang tidak biasa.

Laura mengerutkan alis dan mengangkat bahu memandang Dion.

"Kinan, kamu serius tidak apa-apa?" Aku mengangkat kepalaku mendengar pertanyaan Dion. Tersenyum, lalu mengangguk pelan.

Dion dan Laura adalah dua makhluk yang selalu ingin tahu tentang kehidupanku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja. Mereka akan dengan murahnya menyediakan bahu, telinga, dan tisyu tiap aku mempunyai masalah. Lalu mengajakku berlibur, belanja, nonton, apa saja agar aku bahagia. Aku dan Laura mengenal Dion sejak ospek. Kami satu cluster waktu itu. Kemudian secara alami, kami menjadi dekat sampai saat ini. God, terima kasih telah mengirim mereka untukku.

Tapi sekarang, aku belum punya nyali untuk menceritakan tentang si seksi pada mereka.

"Boleh bergabung?" Sebuah suara bariton mengagetkan kami. Pasti pemiliknya seksi sekali. Aku mengerutkan kening. Tunggu! Aku kenal suara itu! Itu suara si seksi. Aku segera mendongakkan kepala dan mata kami bertemu. Mataku membulat.

Dia? Untuk apa dia kemari? Demi apapun, setidaknya bisakah dia menghampiriku di tempat lain? Tidak di depan Dion dan Laura!

Aku segera menatap mereka. Mereka pun menatapku dengan mata penuh tanya. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

Lalu dengan sigapnya, Dion yang duduk didepanku segera bergeser. Memberikan ruang untuk si seksi agar bisa duduk. Namun si seksi mengalihkan matanya pada Laura yang duduk disebelahku.

"Boleh aku duduk disitu?" Laura bengong mendengarnya. Aku pun menatapnya tak percaya. Tidak bisakah ia sedikit ramah dan sopan pada teman-temanku? Sial, aku segera menundukkan kepalaku. Kenapa si seksi bersikap begitu?

"Ah, silakan." Laura segera berputar dan duduk disamping Dion.

Si seksi segera duduk disampingku.

Untuk beberapa menit, kami hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi aku tahu, Laura dan Dion pasti memikirkanku dan bertanya-tanya siapa sebenarnya manusia yang mendudukkan pantatnya dengan nyaman dan tanpa dosa di sampingku ini.

Hingga sebuah suara memecah keheningan diantara kami.

"Datanglah ke pesta pernikahan kami dalam waktu dekat." Si seksi memandang Dion dan Laura dengan tenang. Lalu tersenyum simpul.

Aku segera menolehkan kepalaku memandangnya tak percaya. Dia gila! Aku percaya, Dion dan Laura pasti sama terkejutnya denganku. Apa yang baru saja dia katakan? Tanpa sengaja mataku melirik jakunnya. Astaga fokus, Kin! Kau sedang sangat ingin marah padanya saat ini. Abaikan jakun sialan itu!

Aku berdehem sambil memasang muka protes padanya. Dia menoleh padaku.

"Kau ingin pulang? Baiklah." Si seksi segera berdiri dan mengambil tas di pangkuanku. Lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku. Jantungku berdebar bukan main saat ini.

"Aku tunggu di parkiran." Bisiknya. Tuhan, bulu romaku berdiri. Merinding dengan jarak kami dan suara lirihnya. Ujung hidungnya bersentuhan dengan daun telingaku barusan. Ada gelenyar aneh yang kurasakan. Tubuhku merespon sentuhan kilat itu dengan cepat. Mukaku terasa memanas. Pasti menjadi semerah tomat sekarang.

Aku tertegun sesaat sampai suara Laura menyadarkanku.

"Kin, dia membawa tasmu." Laura melambai-lambaikan tangannya di depan mataku. Aku terkejut dan segera beranjak. Kulihat si seksi sudah sampai di pintu kantin dan berjalan menuju parkiran.

"Aku pergi dulu." Kataku dengan muka menyesal pada Dion dan Laura. Aku merasa tidak enak akan sikap si seksi pada mereka barusan. Tanpa berkenalan dan menyapa dengan sopan, ia tiba-tiba mengundang mereka ke acara pesta pernikahan kami. Memangnya dia pikir dia siapa?

Pesta pernikahan? Dalam waktu dekat? Astaga! Apa maksudnya? Aku segera mengejar si seksi ke arah parkiran.

Aku melihatnya sudah berdiri bersandar di mobil dengan kaki rapat menyilang, membawa tasku sambil memainkan ponselnya disamping pintu penumpang yang sudah terbuka. Ya Tuhan, berdiri seperti itu saja ia sudah tampak begitu seksi dimataku.

Aku berhenti sejenak di depannya. Mengatur nafas setelah berlari mengejar si seksi ini. Ia memandangku dan mengisyaratkanku untuk masuk dengan ekor matanya.

"Aku bawa mobil." Kataku pelan.

"Mobilmu sudah diurus oleh supirku." Aku mendelik. Berarti dia membuka tasku untuk menemukan kunci mobil?

"Kau membuka tasku?" Tanyaku dengan suara meninggi.

"Kau ingin mencaci dan mengacungkan raket tennis padaku di depan supirku? Aku tidak akan suka dengan pemandangan itu."

Aku melongo tak percaya. Dia selalu seenaknya sendiri padaku. Dia pikir dia siapa? Aku rasa mulai sekarang tiap hari aku akan menanyakan hal itu.

'Dia calon suamimu, bodoh! Lihatlah kemeja yang digulung itu, astaga, peluk dia, Kin!' Sisi genitku muncul lagi.

"Sudah selesai berdiskusi pada diri sendiri? Masuklah." Kalimatnya begitu mendominasi. Sehingga dengan tanpa sadar aku segera masuk. Dia meletakkan tas di pangkuanku. Dan menutup pintu.

Ia memutar lalu membuka pintunya. Duduk dengan nyaman, lalu memasang seatbelt dan bersiap menyalakan mesin mobil.

Aku memandangnya dengan perasaan campur aduk. Menyipitkan mataku dan memanyunkan bibirku. Aku marah. Aku punya banyak pertanyaan yang harus ia jawab.

"Kau ingin aku memasangkan sabuk pengamanmu?" Dia melirikku sekilas. Aku mendengus dan memasang seatbelt ku. Lalu menatapnya lagi. Kupasang wajah semarah mungkin. Dia menoleh.

"Kau ingin aku menciummu?" Dia menatapku dengan muka datar. Wajahku panas seketika mendengar pertanyaannya. Mataku membulat. Dia bicara apa tadi? Menciumku? Apa maksudnya?

"Simpan bibir panjangmu itu." Katanya sambil menyalakan mesin mobil. Lalu menginjak pedal gas. Menatap ke depan dan fokus mengemudi. Seperti tidak pernah mengucapkan apapun padaku barusan.

Aku menggerutu dalam hati. Sialan kau, seksi. Tunggu pembalasanku!

***

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 3)

Aku duduk dengan gelisah disampingnya. Tanganku bergerak-gerak tak nyaman memegangi mini ransel yang ada dipangkuanku. Kulirik ia dengan ekor mataku. Si seksi itu tampak serius mengemudi.

Bahkan hanya dengan ekor mataku, ia tampak begitu seksi. Wajahnya, jakunnya, lengannya, dan pergelangan tangan kirinya yang saat ini dilingkari jam tangan berwarna hitam terlihat sempurna dari samping. Ya Tuhan, kuatkan imanku dari godaan makhluk seksi ciptaanMu ini.

Ekor mataku lelah meliriknya. Mari alihkan pandangan! Aku melihat ke depan. Jalanan tampak lenggang karena ini hari Minggu. Orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah untuk bersantai bersama keluarga setelah weekdays yang melelahkan.

"Kau bosan?" Suara baritonnya terdengar sangat seksi. Jakunnya bergerak. Tuhanku semesta alam!

'Jatuhkan kepalamu ke bahunya, Kin!' Sisi genitku mulai beraksi. Sepertinya dia hanya muncul ketika melihat si seksi ini.

"Eh, apa?" Tanyaku dengan muka bodoh. Bagaimana tidak? Badannya yang terbalut polo shirt hitam dan celana selutut serta sneaker berwarna coklat bergaya santai yang membuatnya semakin seksi sudah menyihirku sejak tadi.

Karena aku hanya bengong, dia langsung menekan tombol power tanpa bertanya kepadaku. Kemudian telingaku mulai dimanjakan oleh suara Adam Levine. Lagu Animals dari Maroon5 yang menjadi hits tahun lalu mengisi keheningan diantara kami.

Aku menunduk melihat dress selututku. Pagi tadi ibu mendandaniku. Memintaku untuk memakai dress ini. Dress selutut bermotif bunga dengan warna dasar soft pink. Panjang lengannya sekitar 10cm.  Motif bunganya kecil dan memberikan kesan manis. Dibagian perut terdapat kerutan sehingga bagian bawahnya jatuh dan terkesan lebar.

Rambut kecoklatanku yang sepanjang dada dibiarkan tergerai. Lalu ibu melihat deretan tas yang kugantung dan menunjuk mini ranselku yang manis ini dengan senyum lebar.

"Pakai tas yang itu!" Kata ibu tadi pagi dengan mata berbinar.

Tidak lama setelah itu, ibu memilihkan satu flat shoe berwarna merah bata di rak sepatu. Aku memanyunkan bibirku. Untuk setelan dress selutut, aku lebih suka menggunakan boots. Aku melihat koleksi boots ku kemudian menjatuhkan pilihan pada low cut ankle boot berbahan kulit. Warnanya coklat, tingginya sebatas bawah mata kakiku. Ibu menaikkan alisnya. Namun setelah melihat penampilanku di kaca, ibu tersenyum puas.

"Kamu terlihat cantik sekali hari ini, Kin." Ibu menatapku dengan binar dimatanya. Jadi maksud ibu aku terlihat jelek pada hari-hari yang lain? Begitu?

Aku memutar bola mataku. Aku justru merasa seperti anak TK yang manis saat ini.

"Apa ini tidak tampak kekanakan bu? Aku merasa seperti anak TK sekarang." Ibu mengerutkan kening, memutar tubuhku untuk memeriksa ulang, dan menepuk keningku gemas.

"Gadis manapun akan iri dengan kaki jenjang dan postur tubuh sempurnamu, sayang. Kau terlihat manis. Percayalah. Berterimakasihlah pada uti." Ibu menepuk pantatku dan segera berlalu.

Iya, aku harus berterima kasih pada uti, ibu dari ayah. Uti memiki kecantikan alami. Bahkan saat bangun tidurpun, bagiku uti terlihat sangat seksi. Uti mempunyai darah Inggris, Jerman, dan Spanyol dalam diri beliau. Bentuk wajah seksi, tubuh ideal, serta kaki jenjang yang melekat pada uti bisa membuat wanita manapun iri. Yang aku sukai, kulit uti bukan putih pucat. Tapi agak eksotis. Dan yang paling seksi dari uti adalah senyum beliau. Astaga, senyum itu menawan sekali. Bagaimana aku harus menggambarkan senyum menawan uti pada kalian? Aku rasa senyumnya mirip dengan senyuman Cameron Diaz. Iya, seseksi itu.

"Abimanyu sudah menunggu dibawah. Bergegaslah." Kata ibu sebelum hilang dibalik pintu kamarku.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke samping. Mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil yang sedang dikemudikan oleh si seksi itu. Mataku dimanjakan oleh bentangan sawah dengan model terasering yang menghijau. Aku mengerutkan kening. Dimana ini? Aku segera beringsut, menempelkan tubuhku pada pintu mobil. Jangan-jangan dia mau menculikku? Aku menatapnya dengan pandangan siap menyerang. Dia masih fokus pada jalan. Tanganku mencari-cari apapun yang bisa kugunakan untuk memukulnya. Dan aku menemukan raket tennis yang masih bersarung, disamping tempat dudukku. Aku mengacungkan benda itu padanya.

"Mau kemana kita?" Tanyaku dengan suara yang kupaksakan agar terdengar berani. Tapi pita suara sialan ini ikut ketakutan sehingga produksi yang ia lakukan kurang maksimal. Suara yang keluar dari mulutku terdengar seperti rintihan tikus yang terjepit dan meregang nyawa.

Ia hanya melirikku sekilas. Tanpa ekspresi.

"Aku tidak akan menyakitimu. Letakkan raket itu. Sebentar lagi kita sampai."

Kenapa? Dia bilang apa barusan? Aku tidak fokus karena melihat jakunnya bergerak-gerak.

Tidak lama setelah itu, mobil berhenti. Dia turun dan memutar. Membuka pintu untukku. Aku hanya memandangnya. Matanya mengisyaratkan aku untuk segera  turun. Aku segera melepas seatbelt dan turun. Membenarkan letak dressku, memakai mini ranselku, dan merapihkan rambutku dengan tangan. Done.

Ia berjalan dan tubuhnya seakan memintaku untuk mengikutinya. Aku memandang sekeliling. Ini adalah halaman rumah yang luas dan indah. Tamannya terawat dengan baik, bersih, dan pemandangan sekitar membuatku menahan nafas. Kami berada di dataran tinggi, dengan bentangan sawah terasering dan pepohonan rindang di sepanjang mata memandang. Aku sampai harus memutarkan tubuhku untuk menikmati pemandangan. Kuhirup udara sebanyak mungkin. Ah, sejuk sekali. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan hijau seperti ini.

Tiba-tiba punggungku menabrak sesuatu. Aku langsung berbalik. Mataku tepat berada di depan dada si seksi. Astaga! Aku buru-buru memundurkan langkah. Sambil menunduk.

"Maaf.." kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Entah untuk apa aku meminta maaf. Karena menabrak dada bidangnya atau karena terlalu asik dengan diriku sendiri sejak tadi.

"Masuklah." Katanya seperti tak mendengar ucapan maafku. Ia mempersilakanku untuk masuk ke rumah yang berada di depan kami. Pintu rumah itu telah terbuka. Rumah dengan desain modern yang luas. Tidak banyak barang dalam rumah ini sehingga menambah kesan luasnya. Ada banyak jendela dalam ukuran besar dan semuanya terbuka, membuat sirkulasi udara di rumah ini sangat bagus. Kesan megahnya terlihat ketika telah sampai di ruang tengah. Ada semacam kolam ikan berbentuk lingkaran di tengah ruangan. Dengan suara gemericik air. Kolam itu dikelilingi oleh batu koral besar yang disusun secara rapih. Cantik sekali. Tidak jauh dari situ, terdapat set meja teh menghadap ke luar, dimana mata akan dimanjakan oleh pemandangan hijau yang indah. Sepertinya rumah ini memang tidak didesain untuk rumah keluarga. Rumah ini lebih seperti rumah yang bisa kita gunakan untuk melepas penat. Aku menyukai rumah ini!

"Kau disini?" Aku menoleh. Si seksi berbicara dengan seorang gadis cantik. Rambutnya pendek sebatas leher, berwarna hitam legam. Wajahnya berbentuk oval. Bibirnya penuh terbalut dengan lipstik warna merah. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna marun yang menunjukkan lekukan tubuhnya. Sebagai bawahan ia mengenakan mini skirt setengah paha. Dipadu dengan high boot yang cantik sekali. Dan tangannya menjinjing handbag milik salah satu brand kenamaan.

Aku menggigit bibir. Sial, aku pasti terlihat seperti bocah ingusan dimatanya.

Ia tersenyum lembut pada si seksi.

"Aku hanya mampir untuk menyapa mama dan mengambil barangku yang tertinggal." Ia sedikit mengangkat tasnya. Lalu tersenyum lagi. Lesung pipitnya menyapa mataku. Astaga, dia sempurna.

Ia melihatku sekilas dan tersenyum. Lalu ia melenggang pergi. Kuperhatikan si seksi melihatnya hingga hilang dibalik tembok. Tuhan, tatapan apa itu? Apa si seksi menyukainya?

Kemudian matanya tertuju padaku. Mataku membulat.

'Ya, ada yang bisa saya bantu, tuan?' Batinku berkata pada mata seksi itu.

"Kemarilah." Ia membuka pintu sebuah kamar. Setelah pintu itu terbuka lebar, mataku melihat sosok yang terbaring lemah dengan selang infus yang terhubung ke tangannya. Si seksi mendekati wanita paruh baya itu. Berdiri di samping ranjang. Walaupun sedang tak sehat, semburat kecantikan masih terlihat diwajahnya. Aku tersenyum ketika melihat si seksi mengelus tangan itu dengan halus.

"Ma, aku datang bersamanya." Kata si seksi pelan. Sambil mengecup kening mamanya.

Mata yang terpejam itu bergerak-gerak. Perlahan terbuka. Lalu sebuah senyuman cantik mengembang disana. Wanita itu mengelus rambut si seksi. Lalu beliau menatapku. Tersenyum manis, dan mengulurkan tangan ke arahku. Aku mendekat. Berdiri disamping si seksi.

Mamanya mengulurkan dua tangan. Aku tersenyum dan mendekat. Lalu memeluk beliau.

"Saya Kinanti, tante." Kataku pelan. Aku merasakan kasih sayang dalam pelukannya. Nyaman sekali.

"Mama. Panggil aku mama, cantik." Koreksinya. Lalu ia mengecup keningku.

"Selamat datang di keluarga kami."
Mamanya tersenyum lagi. Senyum yang sampai ke matanya. Senyum bahagia.