Aku berdehem. Mencoba mengatur suaraku agar tidak meninggi. Aku tahu ini salahku, tapi aku boleh protes bukan? Aku boleh terkejut dengan kata-katanya barusan bukan?
"Apa yang ingin kau bicarakan dua hari yang lalu?" Tanyaku dengan hati-hati. Aku tidak mau dia marah dan mengemudi dengan sembarangan lalu kami berdua terlibat kecelakaan. Itu tidak lucu.
Tuan seksi sialan itu membisu. Dia hanya memandang lurus ke arah jalan. Seolah tak mendengar pertanyaanku. Apa dia masih marah?
Aku berdehem lagi. Mencoba memancingnya agar menatapku. Mungkin dia menginginkan pertanyaan yang lain.
"Apa mama tahu tentang ini?" Kubuat suaraku semanis yang kubisa.
Dia masih membisu. Sial!
"Kau masih marah padaku?" Tanpa sadar aku mulai memilin-milin ujung kemejaku.
Hening.
"Ayolah, kumohon! Katakan sesuatu." Apa suaraku sudah terdengar seperti seseorang yang mulai putus asa?
"Aku minta maaf. Aku menyesal."
Dia masih mengacuhkanku. Aku menarik nafas. Sabar, Kin! Bagaimanapun ini salahmu.
Aku menarik nafas lagi. Lalu menyemangati diri sendiri.
Ayo, Kin! Kreatif! Pikirkan sesuatu yang bisa membuatnya menoleh padamu!
"Kau lapar?"
Aku memandangnya dengan muka datar. Sepertinya dia tuli.
Ayo otak! Berpikir!
"Kau menyukaiku?" Aku terkejut dengan pertanyaanku sendiri.
Kau gila, Kin.
Aku lihat dia melirikku sekilas. Lalu kembali fokus pada jalan. Aku tersenyum senang. 'Gotcha, sexy!'.
Woah, baru kali ini aku merasa bahagia berbincang dengannya. Aku tertawa dalam hati.
Jakunnya mulai bergerak. Tuhanku semesta alam! Here we go again. Seksi sialan itu mulai beraksi.
"Suka atau tidak, aku tetap akan menikahimu bulan depan." Aku memanyunkan bibirku. Orang macam apa dia ini? Hanya itu tanggapannya setelah aku berjuang setengah mati?
Tiba-tiba aku teringat komentar Laura tempo hari. Apa katanya waktu itu? Kode romantis? Manusia seperti ini melakukan kode romantis? Aku rasa mang ucup lebih romantis daripada seksi sialan ini.
"Kenapa harus bulan depan? Itu terlalu cepat untukku." Dia terdiam. Aku menghela nafas. Mulai menyusun kalimat yang pas agar dia tidak tersinggung atau marah padaku.
Aku mengambil nafas dan mulai menjelaskan dengan nada yang halus.
"I mean, kita bahkan belum saling mengenal dengan baik. Bagaimana mungkin kita menikah secepat itu?" Lanjutkan, Kin! Perjuangkan hakmu! Aku yakin dia menyimak perkataanku.
"Kau bahkan tidak mengenalku. Tidakkah kau merasa takut jika ternyata aku punya kebiasaan buruk yang bisa membuatmu jijik atau sebagainya?" Hell! Kenapa aku jadi merendahkan diriku sendiri? Aku menggigit bibirku.
"Aku sudah tahu segala hal tentangmu. Bahkan ukuranmu sekalipun. Dan aku tidak keberatan dengan itu." Katanya datar.
Mukaku mulai terasa panas. Apa dia bilang? Ukuranku? Dia tahu ukuranku? Astaga mesum sekali dia!
Setelah aku jelaskan panjang lebar bahkan dengan persiapan menyusun kalimat, dia menjawabku seperti itu? Dia gila.
"Tapi aku tidak tahu apapun tentangmu!" Suaraku mulai terdengar meninggi. Antara marah, berontak, putus asa, dan ingin menutup rasa malu.
"Kau terlalu sibuk dengan lelaki lain." Dia terdengar sinis dalam kalimatnya barusan.
Aku mendengus kesal.
"Oh ayolah! Sampai kapan kau akan bersikap begini? Tidak bisakah kita berbicara secara layak?"
"I'm listening, queen."
Dia memanggilku apa? 'Queen'? Mau tak mau, aku sedikit tersipu mendengar itu.
"Maksudku kita bisa melakukan hal-hal seperti orang lain pada umumnya. Makan di luar, pergi ke bioskop, jalan-jalan, dan sebagainya." Kurasa suaraku sudah kembali normal. Tidak setinggi tadi.
"Kau mengajakku berkencan?" Tembaknya terus terang.
Sial! Apa aku baru saja melakukannya? Baiklah, anggap saja begitu.
"Bukan begitu, aku..." Sebelum aku selesai bicara, dia segera memotong kalimatku.
"Oke. Besok aku jemput jam 7 pagi."
Aku melongo. Apa dia bilang? Jam 7 pagi? Untuk apa kencan sepagi itu?
"Kita akan pergi ke upacara bendera? Itu terlalu pagi!" Kataku setengah mengejek.
"7 pagi atau kau boleh mengenalku setelah menikah nanti." Woah, dia benar-benar keras kepala.
Aku menghela nafas. As you wish, tuan menyebalkan.
Tanpa sadar sejak tadi aku tidak berhenti menatapnya. Apa yang kulakukan? Apa aku menikmati obrolan kami malam ini?
Kulihat dia mulai menepikan mobil. Lalu berhenti.
"Untuk apa berhenti?"
"Kau ingin pulang ke rumahku?" Katanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Aku mengerutkan kening.
Dia mulai melepas seatbelt, lalu menatapku dengan muka datarnya.
"Sekarang jam 9. Dan kita sudah sampai." Kalimatnya seketika membuatku melihat sekeliling. Tuhan! Ini sudah sampai di rumah? Cepat sekali? Kenapa aku tidak menyadarinya?
Lalu untuk apa kami keluar tadi? Hanya untuk berbicara di dalam mobil? Dasar pelit!
Dia membuka pintunya lalu memutar dan membuka pintuku.
"Terima kasih." Kataku sambil tersenyum.
Astaga, kenapa aku tersenyum padanya? Tiba-tiba aku menyesali itu.
No comments:
Post a Comment