Tuesday, April 19, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 11)

(Still) Kenan's PoV

Kinan menoleh ke belakang. Kulihat ia tertawa geli melihatku bersungut-sungut memanyunkan bibir. Sial! Kalau saja aku tahu mereka akan membawaku kesini, aku pasti menolak dari awal. Kulebarkan mataku bulat-bulat agar dia tahu aku sedang kesal. Bahkan aku yakin tatapanku terlihat seolah akan menelannya hidup-hidup. Iya, mereka mengajakku ke mall. Padahal Kinan sangat paham tentang itu. Bahwa aku tidak suka mall. Bahwa aku lebih suka tempat-tempat outdoor seperti hutan, pantai, gunung, dan hal-hal yang berbau alam lainnya.

Tapi kenapa sore ini dia harus menculikku kesini? Bahkan untuk menggantikan Tio? Cih, sialan!

Rencana awal Kinan sore ini adalah double date. Kinan kencan dengan Abimanyu, Laura kencan dengan Tio. Namun karena lelaki yang telah berhasil membuat Laura tergila-gila itu sedang ada turnamen basket, jadi Kinan menculikku untuk menemani Laura.

Dia menoleh padaku lagi. Dan tertawa.

"Dih, udah dong manyunnya. Gurat-gurat gantengnya kececeran tuh. Hahaha." Bisa-bisanya dia menggodaku di saat seperti ini! Laura ikut tertawa.

"Tau nih, senyum please!!" Laura menggelayut manja di lenganku dengan memperlihatkan puppy eyes-nya. Jika Laura sudah mengeluarkan jurus pamungkasnya itu, maka aku dan Kinan tidak akan pernah bisa menolak apapun permintaannya.

Kutatap mata Laura sambil mengepalkan tangan. Lalu perlahan mukaku membaik. Ketampananku kembali. Dan bibirku menyusut ke tempat semula.

'Da*n, she's so cute!!'

***

Kinan dan Abimanyu sedang mengantri untuk memesan tiket. Antriannya panjang mengular. Kalau aku jadi mereka, aku pasti memilih untuk pulang saja. Aku tidak suka mengantri terlalu panjang seperti itu.

Iya, mereka mengajakku dan Laura untuk menonton film di bioskop. Kenapa tidak nonton berdua saja sih?

Aku melihat ke arah Kinan dan Abimanyu. Mereka tampak mengobrol. Sepertinya dia sudah mulai menyukai Abimanyu. Mata kinan selalu menginginkan lelaki itu walaupun bibirnya berkata lain. Aku yakin Abimanyu pasti juga tahu akan hal itu. God, kenapa kakakku sangat mudah dibaca?!

Aku dan Laura menunggu mereka sambil duduk.

"Aku mau beli popcorn dan minuman." Laura berdiri dan menatapku.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku tahu, tidak adil rasanya kalau Laura harus menjadi sasaran kekesalanku dengan memanyunkan bibirku sepanjang sore ini.

"Pengen sesuatu?" Tanyanya sambil membalas senyumku.

Aku menggeleng.

"Oke." Laura segera beranjak menjauh.

Tanpa kusadari, Laura sudah duduk kembali di sampingku dan menyodorkan popcorn. Tangannya terlihat penuh. Aku segera membantunya.

"Masih bete ya?" Tanya Laura. Dia memiringkan kepalanya untuk menatapku lebih dekat. Aku bisa mencium wangi shamponya. Rambutnya jatuh mengikuti gerakan kepalanya dengan begitu indah.

"Udah engga kok. Puppy eyes sialan tadi merusak urat-urat bete milikku."

Laura tertawa sambil memukul gemas dadaku dengan sebelah tangannya. Lalu ia lanjutkan dengan mengacak rambutku penuh sayang. Mukanya terasa dekat dengan mukaku. Matanya ikut tersenyum seperti bibirnya. Cantik sekali. Rasa bete karena diculik ke mall yang tadi memenuhiku sudah luluh lantah sejak melihat puppy eyes-nya. Hilang sudah. Entah kemana. Entah mengapa. Aku pun tak tahu.

"Kamu nih, bisa aja ngelesnya!" Laura tertawa lagi. Aku tersenyum menanggapi kalimatnya.

"Kepalaku pusing. Gini bentar ya." Tiba-tiba Laura menyandarkan kepalanya di bahuku. Matanya terpejam. Tangannya memeluk kotak popcorn.

Aku menatapnya khawatir.

"Kamu sakit?"

Dia hanya menggeleng. Sambil tersenyum.

"Beritahu aku kalau mereka sudah selesai ya." Ia mendongak menatapku.

Aku mengangguk.

Bahuku kembali disapa oleh pelipisnya.

"Ah, ini nyaman sekali." Lirihnya sambil tersenyum.

***

"Bagus tidak?" Kinan bergerak memutar di depan Abimanyu. Ia menatap flat shoe berwarna gold yang ia coba.

"Bagus." Kata Abimanyu singkat. Aku yang duduk disebelahnya mengangguk mengamini. Sepatu itu memang terlihat sangat cantik di kaki Kinan.

Kinan lalu tersenyum senang.

"Okay! You guys are awesome!" Ia segera berbalik untuk mencari mangsa lain. Ia terlihat sangat bahagia.

Aku terkekeh melihat tingkah Kinan.

"Dia sering mengajakmu seperti ini?" Tanyaku pada Abimanyu.

"Tidak. Ini pertama kalinya kami pergi ke mall, nonton bioskop, dan belanja bersama." 

Benarkah? Lalu apa yang mereka lakukan sebulan ini untuk pendekatan?

Sebelah bibirku terangkat ke atas. Dia tidak seburuk yang kubayangkan. Aku pikir dia om-om direktur mesum yang hanya tergiur oleh fisik Kinan saja. Ternyata dia muda, mapan, dan sopan. Aku belum pernah melihatnya menyentuh Kinan sedikitpun sejak tadi. Baguslah, setidaknya kakakku tidak menikah dengan lelaki brengs*k. Walaupun wajahnya selalu terlihat datar, tidak pernah menampakkan ekspresi apapun. Tapi entah kenapa aku yakin satu hal. He's a good man. Dan Kinan akan baik-baik saja bersamanya.

Setelah acara nonton tadi, kami pergi makan, lalu berakhir seperti ini. Para gadis berhenti untuk berbelanja. Aku dan Abimanyu hanya mengikuti kemanapun mereka berjalan.

Kinan kembali dengan dua kantong berisi sepatu. Senyumnya mengembang.

"Done! Kita susulin Laura, yuk!"

Ia membawa kami keluar dari toko sepatu dan berjalan menuju butik baju milik salah satu designer lokal kenamaan. Aku mengedarkan pandangan. Koleksinya hanya terbatas pada baju-baju formal saja. Tapi pilihannya cukup lengkap. Penataannya pun rapih. Di sebelah kanan digunakan untuk baju wanita dan di sebelah kiri terhampar banyak baju pria.

"Kalian mau mencoba sesuatu?" Tanya Kinan sambil mengangkat alisnya.

Aku dan Abimanyu menggeleng kecil.

Kinan tertawa melihat kami.

"Oke, kita tunggu Laura sebentar ya. Dia lagi cobain baju." Kinan segera duduk di sofa kecil yang disediakan didekat kamar pas. Aku dan Abimanyu mengikutinya.

Tidak lama setelah itu, Laura keluar dari sana. Aku terpana. Dia sangat cantik. Dia mengenakan gaun panjang tanpa lengan, pas badan, berwarna hitam. Di bagian bawah leher, ada semacam batu-batu kecil -yang aku tidak tahu namanya- berkilauan,  tertata rapih, memberikan kesan manis. Ketika dia berputar, lekuk tubuhnya terlihat sangat sempurna.

"Apa aku terlihat baik-baik saja memakai ini?" Tanyanya sedikit ragu.

Dia bukan hanya baik-baik saja! Dia sangat cantik memakai itu! Aku ingin mengucapkan itu didepannya. Tapi aku berakhir dengan kalimat bodoh.

"I love black." Aku mengerutkan kening? Aku bilang apa tadi?

Kinan dan Abimanyu menatapku. Kinan lalu tertawa.

"Maksudku, kau terlihat baik-baik saja dengan warna itu." Aku membenarkan kalimatku. Bahkan kalimat itu masih terasa salah bukan? Laura tertawa.

"Omong kosong! Kamu terlihat cantik sekali memakai gaun itu!" Kinan menatapnya dengan mata berbinar. Itu maksudkuu!!

"Benarkah?" Laura berputar lagi di depan kami. Walaupun gaun itu sederhana dan simpel, tidak tahu mengapa, Laura sangat cocok memakainya.

Kinan dan aku mengangguk.

Namun ketika dia melangkah, kaki kanannya terlihat sampai batas setengah paha. Kulitnya begitu kontras dengan gaun hitam itu. Kaki polosnya sangat mulus menggoda. Aku melotot, menelan ludah. Belahan gaunnya setinggi itu?? Aku bisa gila melihatnya.

"Laura!" Laura sontak berhenti dan menatapku.

"Gaun itu jelek! Cari yang lain saja. Aku temani besok."

Laura dan Kinan mengerutkan kening menatapku.

"Beberapa menit yang lalu kamu bilang aku baik-baik saja dengan ini. Kenapa sekarang jadi jelek?"

Mati!! Aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku bilang bahwa aku tidak rela pahanya dilihat orang lain bukan?

"Kau ingin semua orang melihat paha mulusmu?" Tembak Abimanyu terus terang. Mukanya datar, tanpa ekspresi.

Kinan terkejut dan menatap Abimanyu seketika. Mataku pun membulat mendengar perkataan Abimanyu. Terus terang sekali dia!

Tapi kalau dipikir-pikir ada bagusnya juga dia berkata seperti itu. Aku menghela nafas lega. Bagus!! Aku harap Laura mengurungkan niatnya untuk membeli gaun itu.

Laura segera menunduk untuk menatap bagian bawah gaun itu, lalu memerah seketika. Ia segera merapatkan kakinya dan menutup belahan bagian atas gaun itu dengan tangan. Meski sebenarnya tanpa dia tutupi pun, belahan itu akan otomatis menyatu ketika kakinya merapat.

Kinan memanyunkan bibir ke arah Abimanyu.

"Aku punya sepupu seorang designer, koleksinya lumayan banyak. Kau dan Ken bisa pergi ke butiknya besok. Aku jamin kau akan betah disana." Tambah Abimanyu ketika semua orang, termasuk aku, terdiam karena kalimatnya tadi.

Laura mengangguk dan menatap Kinan.

"Kinan, besok ikut ya." Kata Laura lirih, masih dengan wajah yang sedikit merah.

Kinan menjawabnya dengan anggukan. Lalu tersenyum.

"Kau lupa besok kita harus mengunjungi anak-anak dan tante Okta?" Pertanyaan Abimanyu membuat Kinan menatap Laura dengan pandangan menyesal.

"Oia aku lupa. Aku sudah ada janji. Kau tidak apa-apa kan pergi berdua saja dengan Ken?"

Laura mengangguk kecil.

"Baiklah. Tapi temani aku sebentar ke kamar pas ya. Aku butuh sedikit bantuan."

Kinan segera beranjak mengekori Laura ke kamar pas. Setelah mereka menghilang, Abimanyu membuka mulut.

"Like her that much, eh?" Dia menepuk bahuku. Sial! Apa barusan aku ketahuan? Semudah itu? Woah! Menyebalkan sekali.

Mukaku terasa sangat panas menahan malu.

***

No comments:

Post a Comment