Tuesday, April 5, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 3)

Aku duduk dengan gelisah disampingnya. Tanganku bergerak-gerak tak nyaman memegangi mini ransel yang ada dipangkuanku. Kulirik ia dengan ekor mataku. Si seksi itu tampak serius mengemudi.

Bahkan hanya dengan ekor mataku, ia tampak begitu seksi. Wajahnya, jakunnya, lengannya, dan pergelangan tangan kirinya yang saat ini dilingkari jam tangan berwarna hitam terlihat sempurna dari samping. Ya Tuhan, kuatkan imanku dari godaan makhluk seksi ciptaanMu ini.

Ekor mataku lelah meliriknya. Mari alihkan pandangan! Aku melihat ke depan. Jalanan tampak lenggang karena ini hari Minggu. Orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah untuk bersantai bersama keluarga setelah weekdays yang melelahkan.

"Kau bosan?" Suara baritonnya terdengar sangat seksi. Jakunnya bergerak. Tuhanku semesta alam!

'Jatuhkan kepalamu ke bahunya, Kin!' Sisi genitku mulai beraksi. Sepertinya dia hanya muncul ketika melihat si seksi ini.

"Eh, apa?" Tanyaku dengan muka bodoh. Bagaimana tidak? Badannya yang terbalut polo shirt hitam dan celana selutut serta sneaker berwarna coklat bergaya santai yang membuatnya semakin seksi sudah menyihirku sejak tadi.

Karena aku hanya bengong, dia langsung menekan tombol power tanpa bertanya kepadaku. Kemudian telingaku mulai dimanjakan oleh suara Adam Levine. Lagu Animals dari Maroon5 yang menjadi hits tahun lalu mengisi keheningan diantara kami.

Aku menunduk melihat dress selututku. Pagi tadi ibu mendandaniku. Memintaku untuk memakai dress ini. Dress selutut bermotif bunga dengan warna dasar soft pink. Panjang lengannya sekitar 10cm.  Motif bunganya kecil dan memberikan kesan manis. Dibagian perut terdapat kerutan sehingga bagian bawahnya jatuh dan terkesan lebar.

Rambut kecoklatanku yang sepanjang dada dibiarkan tergerai. Lalu ibu melihat deretan tas yang kugantung dan menunjuk mini ranselku yang manis ini dengan senyum lebar.

"Pakai tas yang itu!" Kata ibu tadi pagi dengan mata berbinar.

Tidak lama setelah itu, ibu memilihkan satu flat shoe berwarna merah bata di rak sepatu. Aku memanyunkan bibirku. Untuk setelan dress selutut, aku lebih suka menggunakan boots. Aku melihat koleksi boots ku kemudian menjatuhkan pilihan pada low cut ankle boot berbahan kulit. Warnanya coklat, tingginya sebatas bawah mata kakiku. Ibu menaikkan alisnya. Namun setelah melihat penampilanku di kaca, ibu tersenyum puas.

"Kamu terlihat cantik sekali hari ini, Kin." Ibu menatapku dengan binar dimatanya. Jadi maksud ibu aku terlihat jelek pada hari-hari yang lain? Begitu?

Aku memutar bola mataku. Aku justru merasa seperti anak TK yang manis saat ini.

"Apa ini tidak tampak kekanakan bu? Aku merasa seperti anak TK sekarang." Ibu mengerutkan kening, memutar tubuhku untuk memeriksa ulang, dan menepuk keningku gemas.

"Gadis manapun akan iri dengan kaki jenjang dan postur tubuh sempurnamu, sayang. Kau terlihat manis. Percayalah. Berterimakasihlah pada uti." Ibu menepuk pantatku dan segera berlalu.

Iya, aku harus berterima kasih pada uti, ibu dari ayah. Uti memiki kecantikan alami. Bahkan saat bangun tidurpun, bagiku uti terlihat sangat seksi. Uti mempunyai darah Inggris, Jerman, dan Spanyol dalam diri beliau. Bentuk wajah seksi, tubuh ideal, serta kaki jenjang yang melekat pada uti bisa membuat wanita manapun iri. Yang aku sukai, kulit uti bukan putih pucat. Tapi agak eksotis. Dan yang paling seksi dari uti adalah senyum beliau. Astaga, senyum itu menawan sekali. Bagaimana aku harus menggambarkan senyum menawan uti pada kalian? Aku rasa senyumnya mirip dengan senyuman Cameron Diaz. Iya, seseksi itu.

"Abimanyu sudah menunggu dibawah. Bergegaslah." Kata ibu sebelum hilang dibalik pintu kamarku.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke samping. Mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil yang sedang dikemudikan oleh si seksi itu. Mataku dimanjakan oleh bentangan sawah dengan model terasering yang menghijau. Aku mengerutkan kening. Dimana ini? Aku segera beringsut, menempelkan tubuhku pada pintu mobil. Jangan-jangan dia mau menculikku? Aku menatapnya dengan pandangan siap menyerang. Dia masih fokus pada jalan. Tanganku mencari-cari apapun yang bisa kugunakan untuk memukulnya. Dan aku menemukan raket tennis yang masih bersarung, disamping tempat dudukku. Aku mengacungkan benda itu padanya.

"Mau kemana kita?" Tanyaku dengan suara yang kupaksakan agar terdengar berani. Tapi pita suara sialan ini ikut ketakutan sehingga produksi yang ia lakukan kurang maksimal. Suara yang keluar dari mulutku terdengar seperti rintihan tikus yang terjepit dan meregang nyawa.

Ia hanya melirikku sekilas. Tanpa ekspresi.

"Aku tidak akan menyakitimu. Letakkan raket itu. Sebentar lagi kita sampai."

Kenapa? Dia bilang apa barusan? Aku tidak fokus karena melihat jakunnya bergerak-gerak.

Tidak lama setelah itu, mobil berhenti. Dia turun dan memutar. Membuka pintu untukku. Aku hanya memandangnya. Matanya mengisyaratkan aku untuk segera  turun. Aku segera melepas seatbelt dan turun. Membenarkan letak dressku, memakai mini ranselku, dan merapihkan rambutku dengan tangan. Done.

Ia berjalan dan tubuhnya seakan memintaku untuk mengikutinya. Aku memandang sekeliling. Ini adalah halaman rumah yang luas dan indah. Tamannya terawat dengan baik, bersih, dan pemandangan sekitar membuatku menahan nafas. Kami berada di dataran tinggi, dengan bentangan sawah terasering dan pepohonan rindang di sepanjang mata memandang. Aku sampai harus memutarkan tubuhku untuk menikmati pemandangan. Kuhirup udara sebanyak mungkin. Ah, sejuk sekali. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan hijau seperti ini.

Tiba-tiba punggungku menabrak sesuatu. Aku langsung berbalik. Mataku tepat berada di depan dada si seksi. Astaga! Aku buru-buru memundurkan langkah. Sambil menunduk.

"Maaf.." kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Entah untuk apa aku meminta maaf. Karena menabrak dada bidangnya atau karena terlalu asik dengan diriku sendiri sejak tadi.

"Masuklah." Katanya seperti tak mendengar ucapan maafku. Ia mempersilakanku untuk masuk ke rumah yang berada di depan kami. Pintu rumah itu telah terbuka. Rumah dengan desain modern yang luas. Tidak banyak barang dalam rumah ini sehingga menambah kesan luasnya. Ada banyak jendela dalam ukuran besar dan semuanya terbuka, membuat sirkulasi udara di rumah ini sangat bagus. Kesan megahnya terlihat ketika telah sampai di ruang tengah. Ada semacam kolam ikan berbentuk lingkaran di tengah ruangan. Dengan suara gemericik air. Kolam itu dikelilingi oleh batu koral besar yang disusun secara rapih. Cantik sekali. Tidak jauh dari situ, terdapat set meja teh menghadap ke luar, dimana mata akan dimanjakan oleh pemandangan hijau yang indah. Sepertinya rumah ini memang tidak didesain untuk rumah keluarga. Rumah ini lebih seperti rumah yang bisa kita gunakan untuk melepas penat. Aku menyukai rumah ini!

"Kau disini?" Aku menoleh. Si seksi berbicara dengan seorang gadis cantik. Rambutnya pendek sebatas leher, berwarna hitam legam. Wajahnya berbentuk oval. Bibirnya penuh terbalut dengan lipstik warna merah. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna marun yang menunjukkan lekukan tubuhnya. Sebagai bawahan ia mengenakan mini skirt setengah paha. Dipadu dengan high boot yang cantik sekali. Dan tangannya menjinjing handbag milik salah satu brand kenamaan.

Aku menggigit bibir. Sial, aku pasti terlihat seperti bocah ingusan dimatanya.

Ia tersenyum lembut pada si seksi.

"Aku hanya mampir untuk menyapa mama dan mengambil barangku yang tertinggal." Ia sedikit mengangkat tasnya. Lalu tersenyum lagi. Lesung pipitnya menyapa mataku. Astaga, dia sempurna.

Ia melihatku sekilas dan tersenyum. Lalu ia melenggang pergi. Kuperhatikan si seksi melihatnya hingga hilang dibalik tembok. Tuhan, tatapan apa itu? Apa si seksi menyukainya?

Kemudian matanya tertuju padaku. Mataku membulat.

'Ya, ada yang bisa saya bantu, tuan?' Batinku berkata pada mata seksi itu.

"Kemarilah." Ia membuka pintu sebuah kamar. Setelah pintu itu terbuka lebar, mataku melihat sosok yang terbaring lemah dengan selang infus yang terhubung ke tangannya. Si seksi mendekati wanita paruh baya itu. Berdiri di samping ranjang. Walaupun sedang tak sehat, semburat kecantikan masih terlihat diwajahnya. Aku tersenyum ketika melihat si seksi mengelus tangan itu dengan halus.

"Ma, aku datang bersamanya." Kata si seksi pelan. Sambil mengecup kening mamanya.

Mata yang terpejam itu bergerak-gerak. Perlahan terbuka. Lalu sebuah senyuman cantik mengembang disana. Wanita itu mengelus rambut si seksi. Lalu beliau menatapku. Tersenyum manis, dan mengulurkan tangan ke arahku. Aku mendekat. Berdiri disamping si seksi.

Mamanya mengulurkan dua tangan. Aku tersenyum dan mendekat. Lalu memeluk beliau.

"Saya Kinanti, tante." Kataku pelan. Aku merasakan kasih sayang dalam pelukannya. Nyaman sekali.

"Mama. Panggil aku mama, cantik." Koreksinya. Lalu ia mengecup keningku.

"Selamat datang di keluarga kami."
Mamanya tersenyum lagi. Senyum yang sampai ke matanya. Senyum bahagia.

No comments:

Post a Comment