Wednesday, April 6, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 6)

Hpku bergetar. Ada notifikasi messenger. Dari Laura.

Laura_:
"Gadis jahat! Siapa cowok ganteng dan seksi itu?"

Aku menghela nafas. Bagaimana aku harus menjelaskan padanya tentang si seksi itu? Kujatuhkan pantatku dipinggiran kasur tidurku. Aku menarik boneka spongebob kesayanganku. Kupandang dia sekilas. Dia tersenyum tanpa beban. Andai saja aku bisa berubah jadi spongebob.

Aku mendesah. Sepertinya aku mulai gila. Aku mulai berbaring. Kuposisikan dia dibawah kepalaku, sebagai bantal. Berbaring di kasurku seperti ini sangat menyenangkan setelah mati kutu menghadapi si seksi sialan itu. Aku rasa aku tidak sanggup untuk menatap matanya lagi.

Aku mengambil bantal dan membenamkan mukaku. Lalu berteriak sekeras mungkin. Aku gila. Dasar seksi sialan!

Hpku bergetar lagi. Aku mengambilnya, merubah pengaturan profilnya menjadi normal.

Ada satu notifikasi messenger. Aku mendesah. Laura lagi. Aku tahu dia tidak akan menyerah.

Laura_:
"Jawab aku atau kudoakan bos besar menunda jadwal kalian lagi!"

Sialan. Dia benar-benar kejam. Terpaksa aku harus membalas pesannya.

Me:
"Aku di rumah."

Badanku terasa lengket. Aku ingin mandi. Aku segera meletakkan tas dan sepatuku pada tempatnya.

Hpku berbunyi. Satu pesan dari Laura.

Laura_:
"Okay, aku datang bersama batagor mang ucup 😘"

Aku tersenyum. Mang ucup adalah penjual batagor di depan SMA kami. Usianya sekarang kurang lebih 30an. Rasa batagornya juara. Dia sangat ramah dan optimis bahwa suatu saat nanti dia bisa menjadi bos batagor yang kaya raya.

Aku meletakkan hp dan segera beranjak menuju kamar mandi.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Laura sudah ada di atas kasurku. Dia tengkurap, mukanya menghadap ke arah pintu kamar mandiku. Dia ketiduran.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk. Lalu mendekatinya. Kujulurkan kaki kananku dan kutendang-tendang halus kakinya. Ia mengerjap. Lalu menguap. Merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Dan akhirnya membuka mata. Ia memanyunkan bibirnya.

"Cepet banget." Kataku sambil mengenakan kaos longgar dan celana pendek.

"Kamu yang kelamaan. Ngapain aja sih di kamar mandi?" Ia duduk dan bersandar di kepala ranjang.

Ah iya. Mungkin aku yang terlalu lama. Tadi aku hanya berencana mandi biasa. Tapi karena pikiranku masih dipenuhi dengan wajah si seksi sialan itu, aku jadi tertarik untuk berendam. Dan aku terlalu menikmatinya. Si seksi sialan itu benar-benar membuat otakku lelah.

Aku segera meninggalkan kamar. Turun ke bawah menuju dapur, membuat minuman untuk Laura. Tak lupa membawa piring sendok, lalu kembali ke atas.

Aku meletakkannya di atas karpet sebelah ranjang.

"Mana batagornya?" Tanyaku pada Laura. Dia mengambil bungkusan di atas meja riasku kemudian bergabung denganku, duduk di atas karpet. Dia duduk bersila dan menyenderkan punggungnya ke tepian ranjang. Aku menuang batagor ke dalam piring. Kusodorkan satu untuknya dan satu untukku.

"Jadi bagaima..." Sebelum selesai, kalimat Laura kupotong dengan cepat.

"Ssstt!" Aku meletakkan telunjukku di depan bibir.

"Selamat makan!" Kataku cepat. Laura memanyunkan bibirnya lagi.

Setidaknya aku punya cukup waktu untuk menyusun kalimat yang pas dan menceritakan si seksi sialan itu pada Laura.

***

Laura bengong mendengar ceritaku. Dia sudah tahu semuanya, termasuk kejadian menyebalkan tadi pagi. Saat si seksi sialan yang suka bertindak seenak hatinya itu menggodaku di dalam mobil.

Kami telah selesai menikmati batagor.

"Whoaaaa! Jadi si ganteng nun seksi itu beneran calon suami kamu, Kin?" Laura berbinar. Kemudian memelukku dengan senang. Bahkan aku belum menjawab pertanyaan bodohnya. Kenapa dia jadi segirang ini?

"Selamat ya, nyai sayang. Aku bahagia. Kalian pasangan yang sangat serasi!"

Aku menatapnya dengan muka datar.

"Kamu bahagia dengan kejadian yang menimpaku pagi tadi?" Tanyaku tidak percaya.

"Itu yang disebut kode romantis dalam sebuah hubungan, Kinan sayang. Tuhan, dia sungguh menggemaskan!" Kode romantis apanya? Harga diriku jatuh didepan si seksi sialan itu. Dimana letak romantisnya?

Ini diluar dugaanku. Kukira Laura akan menindihku sampai tak bisa bernafas karena menyimpan cerita sepenting ini darinya. Ternyata dia sebahagia ini. Bahkan dia bilang si seksi sialan itu menggemaskan? Astaga, aku masih ingin mencakar-cakar wajahnya yang dipenuhi senyum puas tadi. Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku butuh pelampiasan.

"Jadi kapan nikahnya?"

Aku melotot kepada Laura. Pertanyaan macam apa itu? Aku sedang tidak ingin memikirkan si seksi dan Laura mengajukan pertanyaan dengan mimik muka sebahagia itu? Astaga!

Aku segera menarik spongebob dari atas kasur dan menimpukkannya berkali-kali  pada Laura.

"Hahaha ampun, nyai!" Laura segera menjauh. Dia berlari ke atas kasur. Aku mengejarnya sambil menimpukkan spongebob lagi. Kami sering melakukan itu saat duduk di bangku SD dulu. Kejar-kejaran di atas kasurku atau kasurnya dengan bantal sebagai senjata di tangan. Lalu tertawa bahagia. 

"Kalau kamu gak mau, aku bersedia ninggalin Tio buat si seksi kok. Serius!" Katanya tiba-tiba. Aku berhenti memukulnya.

"Ide bagus! Kamu beneran mau?" Tanyaku dengan mata penuh harap.

Laura melongo mendengar ucapanku. Dia merebut spongebob dari tanganku dan memukulkannya pada kepalaku. Tawanya telah hilang.

"Semalu itu ya buat ketemu si seksi lagi?" Matanya menatapku. Aku tahu ia sedang mencoba membaca ekspresi wajahku.

Aku mengangguk dengan mantap. Lalu menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan membenamkan mukaku ke bantal dengan posisi tengkurap.

Laura merebahkan dirinya di sampingku. Dan memandang langit-langit.

"Pantai yuk besok." Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap Laura. Aku mengangguk-angguk dengan mata terharu lalu memeluknya. Ia tersenyum. Laura memang mengenalku dengan sangat baik.

Aku butuh pelampiasan untuk emosiku yang tertahan. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku. Aku butuh waktu untuk membangun tembok bernama harga diri milikku yang telah runtuh berkeping-keping dihadapan si seksi sialan pagi tadi. Aku lelah.

***

No comments:

Post a Comment