Kinan is baaaaaack!
Hello everyone!! Setelah sekian lama aku di skip, akhirnya sekarang muncul juga. Fiuh.
Setelah kemarin lusa aku mengadakan double date bersama Laura dan Ken yang kuculik secara paksa lalu kemarin aku dan si seksi pergi mengunjungi anak-anak dan tante Okta, ibu bilang aku harus menjalani prosesi pingitan. Iya, sebuah proses menyebalkan dimana aku tidak diperbolehkan untuk pergi kemanapun dan bertemu dengan si seksi sampai hari itu tiba. Hari pernikahan kami.
Apa bagusnya dipingit? Aku tidak bisa bertemu anak-anak, tante Okta, dan sebenarnya yang paling penting adalah aku tidak bisa bertemu dengan si seksi! Iya. Si seksi itu membuatku gila. Walaupun kami baru saja bertemu kemarin, tapi aku sudah merindukannya. Gara-gara pingitan ini, aku tidak bisa melihatnya dalam balutan kemeja yang digulung sampai batas siku. Aku tidak bisa melihat jakunnya yang selalu naik-turun ketika bicara hingga membuatku hilang fokus. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang selalu berhasil membuat wajahku terasa panas walaupun dia tidak berbuat apapun padaku. Dan aku tidak bisa melihat tubuh seksinya yang selalu membuatku berpikiran mesum. See? Jadi tolong katakan padaku, apa bagusnya prosesi pingitan? Tidak ada bukan?! Argh, I'm so dead!
Pingitan ini sungguh tidak lucu! Tidak ada bagusnya! Tidak ada manfaatnya!
Aku bergulung-gulung di atas ranjang. Apa yang harus kulakukan hari ini? Aku memeluk spongebob dengan erat. Lalu mengangkatnya ke udara. Mencubit pipinya, mengelus wajahnya.
"Spongebob, aku rindu pada si seksi." Ucapku dengan wajah memelas. Lalu memeluknya lagi. Tuhan, tidak bisakah kita skip saja prosesi ini? Baiklah, ini adalah hal kedua yang kubenci setelah adegan 'membawa nampan' dalam dunia perjodohan.
Aku ingin sekali dia tahu kalau aku rindu. Aku penasaran, dia sedang apa. Apa dia merindukanku juga? Apa dia ingin bertemu denganku juga? Apa dia benci dengan pingitan ini juga? Apa dia merasakan hal yang sama? Ah, aku lelah dengan pikiranku sendiri.
Tapi bagiku, harga diri adalah segalanya. Harga diri adalah hal yang sangat penting untuk kujunjung. Dan selama mengenalnya, aku tidak pernah mendahului untuk menghubunginya. Aku tidak pernah memulai sebuah percakapan pada papan chat kami. Dan aku merasa bangga akan hal itu.
'Well done! Kamu terhormat, Kin.' Aku tersenyum pada diriku sendiri.
Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa lepas. Terbahak-bahak dengan sangat puas. Aku segera menoleh ke arah pintu kamarku yang sejak tadi terbuka. Kenan berdiri disana. Aku mengerutkan kening. Sejak kapan dia disitu?
Dia terpingkal-pingkal dan sesekali menyusut air matanya. Ada apa dengan kunyuk satu itu?
Setelah dia bisa mengendalikan tawanya, dia berkata sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarku.
"Jadi gitu ya kalo cewek lagi kasmaran? Kangen tapi dipendem? Sebentar mau nangis, tapi sebentar lagi senyum-senyum? Menyeramkan!" Dia menyipitkan matanya, alisnya tampak menyatu. Lalu menggelengkan kepala. Dan tertawa lagi.
Sial! Jadi daritadi dia mengintipku? Menyebalkan! Aku segera beranjak dan berlari ke arahnya. Menyadari bahwa dia sedang dalam masalah, dia segera berlari secepat kilat menuruni anak tangga. Menuju dapur. Aku melihat ibu dan bibi sedang sibuk menyiapkan sarapan. Curang! Pasti dia akan meminta ibu untuk menyelamatkannya.
Dia segera sembunyi dibalik punggung ibu. Padahal ibu hanya setinggi pundaknya. Dasar bodoh!
Iya, Ken memang cukup tinggi. Rambutnya kecoklatan sepertiku. Kami sangat mewarisi ayah dan uti. Dari segi fisik, orang-orang akan langsung tahu bahwa kami setengah bule. Uti mempunyai darah Jerman, dan ayah mewarisinya. Sementara ibu adalah wanita Jawa tulen. Dengan paras ayu khas Jawa. Kulit langsat dan bersih.
Sejak kecil kami selalu dididik ibu agar bersikap selayaknya orang Jawa. Sopan dan ramah. Terkadang berbicara dengan bahasa Jawa yang halus pula. Sementara dengan ayah, kami selalu diajarkan untuk mandiri. Kerja sambilan, berusaha sebisa mungkin untuk tidak bergantung pada uang ayah dan ibu. Juga menerapkan percakapan sehari-hari dengan bahasa Jerman dan Inggris sampai tingkat Sekolah Menengah Atas.
Jadi, kami berbicara dalam 4 bahasa di dalam rumah. Jerman, Inggris, bahasa Indonesia, dan Jawa. Tapi entah mengapa ayah mulai berhenti berbicara bahasa Jerman dan Inggris ketika kami mulai memasuki bangku kuliah.
Okay, kembali pada Kenan.
Aku bersungut-sungut menatapnya. Ken tertawa puas. Lalu menjulurkan lidahnya. Aku segera berbalik dan kembali ke kamarku. Aku tahu Ken akan mengejarku kali ini. Setelah itu, aku bisa menindasnya di kamar. Tunggu saja pembalasanku, nak.
Aku merebahkan diri diatas ranjang. Memeluk spongebob dengan erat. Bagaimana ini? Aku ingin sekali chatting dengan si seksi. Tuhanku semesta alaaam! Aku rindu padanya!
Tanganku gatal sekali. Apa aku benar-benar harus melakukannya? Aku menghela nafas. Lalu mulai meraih hp disebelahku, mengangkatnya ke udara. Kubuka papan chat kami. Dan mulai menulis sesuatu.
Me:
"Haii"
Delete delete delete.
'Tidak, Kin! Kau tidak boleh melakukannya!' Aku menggeleng-geleng.
Tapi aku rinduuu. Bagaimana ini?
Ah, biarlah, toh aku calon istrinya. Statusku lebih tinggi dari sekedar pacar bukan?
Aku berpikir keras, apa yang harus aku bincangkan? Aku segera mengetik sesuatu lagi.
Me:
"Lagi apa?"
Delete delete delete.
Tidakk! Harga diri adalah segalanya. Syukurlah kalimat-kalimat bodoh tadi sudah aku hapus. Aku tidak mengirim apapun. Kenapa aku kacau begini? Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Tiba-tiba hpku bergetar dan berbunyi. Aku yang sedang melamun terkejut seketika. Hpku jatuh menimpa wajah.
Awwww! Sial!
Aku mengelus wajahku pelan. Sambil meringis kesakitan.
Siapa sih yang menelpon? Mengagetkan saja!
Aku segera meraih hpku.
Incoming call: "Seksi Sialan"
Mataku membulat. Lalu mengerjap beberapa kali. Apa dia benar-benar bisa membaca pikiran atau semacamnya?
Aku segera menerima panggilannya.
"Halo?" Sapaku ragu.
".... " Hening.
Aku menjauhkan hpku dari telinga lalu menatapnya. Memeriksa panggilan itu. Masih tersambung. Kenapa tidak ada jawaban?
"Haloo?" Ulangku sekali lagi. Mungkin dia salah pencet.
"Ada apa?" Suara baritonnya menyapa telingaku. Aduhai, seksi sekali. Aku tersenyum dengan muka memanas. God, bahkan suaranya saja sudah bisa membuat mukaku memerah.
"Ada apa? Apa maksudmu?" Aku mengulangi pertanyaannya dengan mengerutkan kening.
"Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakan sesuatu."
Panggilan terputus.
Aku menatap hp dengan mulut terbuka. Ya Tuhan, dia benar-benar mengakhiri panggilannya seenak hati. Aku baru saja tersenyum senang lalu sekarang dia harus membuatku kesal? Yang benar saja!!!
Woah, aku benar-benar ingin mencekik lehernya sekarang. Jadi untuk apa dia menelponku tadi? Dasar makhluk ciptaan Tuhan paling seksi yang menyebalkan! Tunggu saja pembasalanku.
"Hahahaha! Bibirnya dikondisikan please!"
Aku menoleh ke arah pintu. Kenan terbahak-bahak disana. Sialan! Bibirku semakin manyun karena melihat tingkahnya.
Aku segera berjalan ke arah pintu kamar lalu menutupnya. Mengusir Kenan agar menjauh dariku. Setidaknya untuk hari ini saja.
"Sarapan!!! Ditungguin ayah-ibu, jelek!!!"
Teriaknya dari balik pintu kamar. Aku mendesah. Baiklah, sepertinya aku benar-benar harus melihat mukanya lagi. Aku mulai mencepol rambutku lalu membuka pintu. Kenan tersenyum lebar disana.
Dia serta merta merangkulku, merapihkan anak-anak rambutku yang berantakan, lalu membawaku berjalan beriringan menuruni tangga menuju ruang makan.