Thursday, April 7, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 7)

Aku berjalan sambil menatap lembar pengesahan itu dengan mata berbinar. Aku tersenyum bahagia. Tuhan, aku tidak percaya ini! Akhirnya setelah 3minggu mengejar bos besar, aku mendapatkan tanda tangannya juga. Sedikit lagi urusanku selesai dan aku bisa mengikuti wisuda bulan Desember nanti.

Hidupku terasa damai. Sudah seminggu ini aku bebas dari si seksi sialan itu. Aku belum bertemu dengannya lagi sejak peristiwa memalukan dimana harga diriku jatuh ketika dia menggodaku. Sebenarnya dua hari yang lalu dia mengirim pesan padaku. Aku mengerutkan kening ketika ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ternyata itu nomornya. Aku terkekeh dalam hati mengingat pesan itu.

08xxxxxxxxx
"Kau punya waktu luang? Ada hal penting yang harus kita bicarakan. ~Abimanyu."

Aku segera menyimpan nomornya dengan nama 'seksi sialan'. Done!

Apakah aku membalas pesannya? Tentu saja tidak! Aku putuskan untuk mengabaikannya sementara waktu. Beberapa menit setelah tak mendapat responku, dia menelpon. Aku mengabaikan panggilannya juga. Rasakan kau seksi sialan! Aku akan membalasmu. Sepertinya mengabaikan dia adalah ide yang bagus. Walaupun keputusan itu sedikit membuat sisi genitku berontak. Tidak bisa kupungkiri, aku merindukan wajah dan jakun seksinya. Tapi aku harus bisa bertahan. Aku akan menyiksanya karena dia telah berani mempermainkanku. Aku tertawa senang.

Woaaah! Moodku sedang benar-benar baik hari ini. Emosiku sudah stabil karena seminggu yang lalu Laura mengajakku menggila ke pantai. Aku bisa berteriak sepuas hatiku. Mengumpat dan memaki si seksi sialan itu dengan brutal. Bergulung-gulung di pasir dan bermain air bersama Laura. Kami bahagia! Dan sekarang Laura sedang berlibur di Bali bersama Tio. Ah, aku merindukannya.

"Widih, yang lagi bahagia habis kencan sama bos besar!" Dion menyenggol lenganku dengan lengannya.

Aku menoleh dan tertawa. Menunjukkan lembar sakti itu padanya. Dia mengacak rambutku.

"Nonton?" Ia mengangkat sebelah alisnya lalu menggerak-gerakkannya dengan mata jahil.

Aku tertawa.

"Boleh."

Kami lalu berjalan menuju parkiran.

***

Aku memarkir mobilku di belakang mobil ayah. Menutup gerbang, lalu masuk ke dalam rumah. Masih dengan senyum bahagia. Aku bersenang-senang dengan Dion hari ini.

Langkahku terhenti di pintu utama. Aku melihat ayah dan ibu sedang mengobrol dan tertawa bersama si seksi. Mataku membulat. Pemandangan macam apa ini? Kenapa dia ada disini?

Ibu yang menyadari kehadiranku seketika menyuruhku untuk duduk bergabung dengan mereka. Senyum bahagiaku menguap sudah. Hilang ditelan rasa panas yang mulai menyapa wajahku. Aku memalingkan muka. Menghindari wajah seksi yang sekarang sedang menatapku.

Ibu berdehem.

"Ya sudah, kalau mau keluar, berangkat sekarang gih. Supaya tidak kemalaman." Ibu mengelus penggungku dengan sayang. Aku segera menatap ibu dengan penuh tanya.

"Kau tidak membaca pesan dari Abimanyu?" Ibu balik bertanya. Aku mengerjap. Pesan? Pesan apa? Ah ya, aku selalu mengganti pengaturan profil hpku dengan mode diam begitu sampai di kampus. Dan karena terlalu sibuk dengan Dion, aku sama sekali tidak memeriksa hpku hari ini.

Si seksi berdiri dan pamit pada ayah dan ibu untuk mengajakku keluar. Ibu segera mendorong punggungku. Lalu tersenyum dan melambaikan tangan.

"Jangan sampai larut ya." Ayah berpesan pada si seksi yang mengangguk patuh.

Ayah dan ibu menatap kami hingga hilang di balik gerbang. Ya Tuhan, kenapa aku tidak menyadari mobil itu parkir disini sebelum masuk ke rumah tadi? Aku menghela nafas. Apa yang harus kulakukan? Mati kau, Kin.

Si seksi membuka pintu untukku. Aku berdiri mematung. Melihat pintu dan tempat duduk itu, seketika jantungku berdebar cepat, bulu romaku berdiri mengingat kejadian terakhirku di kursi penumpang sebelahnya itu. Bayangan wajah kami yang sedang berdekatan ketika ia menggodaku berputar-putar di otakku. Kurasakan wajahku memanas lagi. Oh tidak, bagaimana ini? Andai aku bisa membuang mukaku untuk saat ini saja.

"Masuk." Suara baritonnya terdengar dingin. Seperti sedang marah? Apa dia marah padaku?

Aku segera masuk dan dia mulai berputar kemudian duduk dengan nyaman, lalu mulai menyalakan mobil.

Aku meliriknya sekilas. Aku merasa ada yang salah disini. Dia terlihat begitu dingin dan seperti sedang menahan amarah. Rahangnya sedikit mengeras. Ini tidak seperti biasanya. Yang aku tahu dia selalu fokus dengan raut muka yang tenang walaupun tak mengucap sepatah katapun ketika sedang mengemudi. Tapi sekarang? Aku menelan ludah. Nyaliku serasa menciut untuk berbicara padanya. Aku menundukkan kepalaku. Apa dia marah karena sikapku yang kekanakan?

Masa bodoh! Aku tidak peduli padamu tuan seksi sialan! Dia yang memulai semua ini. Aku hanya memainkan peranku bukan?

Aku segera menyibukkan diri. Mengambil hp dan berniat berselancar di media sosial untuk membunuh suasana yang tidak menyenangkan ini.

Ada banyak notifikasi yang masuk. Tanpa sengaja aku membuka mulutku.

5 panggilan tak terjawab. ~ibu

3 panggilan tak terjawab. ~ayah

1 panggilan tak terjawab. ~seksi sialan

2 pesan. ~ibu

1 pesan. ~ayah

15 notifikasi messenger. ~Laura, Dion, Abimanyu.

Aku mengatupkan bibirku. Dan segera memeriksa pesan dari ayah dan ibu.

Ayah:
"Dimana Kin? Pulanglah, Abimanyu menunggumu di rumah."

Ibu:
"Abimanyu ke rumah. Cepat pulang, sayang."

"Dimana? Lama sekali. Dia sudah hampir 3jam menunggumu."

Astagaaa! Hatiku mulai dirundung rasa bersalah. Aku segera membuka notifikasi messenger darinya.

Abimanyu:
"Pulang sekarang. Aku menunggumu di rumah."

Kulihat waktu notifikasinya. Tiga jam yang lalu? Ya Tuhaann, dia benar-benar menungguku selama itu? Aku merasa sangat bersalah saat ini. Aku pasti akan marah besar kalau berada di posisinya. Kubayangkan bagaimana perasaanku jika harus menunggunya selama itu dan ternyata dia sedang bersenang-senang dengan teman wanitanya karena sengaja menghindariku. Hatiku serasa diremas. Niat awalku untuk bermain media sosial menguap sudah.

"Maaf. Aku menyesal." Kata itu terlontar begitu saja. Aku menatapnya. Dia mendengus.

"Untuk apa?" Tanyanya dingin. Tanpa melirikku sedikitpun.

"Membuatmu menunggu selama itu." Aku masih menatapnya. Aku sungguh merasa tidak enak padanya.

"Itu saja?" Aku mengerutkan kening. Apa lagi kesalahan yang kuperbuat?

"Dan mengabaikanmu dua hari yang lalu." Aku menelan ludah. Dia benar-benar membuatku tak bisa berkutik.

Kulihat mobil depan kami berhenti. Dia mulai melambatkan mobil. Menginjak rem dan kopling, lalu menetralkan persneling. Kami sedang terjebak palang pintu perlintasan kereta api.

"Masih ada satu lagi." Katanya dingin. Masih menatap ke depan. Dia sama sekali tidak mau melihat ke arahku.

Satu lagi? Apa itu? Apa yang kulakukan? Cukup lama aku berfikir, namun aku tak mendapat petunjuk apapun. Aku menatapnya tak mengerti.

Tiba-tiba dia menoleh. Menatapku dengan sangat dingin. Aku merasa seolah dia akan menelanku bulat-bulat karena sebuah kesalahan yang fatal. Rahangnya mengeras.

"Kau menyukai Dion?" Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Pertanyaan macam apa itu? Menyukai Dion? Tentu saja tidak. Dia temanku.

"Tentu saja tidak. Dia teman baikku." Aku mengulang kata yang terlintas di otakku dengan cepat. Keningku mengerut. Ada apa dengannya? Kenapa dia bertanya seperti itu?

"Bukankah sudah kukatakan aku tidak suka berbagi?"

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

Dia mengeratkan pegangannya pada kemudi. Memasukkan persneling 1, dan menyusul mobil depan kami. Palang pintu kereta api sudah terbuka.

"Punya sesuatu yang ingin kau katakan tentang pergi dengannya seharian?" Suaranya benar-benar dingin.

Aku menahan nafas. Dan segera mengalihkan pandanganku dari wajahnya.  Matilah aku. Apa ini? Dia tahu aku pergi dengan Dion seharian? Bagaimana bisa?

Apa yang harus kukatakan? Kenapa aku merasa seperti seseorang yang ketahuan berselingkuh?

"Bulan depan kita menikah. Jaga perilakumu." Nadanya seperti mengancam.

"Bulan depan? Apa maksudmu?" Aku panik mendengar ucapannya barusan. Dia gila ya? Bagaimana mungkin kami menikah secepat itu? Dia pikir dia siapa?

"Tanya saja pada ibu. Lain kali berpikirlah dengan matang sebelum mengabaikan pesan dan panggilan dariku."

No comments:

Post a Comment