Wednesday, April 6, 2016

Sexy King vs "Gengsi" Queen (Chapter 5)

Aku rasa wajahku masih merah. Aku memandang jalanan yang penuh dengan mobil. Kami terjebak macet. Perjalanan untuk sampai ke rumahku masih sekitar 45menit lagi dari sini.

Bagus. Aku punya banyak waktu untuk bertanya tentang tindakan sesuka hatinya di depan Dion dan Laura barusan.

Aku berdehem. Menyiapkan suara, berharap tidak terdengar mencicit bagai tikus meregang nyawa seperti kemarin.

"Kenapa kau bersikap seperti itu pada Dion dan Laura?" Lumayan. Suaraku terdengar cukup normal.

"Seperti itu bagaimana maksudmu?" Ia menjawabku sambil menatap jalanan. Kenapa dia tidak menatapku? Dasar tidak sopan.

"Tiba-tiba kau datang, tanpa berkenalan, lalu mengundang mereka ke pernikahan kita!" Kataku sambil menatapnya. Aku ingin menjambak rambutnya agar dia menghadap ke arahku.

"Kau tidak ingin aku mengundang mereka?" Tanyanya datar.

"Bukan itu. Berkenalan maksudku."

"Bukankah itu tugasmu? Tapi kau hanya diam sejak aku datang. Jadi aku skip saja peranmu." Jawabnya santai. Masih menatap jalan.

Benar juga. Kalau dipikir-pikir itu memang tugasku. Tapi aku terlalu kaget saat itu. Dia menghampiriku sesuka hati. Dia tidak memberiku cukup waktu untuk bernafas tanpanya. Dan aku belum siap untuk bercerita pada Dion dan Laura bahwa sebentar lagi aku akan menikah. Jadi itu tetap salahnya bukan?

Aku berdehem lagi. Menata suaraku agar terdengar berani.

"Lalu tentang pernikahan dalam waktu dekat? Apa maksudmu?" Bagus. Suaraku terdengar berani dan menantangnya.

Mobil di depan kami mulai berjalan. Dia menginjak pedal gas untuk menyusul, lalu menjawab dengan santai.

"Aku bersedia menikah denganmu, kau bersedia menikah denganku. Bukankah pernikahan dalam waktu dekat terdengar mengesankan?"

Aku memutar bola mataku. Aku ingin memukul bibirnya dengan raket tennis di sam... tunggu! Dimana raket tennis itu? Kemarin dia masih disini.

"Dimana raket tennis itu?" Tanyaku spontan. Bukan dengan nada mengancam. Tapi dengan nada sedih dan kehilangan.

Dia melirikku sekilas.

"Raket tennis lebih penting dari pernikahan kita untukmu?" Ia bertanya dengan nada mengejek. 'Pernikahan kita'? Astaga, aku berdebar mendengarnya berucap seperti itu. Tapi aku tidak boleh lemah!

Aku mendengus kesal. Aku tidak punya apapun untuk membela diri sekarang.

"Kenapa kau tidak bertanya padaku terlebih dahulu? Ini juga pernikahanku."

Aku memandangnya dengan marah. Hidungnya langsung tertangkap oleh mataku. Hidung yang tadi bersentuhan dengan daun telingaku. Kejadian itu secara otomatis terputar ulang di otakku. Mukaku terasa panas. Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku ingin berdekatan dengannya lagi? Apa rasanya kalau ia mengendusku dengan hidungnya itu? Ya Tuhan! Mesum sekali kamu, Kin! Aku meruntuk pada diri sendiri.

Aku membuang muka. Mengalihkan pandangan ke luar jendela. Aku tidak mau si seksi itu melihat muka merahku.

"Aku rasa aku tidak perlu bertanya. Aku tahu kau menginginkanku sejak pertama kita bertemu." Katanya tenang.

"Bahkan aku bisa merasakan saat ini pun kau sedang menginginkanku." Tambahnya lagi.

Sial! Mukaku terasa makin panas. Aku langsung menatapnya dan protes dengan apa yang ia katakan. Ada senyum penuh arti yang terukir diwajahnya.

"Woah, percaya diri sekali!" Sanggahku dengan suara yang aku buat sesinis mungkin.

'Iya, Kin! Ucapannya sungguh benar." Sisi genitku membelanya.

Ia mengangkat alis dan melirikku lagi.

"Benarkah? Lalu apa arti muka merahmu itu?" Ia tersenyum sinis. Oh, ingin sekali kurontokkan gigi rapihnya itu!

Aku segera mencari alasan untuk menutupi bahwa kata-katanya tadi benar sekali. Aku tidak boleh ketahuan kalau aku memuja keseksiannya!

"Aku sedang marah! Bukan tersipu! Jangan salah paham." Aku melotot ke arahnya. Supaya terlihat meyakinkan.

"Apa tadi aku menyebutmu sedang tersipu? Aku hanya bilang mukamu merah."

Argh! Sial! Aku ingin memukul bibirku sendiri.

Aku kehilangan kata-kata. Ayolah! Apa yang harus kukatakan untuk membalasnya? Berpikir otak! Berpikir!

Sebelum aku sempat membalasnya, dia menepikan mobil. Dan berhenti.

"Jadi kau tidak ingin menikah denganku dalam waktu dekat?" Dia menetralkan persneling, menarik hand rem, lalu menatapku.

Aku terkejut. Apa ini? Aku harus membuatnya yakin bahwa aku tidak semudah itu.

"Tidak!" Aku menjawab dengan lantang. Ia mengangkat alis lagi.

"Kau tidak ingin bebas menyentuhku sepanjang hari?" Matanya intens menatapku. Terasa membakar seluruh permukaan wajahku. Kumohon, hentikan tatapan itu. Aku menyerah. Tadi aku memang ingin dia menatapku. Tapi bukan tatapan yang seperti ini.

'Cium dia, Kin!' Tanpa sadar aku menggigit bibir. Sisi genit ini membuatku gila.

"Kau tidak ingin berdekatan denganku selama yang kau mau?" Astaga, hentikan pertanyaan ini. Kumohon.

Aku hanya bisa menatapnya tanpa kata. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa. Tuhan, tolong usir si seksi ini dari depan mukaku sekarang. Aku sungguh ingin menarik lehernya agar menciumku. Berdekatan dengannya membuatku berubah menjadi gadis mesum.

Dia mendekat. Tuhanku semesta alam! Kenapa dia semakin mendekat? Ini ujian yang berat.

Jantungku berdebar hebat. Dia semakin dekat. Aku bahkan mulai bisa merasakan nafasnya menerpa wajahku.

Aku hanya bisa termangu, menanti apa yang akan dia lakukan. Aku bisa mencium parfumnya. Aroma maskulin menyapa hidungku. Aku menyukai parfumnya! Aku harap ia tidak mendengar detak jantungku yang sangat berisik ini. Apa dia akan menciumku? Astaga! Apa yang harus kulakukan?!

'Pejamkan matamu, bodoh!' Sisi genitku tidak sabar.

Aku takut. Aku tidak pernah berciuman dengan siapapun sebelumnya. Aku memundurkan tubuhku. Sialnya, punggungku telah benar-benar menempel pada pintu sekarang. Kulihat mata si seksi hampir tertutup.

Mau tak mau, aku menuruti sisi genitku. Kupejamkan mataku perlahan.

Lima detik, sepuluh detik. Aku mengerutkan kening. Kenapa lama sekali? Kenapa tidak terjadi apapun pada bibirku? Tapi aku masih bisa merasakan nafasnya di wajahku.

Kuberanikan diriku untuk membuka mata. Dia masih di sana. Beberapa centimeter di depanku. Jarak kami begitu dekat. Kurasakan mukaku semakin panas.

Lalu kulihat ia tersenyum puas. Apa? Dia tersenyum? Dia tidak menciumku?

"Aku sudah mendapatkan jawabannya. Bahkan tubuhmu tidak menolak untuk kunikahi sekarang juga, nona." Dia tersenyum penuh arti. Lalu menjauh. Duduk dengan nyaman di kursinya. Melepas hand rem dan memasukkan persneling 1, lalu menginjak pedal gas. Mobil kembali menyusuri jalanan beraspal.

Butuh sepersekian menit untuk menetralkan tubuhku dan menyadari apa yang sedang terjadi disini. Dia melakukan apa barusan? Dia menggodaku? DIA HANYA MENGGODAKU? Woah! Amarahku sudah mencapai ubun-ubun. Aku sangat ingin melemparnya ke perairan yang penuh hiu sekarang. Aku ingin mencakar-cakar wajahnya yang sedang tersenyum puas itu. Iya, senyum yang masih mengembang sejak ia menjauhkan mukanya dari mukaku.

Aku segera membenarkan letak dudukku. Kualihkan pandanganku keluar jendela. Aku tidak sanggup menanggung rasa malu ini, Tuhan. Aku memejamkan mataku dan menarik nafas berkali-kali. Aku harus bisa mengontrol emosiku saat ini. Sial! Aku ingin memakinya. Kulipat dua tanganku di depan dada.

Kurasakan ia melirikku sekilas. Tepat ketika aku siap memakinya, dia berkata dengan tenang.

"Baiklah, kita akan menikah dalam waktu dekat, ratu gengsi. Persiapkan dirimu dengan baik." Pernyataan yang begitu penuh dengan dominasi. Walaupun dia masih menghadap ke depan dan fokus mengemudi, aku bagai tersihir sehingga tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Semua umpatan yang sudah kusiapkan dan berada diujung bibirku tertahan. Dia bilang apa tadi? Menikah? Dalam waktu dekat? Dia memanggilku ratu gengsi? Astaga. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Harus marah atau senang? Otakku sedang tidak bisa bekerja dengan baik.

Ia mengangkat jari telunjuknya ke atas.

"Ah ya. Satu lagi. Hindari bersentuhan fisik dengan Dion atau lelaki manapun. Kau milikku sekarang. Dan aku tidak suka berbagi."

***

No comments:

Post a Comment