Laura menggelayut di lenganku. Dia terlihat senang karena Tio mengajaknya berlibur ke Bali minggu depan. Pagi ini senyumnya murah sekali. Ia obral pada siapapun yang bertemu dengan kami di jalan.
"Pasti dia mau nembak aku disana, Kin! Sweet banget. Kyaaa. Jadi ga sabar!" Mood Laura sedang benar-benar baik.
Dari jauh kulihat seseorang mendekat. Dengan senyum manisnya. Menghampiriku dan Laura.
"Sudah bertemu dengan bos besar?" Sapanya. Iya, itu adalah sapaan yang menyebalkan. Aku mengerucutkan bibirku. Dia tertawa puas.
"Dion jangan bikin Kinanti bete pagi-pagi deh." Sahut Laura. Tapi dia ikut tertawa juga. Dasar siluman kasmaran berbulu ular. Anggap saja ular berbulu sekarang. Aku menetapkannya sejak pagi ini.
"Kalian gak lucu!" Aku mendengus kesal. Lalu berjalan meninggalkan mereka. Dion dan Laura mengejarku. Lalu mereka memeluk bahuku bersamaan. Sambil berjalan bersisian. Posisiku berada ditengah, antara Dion dan Laura. Baiklah, aku merasa seperti salah satu anggota teletubbies sekarang. Dion mengacak rambutku gemas. Lalu kami tertawa bersama.
Sebenarnya aku sedang kesal pagi ini. Karena untuk kesekian kalinya aku gagal menemui pak Mahmud, yang kami panggil 'bos besar' tadi. Kenapa kami panggil begitu? Karena beliau terlihat begitu makmur sejahtera (baca: berbadan besar).
Aku sedang dalam proses mengurus lembar pengesahan. Tiga dosen penguji skripsiku harus membubuhkan tanda tangan di lembar sakti itu. Namun karena jam terbang mereka, aku baru berhasil mendapatkan tanda tangan 2 dosen setelah dua minggu. Sekarang, tinggal bos besar saja yang harus kukejar. Dan pagi ini, aku gagal lagi. Menyebalkan.
Hpku yang sejak tadi kugenggam karena menunggu kabar dari bos besar bergetar. Sepertinya ada notifikasi messenger.
Abimanyu:
"Bisa tidak kau lepaskan pelukanmu dengan lelaki itu?"
Mataku mengerjap membaca pesan itu. Apa maksudnya? Mungkin pesan itu bukan tertuju untukku. Aku baru saja berniat mengabaikannya ketika hpku bergetar lagi.
Abimanyu:
"Iya, kau. Kinanti. Pesan ini untukmu."
Aku berhenti seketika. Apa dia peramal atau semacamnya? Kenapa dia bisa tahu apa yang sedang kupikirkan? Dion dan Laura menoleh. Langkah mereka otomatis ikut terhenti karena kami tadi berjalan sambil berpelukan. Mereka menatapku heran. Sementara aku langsung mengedarkan pandangan.
'Apa si seksi itu disini? Cari yang benar, Kin! Lebarkan matamu!' Sisi genitku mulai mengendus kehadiran si seksi.
Aku sudah melebarkan mataku. Tapi tidak sedikitpun kulihat ada tanda-tanda keberadaan si seksi di sekitar sini.
"Kenapa, Kin? Mencari seseorang?" Dion bertanya sambil menatapku heran. Laura memandangku dengan tatapan yang sama.
Hpku bergetar lagi. Satu pesan dari si seksi.
Abimanyu:
"Aku akan menghampirimu nanti. Jagalah jarak dari lelaki yang sedang menatapmu itu."
Aku mendesah. Untuk apa si seksi datang kemari? Lalu untuk apa pula dia mengirim pesan seperti itu? Dasar aneh.
"Kenapa, Kin? Jawab ih. Bengong mulu." Laura mengguncang bahuku. Aku memandang Laura dengan tatapan kosong.
Laura! Astaga, apa yang akan kukatakan padanya jika nanti si seksi menghampiriku? Matilah aku. Laura pasti akan marah karena aku tidak bercerita apapun tentang si seksi. Aku sudah bisa membayangkan suaranya naik beberapa oktaf dari biasanya. Dengan tanpa sadar aku mengusap telingaku.
"Kamu baik-baik saja?" Dion bertanya lagi. Aku mengangguk.
Tiba-tiba aku merasa lelah. Ada apa lagi ini? Aku sudah dikejutkan dengan banyak hal dua hari kemarin. Dan hari ini pun si seksi menyusulku?
"Kantin yuk." Ajakku dengan berjalan mendahului. Mereka lalu mengekoriku tanpa suara.
***
Aku memainkan sendok dan garpu diatas makananku dengan gelisah. Satu porsi gado-gado yang biasanya membuat liurku menetes terlihat tak menarik sama sekali hari ini. Woah, si seksi itu benar-benar menjungkirbalikkan nafsu makanku tiga hari ini.
Laura menyenggol bahuku.
"Butuh pembalut?" Katanya berbisik. Aku terkejut dengan pertanyaannya, namun sedetik kemudian aku terkekeh.
Aku menggeleng sebagai jawaban. Aku mengerti, mungkin Laura sedang kebingungan melihatku saat ini. Pemandangan seorang Kinan mengaduk-aduk satu porsi gado-gado adalah hal yang tidak biasa.
Laura mengerutkan alis dan mengangkat bahu memandang Dion.
"Kinan, kamu serius tidak apa-apa?" Aku mengangkat kepalaku mendengar pertanyaan Dion. Tersenyum, lalu mengangguk pelan.
Dion dan Laura adalah dua makhluk yang selalu ingin tahu tentang kehidupanku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja. Mereka akan dengan murahnya menyediakan bahu, telinga, dan tisyu tiap aku mempunyai masalah. Lalu mengajakku berlibur, belanja, nonton, apa saja agar aku bahagia. Aku dan Laura mengenal Dion sejak ospek. Kami satu cluster waktu itu. Kemudian secara alami, kami menjadi dekat sampai saat ini. God, terima kasih telah mengirim mereka untukku.
Tapi sekarang, aku belum punya nyali untuk menceritakan tentang si seksi pada mereka.
"Boleh bergabung?" Sebuah suara bariton mengagetkan kami. Pasti pemiliknya seksi sekali. Aku mengerutkan kening. Tunggu! Aku kenal suara itu! Itu suara si seksi. Aku segera mendongakkan kepala dan mata kami bertemu. Mataku membulat.
Dia? Untuk apa dia kemari? Demi apapun, setidaknya bisakah dia menghampiriku di tempat lain? Tidak di depan Dion dan Laura!
Aku segera menatap mereka. Mereka pun menatapku dengan mata penuh tanya. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
Lalu dengan sigapnya, Dion yang duduk didepanku segera bergeser. Memberikan ruang untuk si seksi agar bisa duduk. Namun si seksi mengalihkan matanya pada Laura yang duduk disebelahku.
"Boleh aku duduk disitu?" Laura bengong mendengarnya. Aku pun menatapnya tak percaya. Tidak bisakah ia sedikit ramah dan sopan pada teman-temanku? Sial, aku segera menundukkan kepalaku. Kenapa si seksi bersikap begitu?
"Ah, silakan." Laura segera berputar dan duduk disamping Dion.
Si seksi segera duduk disampingku.
Untuk beberapa menit, kami hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi aku tahu, Laura dan Dion pasti memikirkanku dan bertanya-tanya siapa sebenarnya manusia yang mendudukkan pantatnya dengan nyaman dan tanpa dosa di sampingku ini.
Hingga sebuah suara memecah keheningan diantara kami.
"Datanglah ke pesta pernikahan kami dalam waktu dekat." Si seksi memandang Dion dan Laura dengan tenang. Lalu tersenyum simpul.
Aku segera menolehkan kepalaku memandangnya tak percaya. Dia gila! Aku percaya, Dion dan Laura pasti sama terkejutnya denganku. Apa yang baru saja dia katakan? Tanpa sengaja mataku melirik jakunnya. Astaga fokus, Kin! Kau sedang sangat ingin marah padanya saat ini. Abaikan jakun sialan itu!
Aku berdehem sambil memasang muka protes padanya. Dia menoleh padaku.
"Kau ingin pulang? Baiklah." Si seksi segera berdiri dan mengambil tas di pangkuanku. Lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku. Jantungku berdebar bukan main saat ini.
"Aku tunggu di parkiran." Bisiknya. Tuhan, bulu romaku berdiri. Merinding dengan jarak kami dan suara lirihnya. Ujung hidungnya bersentuhan dengan daun telingaku barusan. Ada gelenyar aneh yang kurasakan. Tubuhku merespon sentuhan kilat itu dengan cepat. Mukaku terasa memanas. Pasti menjadi semerah tomat sekarang.
Aku tertegun sesaat sampai suara Laura menyadarkanku.
"Kin, dia membawa tasmu." Laura melambai-lambaikan tangannya di depan mataku. Aku terkejut dan segera beranjak. Kulihat si seksi sudah sampai di pintu kantin dan berjalan menuju parkiran.
"Aku pergi dulu." Kataku dengan muka menyesal pada Dion dan Laura. Aku merasa tidak enak akan sikap si seksi pada mereka barusan. Tanpa berkenalan dan menyapa dengan sopan, ia tiba-tiba mengundang mereka ke acara pesta pernikahan kami. Memangnya dia pikir dia siapa?
Pesta pernikahan? Dalam waktu dekat? Astaga! Apa maksudnya? Aku segera mengejar si seksi ke arah parkiran.
Aku melihatnya sudah berdiri bersandar di mobil dengan kaki rapat menyilang, membawa tasku sambil memainkan ponselnya disamping pintu penumpang yang sudah terbuka. Ya Tuhan, berdiri seperti itu saja ia sudah tampak begitu seksi dimataku.
Aku berhenti sejenak di depannya. Mengatur nafas setelah berlari mengejar si seksi ini. Ia memandangku dan mengisyaratkanku untuk masuk dengan ekor matanya.
"Aku bawa mobil." Kataku pelan.
"Mobilmu sudah diurus oleh supirku." Aku mendelik. Berarti dia membuka tasku untuk menemukan kunci mobil?
"Kau membuka tasku?" Tanyaku dengan suara meninggi.
"Kau ingin mencaci dan mengacungkan raket tennis padaku di depan supirku? Aku tidak akan suka dengan pemandangan itu."
Aku melongo tak percaya. Dia selalu seenaknya sendiri padaku. Dia pikir dia siapa? Aku rasa mulai sekarang tiap hari aku akan menanyakan hal itu.
'Dia calon suamimu, bodoh! Lihatlah kemeja yang digulung itu, astaga, peluk dia, Kin!' Sisi genitku muncul lagi.
"Sudah selesai berdiskusi pada diri sendiri? Masuklah." Kalimatnya begitu mendominasi. Sehingga dengan tanpa sadar aku segera masuk. Dia meletakkan tas di pangkuanku. Dan menutup pintu.
Ia memutar lalu membuka pintunya. Duduk dengan nyaman, lalu memasang seatbelt dan bersiap menyalakan mesin mobil.
Aku memandangnya dengan perasaan campur aduk. Menyipitkan mataku dan memanyunkan bibirku. Aku marah. Aku punya banyak pertanyaan yang harus ia jawab.
"Kau ingin aku memasangkan sabuk pengamanmu?" Dia melirikku sekilas. Aku mendengus dan memasang seatbelt ku. Lalu menatapnya lagi. Kupasang wajah semarah mungkin. Dia menoleh.
"Kau ingin aku menciummu?" Dia menatapku dengan muka datar. Wajahku panas seketika mendengar pertanyaannya. Mataku membulat. Dia bicara apa tadi? Menciumku? Apa maksudnya?
"Simpan bibir panjangmu itu." Katanya sambil menyalakan mesin mobil. Lalu menginjak pedal gas. Menatap ke depan dan fokus mengemudi. Seperti tidak pernah mengucapkan apapun padaku barusan.
Aku menggerutu dalam hati. Sialan kau, seksi. Tunggu pembalasanku!
***
No comments:
Post a Comment