Special Chapter: Abimanyu's POV
"Berhentilah menatapku seperti itu." Kataku tanpa menoleh padanya dan tetap fokus mengemudi. Aku tahu sejak tadi dia memandangku dengan bibir manyun dan muka cemberutnya dari samping.
"Jadi mengekorimu pergi ke kantor kau sebut dengan berkencan? Woah, ini tidak dapat dipercaya!" Katanya kesal.
"Aku hanya akan memeriksa beberapa dokumen saja." Jelasku singkat.
"Kenapa tidak bilang dari awal? Kau ingin mengajakku ke kantor dengan pakaian seperti ini? Astaga!" Dia memandang penampilannya dengan muka sedih.
"Tidak ada yang salah dengan penampilanmu. Percayalah." Aku serius. Tidak ada yang salah dengan penampilannya hari ini. Dia terlihat cantik seperti biasa.
Aku harap dia tidak meminta untuk pulang. Aku sudah terlambat. Ada beberapa dokumen yang harus aku tandatangani pagi ini.
"Tapi ini baju main, bukan baju kantor. Kau ingin aku berjalan disampingmu yang begitu rapih dengan penampilan seperti ini? Aku tidak mau!" Dia mulai melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau butuh raket tennisku?" Kataku mencoba untuk menghiburnya.
"Kau tidak lama kan? Aku menunggu di mobil saja kalau begitu."
"Kau yakin?" Aku meliriknya sekilas.
Dia mengangguk berkali-kali. Terlihat sangat yakin dengan keputusannya. Tapi aku tak tega jika harus membuatnya menungguku di dalam mobil.
"Begini saja. Aku punya apartemen di dekat sini. Kau bisa menungguku disana."
Aku segera mematikan mesin mobil dan keluar, lalu membuka pintu untuknya. Kami sudah sampai di gedung apartemen. Aku melihat arlojiku. 08:17.
"Waktuku masih cukup untuk mengantarmu sampai depan pintu." Aku bergegas menuju lift. Dia hanya mengekoriku dengan patuh.
"Apa kau sering menginap disini?" Tanyanya. Kami sudah sampai di depan pintu apartemenku. Aku membuka pintu dan mempersilakannya untuk masuk.
"Lumayan. Kau yakin tidak mau ikut denganku?" Dia menggeleng dengan cepat.
"Tidak, tuan. Terima kasih." Aku terkekeh dalam hati. Dia terlihat memandang sekeliling. Kurasa dia suka disini.
"Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan kembali dalam 1 atau 2 jam." Dia mengangguk. Lalu segera berjalan ke arah pintu untuk mengantarku.
"Hati-hati."
"Jika ada apa-apa, segera hubungi aku."
***
"Pagi, pak." Talita menyapaku dengan senyum seperti biasa.
"Pagi. Kau sudah membatalkan semua jadwalku hari ini?" Dia mengikutiku sambil setengah berlari dengan membawa dokumen-dokumen.
"Sudah, pak. Tapi ada beberapa dokumen yang harus bapak tandatangani pagi ini juga." Dia meletakkan semua dokumen itu di atas mejaku.
"Baiklah, aku akan mempelajarinya. Kau boleh pergi."
Aku segera membuka tumpukan dokumen itu dengan cepat. Entah kenapa. Aku baru saja sampai di kantor, tapi aku ingin segera pulang ke apartemen. Bayangan wajah Kinan yang menungguku sendirian membuatku tak tenang. Iya, dia gadis yang akan menikah denganku bulan depan.
Beberapa waktu yang lalu, kakek menawarkan padaku untuk menikahi cucu temannya. Kakek sudah bosan melihatku terpuruk selama berhari-hari karena Sandra. Awalnya aku menolak tawaran itu. Tapi setelah dipikir-pikir, Sandra saja bisa dengan mudahnya melakukan itu, kenapa aku tidak?
Lalu saat kakek mengajakku untuk melihat Kinan pertama kali, aku tertegun. Dia begitu cantik dan polos. Dia sedang bermain dengan anak-anak kecil. Beberapa anak bahkan mencium pipinya dan menggelayut manja. Dan dia tertawa bahagia. Matanya, pipinya, bibirnya, lekuk tubuh, bahkan suara tawanya, semua terlihat sempurna di mataku. Matanya mengingatkanku pada mata indah Candice Swanepoel. Dan senyumnya sangat mempesona. Senyuman Cameron Diaz. God, she's absolutely gorgeous!
Aku suka dengan pemandangan itu. Rambut kecoklatannya di cepol tinggi sembarangan hingga menyisakan rambut-rambut disekitar leher, telinga, dan keningnya. Seksi sekali. Aku rasa aku bisa bertahan dengan istri secantik itu.
Kemudian aku mulai sering memantaunya diam-diam. Aku juga meminta beberapa orang kepercayaanku untuk mencari informasi lengkap tentang Kinan. Sampai akhirnya aku memutuskan, aku bersedia menikah dengannya. Cepat atau lambat, Kinan pasti bisa membuatku lupa pada Sandra.
Setelah semua dokumen selesai kutandatangani, aku segera menuju ke apartemen.
Aku melihatnya tertidur di sofa dengan tv yang menyala. Matanya terlihat tidak nyaman karena tertutup sebagian rambutnya. Aku mendekat. Kupindahkan rambutnya ke belakang telinga. Aku tersenyum.
Ia sedikit menggeliat. Mukanya terlihat sangat imut. Dia selalu bisa membuatku tersenyum karena gemas. Seperti saat dia menaut-nautkan jari kakinya satu sama lain sebelum menemuiku dan memandangku dari bawah ke atas. Aku sempat melihat matanya terkisap saat berhenti di jakun dan wajahku. Aku tahu, dia menginginkanku.
Aku mulai menikmati waktu yang kuhabiskan bersamanya. Menggodanya sangat menyenangkan. Dia selalu marah dan memanyunkan bibirnya, padahal aku tahu dia tersipu. Beberapa hari yang lalu, aku menggodanya dengan mendekatkan mukaku pada mukanya. Wajahnya merah sekali. Aku hampir saja lepas kontrol saat itu. Aku sangat ingin menyentuhnya, memilikinya.
Tiba-tiba saja hpku berbunyi. 'Talita'. Ah dia mengganggu sekali. Aku segera menjauh dan menerima panggilan itu.
Ketika aku berbalik, dia sudah membuka mata dan duduk dengan tegang.
"Sejak kapan kau disitu?" Tanyanya panik.
"Bukankah kau yang memintaku untuk tidak berlama-lama?" Aku membuka kancing di pergelangan tanganku. Menggulung lengan kemeja sampai ke siku. Lalu berjalan ke arah lemari es.
"Kau ingin makan sesuatu?" Aku meliriknya sekilas. Dia menggeleng.
"Sementara aku ganti baju, cucilah mukamu. Kita pergi setelah ini." Aku melihatnya sambil menenggak air.
"Kemana?" Dia mulai berdiri menghampiriku dan mencepol rambutnya. Sial! Aku segera berbalik, meninggalkannya menuju kamarku. Aku tidak ingin bergairah sekarang.
"Cuci saja mukamu." Kataku sambil lalu.
Aku yakin, dia pasti sedang memanyunkan bibirnya saat ini.
***
Kinan tampak begitu bahagia. Ia sedang mewarnai bersama anak-anak asuh kesayangan tante Okta, adik mama.
Tante Okta mempunyai sebuah panti asuhan. Beliau mendirikannya sejak 10tahun lalu, beberapa bulan setelah dokter memvonisnya tidak bisa mempunyai keturunan.
Aku selalu menyempatkan diri untuk kemari seminggu sekali. Mengunjungi tante Okta dan bermain bersama anak-anak.
Tante Okta mendekatiku dan membawa nampan berisi 3 gelas minuman dan toples camilan. Beliau meletakkannya di meja, lalu memanggil Kinan agar bergabung bersama kami. Tante Okta tersenyum ketika melihat Kinan.
"Dia sangat cantik." Aku lalu mengikuti arah mata tante Okta dan tersenyum simpul.
"Kapan?" Tanya tante Okta sambil menikmati camilan yang beliau bawa tadi.
"Bulan depan. Tante bisa membawa mereka? Aku ingin mereka menghadiri pesta pernikahanku."
"Tentu, tampanku."
Kinan menghampiri kami sambil tersenyum. Dia lalu duduk disebelahku, berhadapan dengan tante Okta.
"Kau suka disini?" Tanya tante Okta pada Kinan.
"Sangat, tante. Kata ibu, sejak kecil aku sangat menyukai anak-anak." Tante Okta tertawa mendengar jawaban Kinan.
"Benarkah? Kalau begitu mulai sekarang, datanglah kemari bersama Abimanyu. Sepuluh tahun kemari secara rutin sendirian pasti melelahkan baginya." Tante Okta tertawa lagi. Kali ini dengan nada sedikit mengejekku.
"Kau sering kemari?" Mata Kinan membulat. Menatapku tak percaya. Tapi ada senyum bahagia disana.
Aku mengangguk singkat.
"Seminggu sekali."
Dia tersenyum.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 15:07 ketika kami mulai menjauh dari halaman panti asuhan. Kinan tampak melambai-lambaikan tangannya pada anak-anak.
Ia mulai menutup kaca jendelanya dan menghadap ke arahku. Aku segera mengalihkan pandanganku ke depan. Menatap jalanan beraspal. Aku tidak ingin dia memergokiku yang sedang memandangnya.
"Aku tidak percaya kau suka pada anak-anak." Dia mengakhiri kalimatnya dengan tawa.
Aku berdehem. Tidak tahu harus bilang apa.
"Maksudku, kau terlihat begitu dingin dan tidak peduli pada sekitarmu." Tambahnya lagi.
"Begitukah?"
"M~hm" Dia menjawab singkat dengan mata yang masih berbinar. Sebahagia itukah dia bertemu anak-anak?
"Kampus? Kenapa kita ke kampus? Ini kampusmu?" Dia mengerutkan kening ketika aku berbelok dan masuk ke kampusku dulu.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Dan segera menuju parkiran yang sudah mulai penuh.
Aku membuka pintunya dan mengajaknya ke selasar kampus. Kulihat Joshua melambaikan tangan. Mereka sudah menungguku rupanya.
Joshua dan yang lain menyambutku dan Kinan. Aku segera memperkenalkannya pada mereka. Kinan tersenyum dengan sangat manis.
"Kapan project kita di putar?" Tanyaku pada Joshua sambil memandang sekeliling. Mereka terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatu diatas panggung.
"Katanya sih sebelum puncak acara." Joshua mulai mengikat rambut gondrongnya.
"Mereka udah nyiapin tempat buat kita. Yuk." Tambahnya lagi lalu segera berjalan mendekati panggung. Duduk di barisan ketiga dari depan panggung. Kulihat sekeliling sudah ramai. Mungkin acara akan segera dimulai.
Kinan menyentuh lenganku dengan ujung jari telunjuknya sebanyak dua kali lalu berbisik.
"Kenapa kita disini? Kau akan bernyanyi atau semacamnya di panggung itu bersama Joshua?"
Aku terkekeh di dalam hati.
"Maaf membuatmu kecewa. Sayangnya tidak."
Dia mengerutkan kening.
"Aku dan Joshua membuat sebuah project film lintas angkatan. Kami sudah mengantongi ijin untuk bisa mengikuti festival hingga ke berbagai negara. Dan kami sepakat untuk memutarnya secara perdana di acara tahunan kampus malam ini."
Kinan melongo mendengar penjelasanku.
"Whoa!" Dia mamandangku dengan takjub.
"Kau tidak kecewa karena aku tidak menyanyi atau semacamnya di atas sana?" Kataku dengan menatap panggung.
Dia menggeleng lucu.
"Semoga kalian berhasil pulang dengan membawa banyak penghargaan ya!" Matanya berbinar antusias.
"Terima kasih."
Rangkaian acaranya berjalan dengan lancar, hingga tiba waktunya untuk pemutaran project film kami. Setelah after credit, tepukan membahana di selasar malam ini. Aku dan Joshua tersenyum senang mendapat apresiasi yang begitu mengesankan untuk pemutaran perdana project kami.
"You did a very good job!" Kinan berbisik dengan senyuman bangga di antara gemuruh tepuk tangan.
***
"Maaf tidak ada makan di luar, pergi ke bioskop, jalan-jalan dan sebagainya seperti orang pada umumnya."
Dia tertawa senang. Dia bahagia?
"Kita sudah melakukannya hari ini. Jalan-jalan ke panti asuhan tante Okta, makan disana bersama anak-anak, dan menonton filmmu yang luar biasa."
"Kau senang?" Tanyaku memastikan.
"Tentu saja. Aku sangat senang hari ini, tuan." Dia tertawa lagi. Hari ini aku banyak melihatnya berbinar dan tertawa. Tawa yang lepas. Seperti saat pertama aku melihatnya.
Kami sudah sampai di depan rumahnya. Pukul 21:13. Sial! Aku terlambat mengantarnya pulang.
Aku segera membuka pintunya. Setelah dia turun, aku menutup pintu itu lagi.
"Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini. Aku sangat senang." Dia tersenyum manis.
"Sama-sama. Masuklah. Maaf aku terlambat mengantarmu pulang."
Dia mengangguk. Dan segera berjalan menuju gerbang rumahnya. Sebelum dia hilang dibalik gerbang, dia berbalik. Lalu mengangkat telunjuknya ke atas.
"Ah ya, satu lagi. Kau peran utama yang sangat berbakat."
Saat dia sudah menutup gerbang, seketika senyumku mengembang.
No comments:
Post a Comment