Ken's PoV
Aku berbaring disamping Kinan yang sedang terlelap. Sudah setengah jam lebih aku menempel padanya disini sambil bermain salah satu game paling populer abad ini lewat gadget. Volumenya sengaja aku atur paling tinggi. Bukannya terbangun, dia justru semakin nyenyak dan menumpukan sebelah tangan dan kakinya padaku. Dengan wajah yang tenggelam di ketiakku. Dasar kebo ceroboh! Apa dia seperti ini juga saat di luar? Bagaimana jika ada yang berniat macam-macam padanya?
"Keeenn, Kiiiinn. Turun, sayang. Sarapan sudah siap."
Suara ibu segera membuatku berhenti main game. Aku lapar! Kinan masih tak bergeming. Aku memandangnya dengan muka datar dan mendorong keningnya dengan ujung jari. Dia masih tak merespon.
Aku melakukannya lagi. Berkali-kali. Dia tetap tak merespon tindakanku. Apa yang harus kulakukan untuk membuat kebo satu ini bangun?
Aku melihat jari-jarinya yang tanpa dia sadari bergerak memelukku lebih erat untuk mencari posisi nyaman. Sebuah ide melintas dipikiranku. Aku tersenyum senang. Aku segera menggigit ujung ibu jarinya. Rasakan kau! Aku tertawa.
"Aaawww!" Dia membuka mata seketika. Dan memeriksa ibu jarinya. Setelah memastikan bahwa jarinya baik-baik saja, dia segera mendongakkan wajahnya.
Matanya membulat melihatku.
"Keeennn! Kamu pulang?" Dia meneriakkan pertanyaan bodoh dengan mata berbinar dan segera memelukku dengan erat. Tentu saja aku pulang. Minggu depan adalah hari paling penting untuknya. Hari pernikahannya.
Aku membalas pelukannya. Ah, ternyata kebo satu ini ngangenin juga.
Aku memegang puncak kepalanya untuk mendorong dia agar menjauh.
"Dasar kebo bau jigong! Sikat gigi dulu sana! Ayah-ibu udah nunggu buat sarapan." Dia tersenyum jahil dan segera mendekat. Mendaratkan ciuman di pipiku dan mengacak rambutku. Lalu lari terbirit-birit ke kamar mandi.
Dasar menyebalkan! Aku mengusap-usap pipiku bekas ciumannya dan segera turun untuk bergabung dengan ayah dan ibu.
"Kinan mana, dek?" Tanya ibu sambil membantu bibi menata meja makan.
Aku memanyunkan bibir. Ibu selalu memanggilku begitu dengan nada penuh sayang. Oh astaga, mereka bahkan masih memperlakukanku seperti bocah SD sampai sekarang.
Tapi Kinan sudah diijinkan menikah. Ini tidak adil!
Tiba-tiba seseorang merangkul leherku dari belakang dan mengacak rambutku. Aku menoleh. Kinan menatapku sumringah. Aku menatapnya dengan datar. Ayah tersenyum melihat tingkah kami.
Kinan selalu semena-mena padaku. Seperti merangkulku tanpa mengenal tempat, menciumku sembarangan, dan mengacak rambutku penuh sayang. Dia dan ibu sama saja. Selalu menganggapku bocah kecil walaupun aku sudah sebesar ini. Mungkin karena aku lahir beberapa menit setelah Kinan. Iya. Kami kembar. Tidak identik dan berbeda jenis kelamin. Entah kenapa dia yang mendapatkan julukan sebagai kakak. Kenapa bukan aku saja?
"Kapan nyampe rumah?" Tanyanya sambil menarik kursi. Aku segera melakukan hal serupa.
"Subuh tadi. Makanya jangan molor mulu."
Kinan memanyunkan bibirnya. Aku tertawa senang melihatnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat bibir manyun itu.
***
"Laura mana? Tumben nggak kelihatan?"
Kinan terlihat serius menatap hpnya. Dia tersenyum.
"Panjang umur nih siluman kasmaran. 5menit lagi dia sampai sini. Haha."
"Siluman kasmaran? Baru gebetan apa udah jadian?"
Kinan memandangku sambil mengerutkan kening.
"Kepo ih." Katanya sambil menjulurkan lidah ke arahku. Sial!
Aku segera merebahkan badanku di sebelah Kinan. Aku akan menunggu Laura datang. Kinan menatapku.
"Gimana kerjaannya? Enak?" Tanya Kinan sambil menyenggol lenganku.
Kakinya mulai terangkat ke atas. Kadang seperti mengayuh sepeda, kadang hanya rapat lurus ke atas seperti sikap lilin. Aku tidak tahu kenapa dia selalu melakukan hal konyol itu sebelum tidur.
"M~hm." Jawabku sekenanya. Pekerjaanku memang menyenangkan. Bagaimana tidak? Saat ini aku digaji untuk makan kesana kemari dan sebagai balasannya aku hanya harus membuat review tentang makanan tersebut di akun blogku. Yeah, aku adalah seorang food blogger. And it's freaking awesome!
Tapi kegiatan kaki Kinan mengganggu pemandanganku.
"Bentar. Kenapa selalu melakukan itu?" Tambahku.
Kinan menoleh menatapku.
"Melakukan apa?"
Aku hanya mengarahkan ekor mataku pada kaki jenjang nun mulusnya yang terangkat ke atas. Dia tertawa.
"Satu untuk peredaran darahku. Satu lagi untuk mempercantik pinggulku."
Aku memutar bola mata mendenger penjelasan bodohnya.
"Haii!" Suara itu! Laura!
Aku segera menoleh ke arah pintu. Dan dia tersenyum sangat cantik disana. Sambil melambaikan tangan ke arahku.
Aku tersenyum simpul padahal hatiku tertawa bahagia. Laura mendekatiku dan memelukku singkat. Aku membalas pelukannya.
"Kapan nyampe?" Tanyanya sambil mengacak rambutku. Aku merasa bahagia seperti seekor anjing yang memendam rindu teramat dalam karena sudah lama tak bertemu majikannya. Da*n! Apa aku baru saja memanggil diriku sendiri anjing?
"Tadi subuh." Aku tersenyum lagi. Dia mulai duduk di dekatku. Sambil meletakkan kantong plastik.
"Batagor Mang Ucuuup!" Katanya sambil tertawa bahagia. Kinan tersenyum dan segera turun ke bawah untuk mengambil piring dan sendok.
Tinggal aku dan Laura berdua duduk di atas ranjang Kinan. Aku merebahkan tubuhku dengan meletakkan kedua telapak tanganku dibawah kepala sebagai bantal. Laura tampak sedang membalas pesan dari seseorang di hpnya. Apa itu gebetan atau pacarnya?
"Gimana kerjaannya?" Tanyanya setelah selesai.
"Awesome!" Jawabku singkat.
Laura tersenyum manis sambil mengacak rambutku lagi.
***
"Katakan padaku, kamu hamil?"
Kinan dan Laura segera menatapku dengan muka datar, lalu memukul kepalaku dengan bantal.
"Aku tidak akan melakukan itu sebelum pernikahan. Tidak percaya pada kakakmu, eh?"
Ucap Kinan tenang sambil melahap batagor. Laura mengangguk mengamini kalimat Kinan barusan.
"Lalu kenapa harus minggu depan? Apa Abimanyu tidak pernah melepaskan gairah pada perempuan sebelumnya hingga harus terburu-buru seperti itu?"
Laura dan Kinan tersedak bersamaan. Kali ini telapak tangan Kinan menyapa bagian belakang kepalaku dengan kencang.
Hei, apa salahku? Aku benar-benar tidak bisa mempercayai pernikahan mereka yang terkesan buru-buru ini. Aku bahkan belum pernah bertemu secara langsung dengan Abimanyu sebelumnya. Bisa saja dia melakukan pernikahan ini dengan niat buruk atau sebagainya. Wajar bukan kalau aku curiga?
Kinan melanjutkan aksinya dengan mengunci leherku dengan lengan kanannya dan menyiksa telingaku dengan sebelah tangannya. Ia menyatukan jari tengah dan ibu jarinya. Lalu dengan kekuatan penuh, ia melepaskan itu tepat di daun telingaku. Rasanya luar biasa.
"Aw!!"
Kenapa aku punya kakak seganas ini dan ada yang mau menikahinya?
Laura tertawa melihat tingkah kami.
"Kenan, buruan minta maaf!" Kata Laura disela-sela tawanya.
"Kenapa aku harus minta maaf?" Kataku dengan susah payah.
Kinan mengeratkan kuncian lengannya di leherku. Sebenarnya aku bisa saja melepaskan diri dari Kinan dengan mudah. Tapi tawa Laura mengurungkan niatku.
"Aw aw! Kebo, lepas!!"
Laura belum berhenti tertawa.
"Udahan ih!" Laura melerai kami (masih) dengan tawa yang mengembang di wajahnya. Pelerai macam apa itu?
Karena Kinan tidak menghiraukannya, dia bangkit lalu menyempil-nyempilkan badannya diantara kami. Otomatis lengan Kinan terlepas dari leherku. Dia duduk dengan kepala menoleh ke arah Kinan, memandangnya dengan mata cemas.
"Kin, Tio ada acara mendadak besok malam. Gimana dong? Maaf." Laura memandang Kinan dengan mata penuh sesal.
Dia berhasil membuat Kinan berhenti menyiksaku. Seperti biasa. Dia memang pahlawan cantikku.
"Umm.. Aku rasa, aku tidak keberatan walaupun kita cuma bertiga." Kinan menjawab dengan muka polosnya.
Aku menatap mereka dengan muka datar. Baiklah, mereka mengabaikan aku sekarang.
Aku segera menggunakan waktu ini untuk memeriksa beberapa notifikasi di hpku.
"Aku yang keberatan! Aku harus jadi setan diantara kalian? Tidak, terima kasih!" Laura melipat tangan di depan dada.
"Oke, kita cari pengganti Tio." Kinan tampak berpikir.
Lalu menatapku.
"Bagaimana dengan kunyuk satu ini? Mau?" Kinan menatap Laura lalu menatapku lagi. Laura pun menoleh padaku.
Ada apa ini? Aku menatap mereka penuh tanya.
"Kau ada acara besok malam?" Laura bertanya padaku yang masih kebingungan.
"Besok malam? Aku rasa, aku belum punya rencana apapun. Kenapa?" Keningku pasti berkerut sekarang. Ah, semoga aku tetap terlihat tampan di matanya.
Laura tersenyum senang.
"Great! I'll take him!" Laura segera merangkul leherku dengan lengannya. Menatap Kin dengan senyuman. Tubuh kami menempel begitu erat. Aku membeku menatapnya.
Do more, baby!! Please!
Walaupun aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, selama ada Laura bersamaku, aku tidak akan keberatan.
***
No comments:
Post a Comment