Aku memegangi pinggiran nampan itu dengan erat. Ujung jariku terlihat memutih. Jantungku bagai bekerja sepuluh kali lebih hebat dari biasanya. 'Bernafas, Kin!' Runtukku pada diri sendiri. Aku segera menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya dengan kasar. Oh bagaimana ini? aku terlalu gugup. Permukaan teh hangat dalam cangkir berwarna biru langit yang ada di atas nampan itu terlihat bergoyang-goyang. Seakan mengejekku. Tanganku terlihat gemetar. Dan lututku terasa lemas. Demi apapun, bisa tidak hal-hal semacam ini di-skip saja dari dunia perjodohan?
Bibirku komat kamit merapalkan doa untuk mengurangi debar jantungku yang makin tidak karuan. Aku memandang gorden yang tertutup di depanku. Jempol kakiku bertaut-tautan resah dengan teman-teman seperjariannya. Gorden itu yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah. Sayup-sayup kudengar ayah dan ibu sedang mengobrol dengan dua orang tamu. Dan aku bertugas untuk menghidangkan minuman karena mereka bukan tamu biasa. Iya. Tamu itu adalah lelaki yang - kata ayah - akan menjadi suamiku (bila aku mau). Hari ini untuk pertama kalinya aku akan dipertemukan dengannya. Dia datang bersama ayahnya. Sebenarnya aku merasa dicurangi disini. Karena dia telah melihatku sebelumnya. Beberapa kali. Lalu bersedia menikah denganku. Hei, aku belum tentu mau dengannya bukan? Percaya diri sekali dia!
Aku mulai mengatur nafas lagi. Kaki kananku telah maju satu langkah. Okay, mau bagaimana lagi. Anggap saja ini merupakan salah satu bagian hidup yang harus dilalui. Aku mencoba tersenyum. Ketika kaki kiriku hampir melangkah, aku mendengar seseorang berdehem dari ruang tamu. Tuhanku semesta alam! Deheman itu meruntuhkan tembok keberanian yang sejak tadi berusaha kubangun dengan susah payah. Jantungku serasa jatuh ke lantai. Tidak bisa! Aku terlalu takut untuk bertemu dengan lelaki itu. Perjodohan seperti ini sama sekali tidak lucu. Aku memundurkan langkahku lagi. Tiba-tiba gorden itu terbuka. Ibu menghampiriku sambil tersenyum. 'Ohh ayolah, bu. Haruskah aku terlibat dalam perjodohan seperti ini?' Mataku memelas. Berharap ibu dapat membaca isi hatiku. Ibu mengangguk tanda aku harus masuk ke ruang tamu sekarang juga.
Aku rasa lantai lebih menarik hari ini. Aku menaruh minuman itu di meja sambil menatap lantai. Ibu menarikku untuk duduk disebelahnya. Aku masih menatap lantai. Ibu segera mempersilakan tamu untuk minum.
Sepuluh menit sudah berlalu, dan aku masih menatap lantai. 'Duh gusti, kapan mereka pulang'. Aku sudah merasa pegal karena menunduk terlalu lama.
"Kamu tidak ingin melihat wajahnya? Lihatlah walau sebentar saja." Kata ibu lirih. Aku menghela nafas. Ibu lalu kembali mengobrol dengan ayah serta ayah lelaki itu. Entah apa yang diobrolkan, aku tidak menyimak sejak tadi karena terlalu sibuk dengan pikiranku. Aku mulai menyusun rencana. Kursi yang kududuki berada tepat berhadapan dengan lelaki itu. Baiklah, ketika aku mendongak, aku akan melihat wajahnya sebentar lalu menunduk lagi sampai mereka pulang. Kurasa begitu sudah cukup. Toh aku tidak terlalu tertarik dengan perjodohan semacam ini. Ayah-ibu pun sudah berjanji tidak akan memaksaku bila aku tak suka dengan lelaki itu.
Aku lalu mengangkat kepalaku perlahan. Yang tertangkap oleh mataku paling awal adalah tangannya. Kesan pertama yang kudapat: kulitnya bersih. Tangannya terlihat nyaman untuk digandeng. 'Lumayan juga', aku tersenyum dalam hati. Mataku lalu sampai pada pemandangan dada bidangnya. Aku semakin berdebar. Setelahnya, walaupun tertutup oleh kemeja yang ia kenakan, aku pun bisa menilai bahwa lelaki ini memiliki bahu yang bagus dan lebar. 'Hmm, lelaki yang seksi', cengirku. Aku rasa aku akan betah bersandar di bahunya. Kemudian mataku sampai ke wajahnya. Aku tertegun melihatnya. Demi nampan beserta dua cangkir berisi teh hangat yang mengejekku tadi!!! Dia tampan! Lehernya dilengkapi jakun yang memanjakan mataku. Rahangnya seolah terpahat dengan sempurna. Hidungnya bangir. Matanya indah menatapku. Sungguh tampan ciptaanmu, Tuhan. Tunggu! Apa? Dia menatapku!!! Jantungku berdebar lebih hebat dari momen membawa nampan tadi. Aku membeku. Kami masih saling menatap.
"Ehem"
Mataku membulat. Itu suara deheman ayahku! 'Matilah aku. Lantai! Mari menatap lantai berjamaah!' Lagi. Aku meruntuk pada diriku sendiri. Pipiku pasti sekarang terlihat semerah tomat. 'Memalukan kamu, Kin'. Apakabar dengan 'melihat wajahnya sebentar lalu menunduk lagi sampai mereka pulang' dalam rencana yang kau susun tadi, Kin? Aku mendesah pelan.
👑👑👑
Ayah terlihat menyesap teh hangat buatan ibu. Dengan duduk santai di kursi teras, ayah mulai membuka koran. Biasanya pemandangan semacam ini ada ketika pagi, sebelum aku berangkat kuliah. Namun karena ini hari Sabtu, dan pagi tadi lelaki seksi itu kemari, ayah baru sempat melakukan ritual hariannya ~bersantai, membaca koran, sambil ngeteh~ sore ini.
Apa aku memanggilnya dengan sebutan 'seksi' barusan? Astaga, dasar mesum kamu, Kin.
"Kinanti.."
Aku yang sedang berbicara dengan diri sendiri terkejut dan langsung menoleh menatap ayah.
"Ya, ayah." Aku buru-buru melepas selang yang kugunakan untuk menyiram bunga-bunga di depan rumah dan mematikan keran. Aku mulai menghampiri dan duduk didekat ayah. Wajah ayah terlihat santai. Tapi rasanya aku sudah tahu apa yang akan beliau bicarakan.
"Bagaimana? Kamu mau menikah dengannya?" Tanya ayah terus terang. 'Bingo!' Tebakanku benar. Aku jadi punya rencana untuk membuka lapak jasa ramal wajah suatu hari nanti.
Aku menatap kepulan teh dari cangkir ayah. Disebelahnya ada sepiring kue lumpur buatan ibu untuk menyambut tamu pagi tadi. Kue itu terlihat enak sekali. Oh tidak, fokus, Kin! Fokus!.
Ayah membalik halaman koran yang beliau baca. Lalu menatapku.
"Kok diam? Kamu tidak mau?" Desak ayah karena pertanyaan beliau tak kunjung kujawab. Aku masih menunduk sambil memilin-milin ujung kaos yang kukenakan.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Baru kali ini ada perjodohan semacam ini di keluarga kami. Semua berawal dari akung, ayah dari ayahku. Akung sudah lama mempunyai keinginan untuk menjodohkan salah satu cucunya dengan cucu temannya. Dan sialnya, dari sekian banyak cucu kebetulan pilihan akung jatuh padaku. Tuhan, aku tidak sedang memainkan peran utama dalam ftv kan?
"Wah, ibu pikir kamu suka. Tadi sampai bengong loh, yah, waktu lihat wajahnya." Tiba-tiba ibu muncul dari dalam dan tersenyum menggoda. Padahal aku tahu pasti, ayah pun telah memergokiku ketika tertegun memandang lelaki itu. Mukaku terasa panas menahan malu. Aku yakin, mukaku sudah semerah tomat lagi.
"Ayah sama ibu sih suka. Kelihatannya dia baik." Ayah terdengar tulus mengucapkan itu.
"Ganteng lagi. Ya kan, Kin?" Ibu menggodaku lagi. Aku hanya bisa manyun. Somebody eat my tomato face, please!
Ayah tersenyum menanggapi candaan yang ibu lontarkan.
"Tapi itu terserah kamu, Kin. Kalau kamu kurang sreg sama Abimanyu, nanti biar ayah yang menyampaikan permintaan maaf pada keluarganya."
'Sreg kok, yah! Kinanti sreg sama si seksi itu!' Dewi batinku yang kegenitan berteriak panik. Oh tidak, apa aku baru saja memanggilnya 'seksi' lagi?
"Ayah juga akan menyampaikan pada akung agar mencari penggantimu untuk menikah dengan Abimanyu." Lanjut ayah lagi sambil membaca koran seakan membicarakan pendapatku tentang si seksi itu adalah hal yang sering terjadi. Ayah tampak begitu santai. Bodo amat, namanya berubah jadi 'si seksi' mulai sekarang.
"Wah, mungkin akung bakal milih Laras atau Sekar ya, yah? Mereka juga sudah cukup umur." Ibu menimpali ucapan ayah sambil menyebutkan nama sepupuku. Ayah hanya mengangguk-angguk mengamini dugaan ibu.
Astaga, kalau si seksi itu menikah dengan sepupuku, kami pasti akan bertemu dalam acara keluarga besar yang diadakan setahun sekali! Dan aku harus melihat Laras atau Sekar bergelayut manja di lengan seksinya itu? Atau nanti beberapa tahun kedepan aku harus melihat mereka punya anak-anak yang lucu dan sehat seperti si seksi itu? Hatiku mendadak pedih membayangkannya. Sepertinya akan menyakitkan.
'Itu tidak boleh terjadi. Nikahi Abimanyu! Nikahi dia, Kin!' Diriku yang genit mulai agresif, tidak sabar karena aku hanya diam sambil menatap ujung kaos yang sudah keriting karena kupilin sejak tadi.
"Nona gengsi ini sibuk sekali sama pikirannya, yah. Padahal ibu tau loh kalau kamu suka sama Abimanyu. Hahaha, iya kan?"
Demi harga bahan bakar minyak yang sedang turun! Ibu bilang apa tadi?
"Ibuu.." mulutku manyun sepanjang mungkin memprotes godaan ibu. Aku tidak peduli mukaku akan terlihat seperti apa dengan bibir semanyun sekarang.
"Hahahahahaha" ayah dan ibu tertawa bersamaan. Dalam rangka apa mereka tertawa? Ini tidak lucu!
"Jadi bagaimana?" Tanya ayah lagi sambil menyusut sedikit air mata yang keluar karena tertawa barusan. Ayah tertawa sampai menangis? Iya, ini gara-gara godaan ibu. Dan aku yang dikorbankan sebagai punchline-nya. Tuhan, aku sedang teraniaya secara verbal disini. Bila telah tiba saatnya nanti, tolong cabut nyawaku dengan anggun dan masukkan aku ke dalam surga-Mu. Aamiin.
'Ngomong, Kin! Ayo ngomong kalau kamu mau sama si seksi itu!' Lagi-lagi si genit dalam diriku tidak sabar.
Baiklah, mungkin ini saatnya. Bismillah. Aku berdehem memantapkan hati. "Kinan nurut apa kata ayah sama ibu aja." Nyes, ada perasaan lega setelah nengucapkan itu.
'Akhirnyaaa! Haha.' Si genit tertawa senang.
Kulihat ibu dan ayah saling melirik, lalu menatapku. Mencari kesungguhan atas kata-kataku barusan. Kemudian, mereka tersenyum. Manis sekali.
👑👑👑
No comments:
Post a Comment