Aku menatap langit-langit kamar sambil merebahkan diri dan mendesah pelan. Kasurku terasa lebih nyaman dari biasanya. Entahlah, mungkin karena aku terlalu lelah dengan hari ini. Aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Apa yang telah kulakukan? Kenapa aku menyetujuinya? Aku bahkan belum mengenal si seksi itu dengan baik. Bagaimana bila ternyata ia suka kentut sembarangan? Atau suka ngupil lalu dipeperin ke baju, ke atas meja, ke kaca kamarnya, atau kemana saja? Ewww.. menjijikkan! Tiba-tiba aku membayangkan kaca kamarnya penuh dengan upil dan kawan-kawannya. Oke, Kin. Hentikan imajinasimu yang terlalu liar itu. Mari lupakan si seksi dan segala hal yang berhubungan dengannya sejenak. Aku sudah cukup lelah karenanya hari ini.
Aku merubah posisiku menghadap ke jendela kamar. Kulihat langit malam ini cerah sekali. Banyak bintang bertaburan yang aku yakin membawa kebahagian bagi para pasangan. Malam minggu yang secerah ini pasti sangat menyenangkan.
Tiba-tiba hpku berbunyi. Ada notifikasi messenger. Aku menoleh dan meraih hp di atas nakas dengan enggan. Pasti Laura! Teman sepermainanku dalam suka dan duka dari bangku TK sampai sekarang.
Laura_:
"Kin, doi kok gak ada kabar ya? Ini kan malam minggu 😩"
"Kin, doi kok gak ada kabar ya? Ini kan malam minggu 😩"
Aku menghela nafas. Inilah Laura dan segala kegalauan dalam bahtera asmaranya!. Laura sedang galau karena gebetannya tak kunjung menyatakan cinta. Padahal Laura yakin, Tio -nama gebetan Laura- sangat menyukainya. Mereka sudah dekat 6 bulan belakangan. Tapi sesuai pengamatan yang kulakukan, Laura lebih banyak memberi dan memulai sesuatu dalam hubungan mereka. Menelpon tiap pagi dan menjelang tidur, sms, dan chat di semua jenis messenger . Dia akan 'setia menemani' kemanapun Tio pergi. Aku sering protes ketika tahu bahwa Laura yang membayar bill tiap mereka makan, Laura membeli kaos atau sepatu yang Tio suka tiap mereka berbelanja dengan dalih hadiah. Kata Laura, itu disebut ikhtiar mendapatkan jodoh idaman.
Entahlah, aku tidak suka pada Tio. Aku tidak rela Laura melakukan itu semua untuk Tio, yang notabene bukan pacar Laura. Tapi protes yang kuajukan sama sekali tak pernah ia hiraukan. Aku mulai percaya pada pepatah jalanan yang mengatakan: "Menasehati orang yang sedang kasmaran bagai bicara dengan pantat wajan. Percuma!", ternyata benar adanya.
Me:
"Kencan sama yang lain mungkin 😌"
"Kencan sama yang lain mungkin 😌"
Sent.
Aku tertawa dalam hati membayangkan Laura meledak-ledak membaca balasanku barusan.
Hpku berbunyi lagi. Notifikasi messenger. Haha pasti Laura! Aku membukanya dengan semangat. Mataku membulat dan aku terduduk seketika.
"Abimanyu added you by phone number."
Astaga! Ini bukan Laura! Ini si seksi yang beberapa menit lalu berniat kulupakan. Aku segera menambahkannya sebagai teman messenger ku. Tidak lama setelah itu, ada satu pesan masuk.
Abimanyu:
"Hai."
"Hai."
Aku harus balas apa? I'm so dead. Dia hanya bilang 'hai'? Lalu aku harus jawab apa?
Me:
"Hai juga."
"Hai juga."
Sent.
Aku memandang pesan yang telah kukirim. Apa ini terlalu dingin dan jahat? Semoga tidak.
Satu menit, dua menit, tak kunjung ada balasan. Aku buka lagi papan chat kami. Status pesanku sudah terbaca. Kenapa si seksi itu diam saja? Dasar aneh! Segera kujauhkan hp itu dariku. Merebahkan diri lagi, lalu menimbun kepalaku dengan bantal. Apa barusan aku menunggu balasannya? Kau gila, Kin!
Tidak lama kemudian hpku berbunyi lagi. Aku mengintip dari balik bantal. Kuraih hp disampingku.
Laura_:
"Kumaafkan kau kali ini, gadis bermulut pedas! Tio barusan menelpon. Dia mau futsal. Aku nemenin mamas ganteng main dulu ya. Dadah! 😝"
"Kumaafkan kau kali ini, gadis bermulut pedas! Tio barusan menelpon. Dia mau futsal. Aku nemenin mamas ganteng main dulu ya. Dadah! 😝"
Aku mendengus pelan. Bukan si seksi ternyata.
Me:
"😒"
"😒"
Sent.
Aku menarik bantal lagi. Kenapa aku jadi menunggu balasannya? Perutku berbunyi. Ah, iya aku belum makan malam. Aku segera beranjak keluar kamar. Menuruni tangga dan melihat ayah-ibu sedang santai di teras.
Begitu sampai di ruang makan, aku langsung membuka tudung saji. Ada gurame fillet asam manis, cumi saus tiram, udang goreng tepung, dan ca kangkung. Aku mengerutkan kening. Ini bukan masakan ibu. Ini jelas makanan dari luar. Mungkin ayah-ibu tadi makan di luar lalu ingat pada anak malangnya ini. Sejak peristiwa kesediaanku menerima si seksi tadi sore, aku langsung mengurung diri di kamar. Mandi dan sibuk dengan penyesalan atas keputusan yang kurasa terlalu cepat dan tanpa pertimbangan yang matang. Ceroboh sekali. Padahal Laura selalu bilang bahwa aku perfeksionis, selalu merencanakan sesuatu dengan baik, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Aku mendesah lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Yang terjadi terjadilah. Segera kuambil piring dan mulai makan. Baiklah, mari lupakan si seksi itu lagi, Kin.
"Ciye, menikmati makanan dari calon suami!" Aku tersedak. Rasanya panas sekali di hidung dan tenggorokan. Aku segera meraih gelas dan menenggak air putih didalamnya hingga tandas tak bersisa. Ibu mengupas apel merah dengan tenang. Sejak kapan ibu berdiri disitu?
Ibu terlihat sibuk membuat jus untuk ayah.
"Pelan-pelan dong makannya, Kin." Ibu berucap sambil tersenyum penuh arti.
"Maksud ibu? Ini makanan dari si sek... lelaki itu?" Aku hampir saja menyebutnya 'si seksi' di depan ibu. Semoga ibu tidak menyadarinya. Jantungku berdegup kencang. Bersamaan dengan suara blender yang menyala. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau tadi aku sampai keceplosan. Ibu pasti semakin gencar menggodaku. Itu buruk sekali.
"Abimanyu, Kin. Namanya Abimanyu." Ibu membenarkan kalimatku. Terserah, siapapun namanya. Aku tidak peduli.
Ibu sudah memindahkan jus ke dalam gelas. Lalu menaruhnya di atas nampan.
"Iya, tadi dia kesini. Dia meminta ijin untuk mengajakmu bertemu ibunya besok. Ah ya, dia juga meminta nomormu." Aku melongo mendengar penjelasan ibu. Ada apa lagi ini?
"Ibu memberinya ijin untuk mengajakku keluar?" Tanyaku cemas.
"Tentu saja." Ibu menjawabnya dengan enteng. Lalu meninggalkanku sendirian untuk menyusul ayah ke depan. Woah, ini tidak benar. Kenapa ibu mendadak mudah melepas anak gadisnya yang sejak dulu dijaganya dengan baik dan benar ini?
Nafsu makanku hilang seketika. Aku segera merapikan meja dan kembali ke kamar. Aku mengacak rambutku dengan frustrasi. Baru bertemu hari ini dan besok dia mengajak keluar? Dia pikir dia itu siapa? Aku merubuhkan tubuhku di kasur.
Hpku berbunyi. Notifikasi messenger lagi. Laura mengirim gambar martabak manis depan kampus langganan kami.
Laura_:
"30menit lagi. Wait for us, mummy! 😘"
"30menit lagi. Wait for us, mummy! 😘"
Aku tersenyum. Laura selalu begitu. Ketika dia makan apapun yang menjadi makanan favoritku, dia tidak pernah lupa membeli untukku juga.
Me:
"Buruan! 😣"
"Buruan! 😣"
Sent.
Aku mengedipkan mataku dan mendekatkannya pada layar hp. Ternyata si seksi membalas pesanku.
Abimanyu:
"Besok aku jemput jam 9pagi. See you."
No comments:
Post a Comment